Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Kontraksi Daya Beli Minim Solusi

10/10/2024 05:00

RILIS Badan Pusat Statistik (BPS) tentang deflasi pada awal Oktober lalu kian bikin sesak hati masyarakat. Ekonomi yang cerah terasa masih jauh dari pelupuk mata.

Bagaimana tidak, BPS menyebut negeri ini tengah mengalami deflasi lima bulan berturut-turut. Dimulai dari Mei 2024 dengan deflasi sebesar 0,03%, berlanjut ke Juni 0,08%, Juli 0,18%, Agustus 0,03%, dan terakhir September 0,12%.

Sejumlah ekonom mengatakan deflasi itu terjadi akibat terus turunnya daya beli masyarakat. Bukan hanya kelompok masyarakat bawah, kini daya beli yang makin menipis itu sudah menjangkau masyarakat menengah, yakni kelompok yang disebut pemerintah jadi penopang pertumbuhan ekonomi.

Baca juga : Perlu Regulasi Larang Mudik

Di tengah pendapatan mereka yang tak naik, kelompok menengah kini tidak dapat berbuat banyak selain membelanjakannya untuk hal-hal yang prioritas. Kelompok ini kini sekuat tenaga mengerem konsumsi agar pendapatan mereka cukup untuk hidup sebulan.

Loyonya daya beli itu tergambar dari indeks harga konsumen (IHK) yang juga dirilis BPS. Dari bulan ke bulan, IHK terus turun, dari 106,37 pada Mei 2024 menjadi 105,93 pada September 2024.

Kondisi itu pun direspons pengusaha dengan mengurangi aktivitas produksi mereka. Pabrik-pabrik kini tidak berani berproduksi banyak, khawatir barang mereka tak banyak yang beli.

Baca juga : Mencegah LP dari Covid-19

Data purchasing manager’s index (PMI) manufaktur Indonesia yang dikeluarkan S&P Global menunjukkan manufaktur Indonesia terkontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Dengan skor di bawah 50, PMI manufaktur Indonesia masuk zona kontraksi mulai Juli 2024 dengan skor 49,3, Agustus 48,9, dan September yang hanya naik tipis menjadi 49,2. Lesunya industri manufaktur itu bahkan menimbulkan kekhawatiran lain, yakni terus berlanjutnya gelombang PHK para pekerja pabrik.

Tergerusnya daya beli masyarakat ke titik nadir juga ditunjukkan oleh data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menyebut saldo rata-rata kelompok rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta pada Juni 2024 mencapai Rp1,5 juta. Angka itu anjlok jika dibandingkan dengan di 2019 yang mencapai Rp3 juta.

Data tersebut menunjukkan masyarakat kelas menengah kini mulai mengambil sedikit demi sedikit tabungan mereka untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari. 'Mantab' alias makan tabungan, begitu orang sekarang memelesetkan kata ‘mantap’ yang artinya mestinya positif.

Baca juga : Paket Insentif Pengganti Mudik

Melemahnya daya beli masyarakat itu kian nyata dan belum dapat dipastikan sampai kapan berakhir. Namun, jika dibiarkan, situasi yang sudah berlangsung berbulan-bulan itu tentu bisa memancing gejolak kelas menengah, seperti yang terjadi saat krisis pada 1998.

Kendati demikian, tentu saja selalu ada harapan di balik kesulitan. Bank Dunia baru saja merilis proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dalam proyeksi itu, ekonomi Indonesia mampu tumbuh di 2024 dan 2025 pada atau di atas tingkat sebelum pandemi covid-19. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5% pada 2024 dan 5,1% pada 2025. Angka itu tak jauh berbeda dengan pertumbuhan di periode 2015-2019 atau sebelum pandemi, yakni 5%.

Proyeksi pertumbuhan tersebut menjadi harapan segera membaiknya daya beli masyarakat. Pertumbuhan yang lebih banyak mengandalkan konsumsi tentu membutuhkan daya beli yang stabil atau bahkan lebih kuat lagi. Di sini pemerintah tak boleh asal bikin kebijakan. Misalnya, demi meningkatkan pendapatan negara, pemerintah menaikkan tarif pajak dan cukai atas objek-objek yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan orang banyak.

Penaikan itu tentu saja akan menyurutkan konsumsi masyarakat di tengah pendapatan yang masih pas-pasan. Pemerintah juga dituntut segera membuat formula baru agar dunia usaha kembali menggeliat. Selain perlunya mengeluarkan kebijakan-kebijakan insentif, pemerintah juga harus berkolaborasi bersama Bank Indonesia agar suku bunga kredit tetap bersahabat dengan dunia usaha.

Tujuannya tak lain agar pengusaha mulai berani berekspansi, dan tentu saja pabrik-pabrik manufaktur yang ada di dalamnya kembali beroperasi normal. Tak kalah penting, pabrik-pabrik padat karya yang sempat tutup dapat menyalakan lagi mesin-mesin mereka.

 



Berita Lainnya
  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.