Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Jangan Khianati Rakyat

04/12/2021 05:00
Jangan Khianati Rakyat
Ilustrasi MI(MI/Duta)

 

 

SEORANG pejabat sejatinya adalah pelayan. Tugasnya melayani dan mengayomi masyarakat tanpa pandang bulu. Terlebih jika ia seorang penegak hukum, harus berlaku adil.

Penegak hukum tidak semestinya menempatkan hukum seperti mata pisau; tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Oleh karena itu, tepat kiranya Presiden Joko Widodo mengingatkan Polri untuk bertindak tegas dalam menjalankan tugas tanpa tebang pilih.

“Gigit siapa pun yang terbukti melakukan tindak kejahatan kepada negara juga masyarakat," tukas Presiden dalam pengarahan kepada para Kepala Satuan Wilayah (Kasatwil) 2021 di Kabupaten Badung, Bali, kemarin.

Instruksi yang disampaikan Presiden ini terkait dengan kegusarannya melihat kian menurunnya tingkat kepuasan publik di bidang hukum. Presiden menyebut kepuasan publik terhadap kondisi penegakan hukum pada tahun ini menurun jika dibandingkan dengan di 2020 dan 2019.

Persepsi masyarakat terhadap para penegak hukum, kata dia, tecermin dari perilaku dan perlakuan para pejabat atau aparat penegak hukum itu sendiri. Apakah mereka telah berlaku adil dan tidak memihak golongan atau kelompok tertentu.

Oleh karena itu, Presiden pun mengkritik kebiasaan kapolda maupun kapolres baru yang kerap sowan ke ormas yang bahkan dikenal kerap berbuat onar. Tindakan itu, selain tidak mencerminkan kewibawaan, juga dapat menimbulkan kesan berpihak.

Kritik yang disampaikan Presiden kiranya hal yang wajar. Sudah saatnya aparat maupun pejabat bersikap profesional. Jangan ada lagi oknum yang terlibat mafia hukum, menjual senjata kepada separatis, atau melindungi ormas-ormas tertentu.

Tugas mereka ialah melindungi rakyat, bukan segelintir orang atau kelompok yang justru sering bermasalah dan kerap berbuat rusuh. Kewibawaan aparat dipertaruhkan di sini. Hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya. Hanya dengan cara itu rakyat bakal kembali percaya kepada aparat.

Namun, dalam melaksanakan ketegasan di lapangan, aparat juga mesti menghormati hak asasi. Jangan merampas hak kebebasan berbicara. Sedikit-sedikit main panggil mereka yang mengkritik pemerintah. Hormati kebebasan berpendapat dan serap aspirasi mereka. Rakyat, terutama mereka yang terpinggirkan dalam hukum, semestinya juga dibantu dan dilindungi.

Jangan sampai ada persepsi aparat bersikap diskriminatif, hanya melindungi mereka yang punya harta dan takhta, tapi menelantarkan dan menindas yang papa.

Sekali lagi harus diingatkan, pejabat ataupun aparat adalah pelayan bagi semua. Dia tidak boleh bertindak untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu, apalagi untuk kepentingan diri sendiri.

Pejabat atau aparat justru harus rela berkorban demi kebaikan kehidupan bersama. Prinsip dan spirit semacam ini seharusnya dimiliki oleh semua aparatus negara, mulai pimpinan tertinggi negara hingga di lingkup RT/RW.

Semua harus bersikap dan bertindak profesional, bukan lagi sektarian. Seorang pejabat ataupun aparat harus jadi rahmat bagi semua orang, bukan malah jadi public enemy alias musuh masyarakat. Jangan khianati kepercayaan mereka.



Berita Lainnya
  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.