Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

PON Kehilangan Kebanggaan

23/9/2024 05:00

RAPOR merah mesti kita berikan untuk penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Aceh-Sumatra Utara atau PON 2024. Catatan buruk perhelatan PON yang disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah itu berderet begitu panjang. Banyaknya rekor yang dipecahkan para atlet pun tak mampu menutupi buruknya pelaksanaan PON 2024.

Disebut terbesar karena PON 2024 mengikutkan sebanyak 12.919 atlet. Rekor sebelumnya dicatat PON Riau 2012 yang diikuti sekitar 11.000 atlet. Anggarannya pun termasuk salah satu yang terbesar. Untuk penyelenggaraan PON 2024, pemerintah total menganggarkan Rp3,94 triliun. APBN menyumbang Rp2,2 triliun, ditambah dari APBD dua provinsi, yakni Aceh dan Sumatra Utara, sebesar Rp1,74 triliun.

Namun, dengan fakta-fakta 'kebesaran' itu, panitia penyelenggara PON 2024 rupanya tak punya jiwa dan kesungguhan besar untuk mempersiapkan kompetisi olahraga antarprovinsi itu dengan baik. Hasilnya ialah catatan minus yang begitu mendominasi. Mulai dari berantakannya akomodasi untuk atlet dan ofisial, konsumsi yang tak layak, hingga venue perlombaan yang amburadul.

Baca juga : Perlu Regulasi Larang Mudik

Selain faktor ketidaksiapan, patut diduga ada penyelewengan anggaran sehingga dana triliunan rupiah yang digelontorkan tidak menghasilkan penyelenggaraan yang optimal. Hal itu terekam dari testimoni sejumlah pengurus KONI daerah yang tak ragu ‘menahbiskan’ penyelenggaraan PON 2024 sebagai yang terburuk sepanjang sejarah pesta olahraga nasional tersebut.

Di sektor apa pun, anggaran besar selalu memunculkan godaaan. Tak terkecuali di bidang olahraga. Bukan tidak mungkin, jika melihat amat jomplangnya perbandingan anggaran dengan fasilitas dan sarana-prasarana yang disiapkan, patut diduga sebagian dana PON 2024 itu diselewengkan dengan ugal-ugalan. Barangkali pula sebagian dana itu menjadi bancakan pihak-pihak di lingkup penyelenggaraan perhelatan olahraga bertaraf nasional itu.

Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi Satuan Tugas (Satgas) untuk Pendampingan Tata Kelola PON yang baru-baru ini dibentuk berdasarkan perintah Presiden Joko Widodo. Kita harapkan satgas bersama kepolisian bisa mengungkap secara tuntas dugaan penyelewengan yang menyebabkan semrawutnya PON 2024.

Baca juga : Mencegah LP dari Covid-19

Tidak hanya itu, publik dan masyarakat olahraga, termasuk atlet dan ofisial merasa kecewa, marah terhadap penyelenggaraan PON 2024 akibat begitu telanjangnya praktik pengabaian sportivitas dilakukan. Pengejaran kemenangan demi gengsi daerah, terutama tuan rumah, kerap diwarnai dengan ketidakjujuran, kecurangan, dan cara-cara tidak sportif lain. Publik bisa menyaksikan kecurangan nyata-nyata terjadi di sejumlah cabang olahraga, seperti di sepak bola, tinju, dan anggar.

Padahal tujuan utama PON digelar sejatinya untuk mencari bibit atlet berbakat dalam bingkai kompetisi multiajang yang meninggikan sportivitas dan kualitas. PON bukan sekadar ajang perebutan medali, melainkan juga cerminan dari upaya membangun prestasi olahraga nasional. PON semestinya menjadi tonggak awal untuk merenda prestasi dunia melalui kompetisi nasional.

Karena itu, kita mendesak harus ada evaluasi dan audit total untuk penyelenggaraan PON 2024 di Aceh dan Sumut. Kebanggaan nasional yang seharusnya terwujud dalam ajang seperti PON mesti dikembalikan. Jangan sampai masyarakat, apalagi atlet, menjadi antipati dengan PON lantaran makin ke sini, alih-alih kian bagus penyelenggaraannya, malah makin berantakan.

Evaluasi mesti segera dirampungkan mengingat pada empat tahun mendatang, kita akan kembali bertemu dengan PON Nusa Tenggara 2028. Sekali lagi kita ingin mengingatkan pemerintah, baik pusat maupun daerah, belajarlah dari rapor merah penyelenggaraan PON 2024. Sesungguhnya tidak ada alasan soal kesiapan mengingat pelaksanaan PON sudah ditentukan sejak jauh hari.

Tugas besar pemerintah untuk mengembalikan spirit dan kebanggaan PON seperti ketika pertama kali diselenggarakan pada 1948 silam. Kalau pada akhirnya PON hanya menjadi tempat buang-buang anggaran tanpa hasil nyata, PON hanya menjadi ajang unjuk ketidakjujuran, jangan salahkan suara-suara publik yang mempertanyakan, apa PON masih dibutuhkan?

 



Berita Lainnya
  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.