Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Tantangan Berat seusai Muktamar

24/12/2021 05:00
Tantangan Berat seusai Muktamar
(MI/Duta)

 

 

MUKTAMAR Ke-34 Nahdlatul Ulama di Lampung bisa disebut sebagai muktamar yang paling punya nilai strategis jika kita memandangnya dari sudut peneropongan atas masa depan NU. Muktamar kali ini boleh jadi akan menentukan arah dan gerak organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu di seratus tahun usianya.

Ya, NU yang lahir pada 1926 akan berusia seratus tahun alias satu abad pada 2026 mendatang. Muktamar Lampung digelar kurang dari lima tahun menuju perayaan umur seabad itu. Artinya, kepengurusan PBNU yang dihasilkan dari muktamar kali inilah yang akan menyiapkan sekaligus mengantarkan organisasi mengarungi kencangnya dinamika di abad kedua usia NU.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih, yang diamanahi memimpin NU lima tahun ke depan, tantangannya pasti jauh lebih berat. Ia tidak saja harus tekun merawat, mengelola, dan menjaga internal NU agar tidak mudah terseret dalam sengketa politik praktis atau politik yang berorientasi kekuasaan.

Tak sampai tiga tahun dari sekarang, Republik ini akan memasuki tahun politik. Di situlah titik krusial apakah NU dengan kepengurusan yang terpilih ini mampu menjaga jarak dengan politik kekuasaan sebagai implementasi dari spirit kembali ke Khittah 1926 atau justru (lagi-lagi) masih terjebak dalam akrobatisasi politik praktis.

Dalam hal ini memang tak sepenuhnya dosa kaum nahdliyin. Organisasi dengan basis kultural dan massa yang sangat besar seperti NU pasti selalu jadi incaran para petarung politik, di dalam maupun di luar organisasi, untuk menyeret dan menjadikannya basis kekuatan. Karena itu, kepemimpinan menjadi isu penting, terutama dalam kaitannya dengan upaya menjaga NU agar tidak mudah didorong ke jurang politik praktis.

Langkah itu sebetulnya bukan berarti menjadikan NU apolitis. Berpolitik tetaplah sebuah kewajaran, bahkan keniscayaan, tetapi akan jauh bermartabat buat NU jika mereka melakukan politik tingkat tinggi (high politics). Politik yang berbasis kebangsaan dan kerakyatan, politik yang merekatkan persatuan, dan politik yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Keberhasilan menjaga jarak dari politik kekuasaan yang berjangka pendek juga akan membuat NU lebih fokus menghadapi tantangan lain yang memiliki spektrum waktu lebih panjang. Globalisasi dan kencangnya perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi, menjadi isu yang tak boleh dilepaskan dari fokus NU jika ingin meningkatkan kiprahnya di masa depan.

Banyak tokoh muda NU yang sudah menyuarakan agar di usia seratus tahun keduanya, NU tak lagi hanya berkonsentrasi pada isu-isu lokal, tapi juga mulai berperan aktif merespons isu global. Teramat disayangkan bila kekuatan besar organisasi ini, termasuk dengan 137 cabang istimewa NU di seluruh dunia, hanya menghabiskan konsentrasinya untuk agenda lokal atau nasional.

Ini bukan sekadar soal politik. Keinginan kaum muda nahdliyin itu bahkan lebih menemukan relevansi ketika kita mengaitkannya dengan perkembangan teknologi yang amat cepat mengiringi isu globalisasi. Hari-hari ini kita bisa lihat kemajuan teknologi telah membawa dunia menjadi tanpa batas atau diistilahkan dengan global village.

Semua negara kini fokus meninggikan teknologi supaya tak tertinggal dalam percaturan global yang kian dinamis. NU sebagai bagian penting Indonesia, dengan kekuatan kulturalnya yang luar biasa, kiranya bisa mengambil peran besar untuk itu. Bayangkan saja, misalnya 23 ribu lebih pesantren NU dijadikan semacam center of knowlegde atau center of technology, betapa kuatnya basis teknologi kita.

Tantangan-tantangan lintas zaman seperti inilah yang juga mulai harus menjadi fokus kepengurusan PBNU hasil Muktamar Lampung. NU secara organisasi mesti mampu mengantarkan warga nahdliyin menuju era baru, era transformasi teknologi.



Berita Lainnya
  • Kembalikan Hak Sehat Rakyat

    10/2/2026 05:00

    SEBELAS juta jiwa tentu bukan angka yang kecil.

  • Gaji Naik, Moral Menukik

    09/2/2026 05:00

    WAJAH peradilan negeri ini sungguh menyedihkan. Kasus rasuah lagi-lagi memberikan tamparan keras.

  • Timnas Futsal di Titik Awal Menuju Puncak

    07/2/2026 05:00

    KEBERHASILAN tim nasional futsal Indonesia menembus final Piala Asia Futsal 2026 menandai sebuah babak penting dalam sejarah olahraga nasional.

  • Ekonomi Mulai di Zona Terang

    06/2/2026 05:00

    KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.

  • Alarm Pengelolaan Sampah

    05/2/2026 05:00

    BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.

  • Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

    04/2/2026 05:00

    SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.

  • Meneruskan Ambang Batas Parlemen

    03/2/2026 05:00

    KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.

  • Tindak Aksi Kemplang Pajak

    02/2/2026 05:00

    DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.

  • Benahi Bursa Efek Indonesia

    31/1/2026 05:00

    KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.

  • Jangan Ulangi Kasus Hogi

    30/1/2026 05:00

    DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.

  • Memangkas BBM Subsidi Berbasis Keadilan

    29/1/2026 05:00

    PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

  • Menunggu Bukti Aksi Purbaya

    28/1/2026 05:00

    BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.

  • Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

    27/1/2026 05:00

    Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.

  • Lalai Mencegah Bencana

    26/1/2026 05:00

    NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.

  • Akhiri Menyalahkan Alam

    24/1/2026 05:00

    BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.

  • Pencabutan Izin bukan Ajang Basa-basi

    23/1/2026 05:00

    PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.