Senin 22 Maret 2021, 05:00 WIB

Jalur Benar Atasi Covid-19

Administrator | Editorial
Jalur Benar Atasi Covid-19

MI/Seno
.

 

 

PENANGANAN pandemi covid-19 berada di jalur yang benar. Tingkat kepercayaan dan partisipasi masyarakat atas vaksinasi dan mematuhi protokol kesehatan semakin menggembirakan.

Menggembirakan, karena berdasarkan polling yang dilakukan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Februari 2021, tercatat 94% responden memercayai vaksinasi. Angka ini meningkat ketimbang hasil polling September 2020 yang hanya sekitar 60% percaya proses vaksinasi covid-19.

Meraih kepercayaan masyarakat bukan semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kerja nyata, bukan cuma cuap-cuap. Kerja nyata pemerintah terkait dengan vaksinasi menuai apresiasi.

Asosiasi pers Indonesia, di antaranya Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas program vaksinasi covid-19 untuk para wartawan.

Kesigapan pemerintah melakukan vaksinasi manula juga mendapatkan pujian. Para manula berbondong-bondong ingin mendapatkan vaksin. Mereka mengaku cukup puas atas pelayanan vaksinasi.

Tugas pemerintah selanjutnya ialah terus merawat kepercayaan dan kepuasan masyarakat. Di samping itu, pemerintah tetap fokus mempercepat proses vaksinasi sehingga memenuhi target yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Target vaksinasi 181,5 juta jiwa dalam kurun waktu 12 bulan selesai atau 1 juta orang harus divaksinasi tiap hari. Agar tercapai kekebalan kelompok, dibutuhkan kurang lebih sebanyak 468,8 juta dosis vaksin. Dibutuhkan kerja jauh lebih keras lagi untuk memenuhi target tersebut.

Meski sebentar lagi memasuki puasa, vaksinasi tetap berjalan setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa. Isi Fatwa MUI adalah vaksinasi covid-19 yang disuntikkan melalui intramuskular tidak membatalkan ibadah puasa yang dijalankan.

Target vaksinasi hanya bisa tercapai bila semua pihak berkolaborasi. Segenap unsur, dari pemerintah pusat, daerah, hingga tingkatan terkecil seperti kelurahan dan desa mesti bergandengan tangan dan berderap langkah sama.

Memerangi pandemi covid-19 bukan hanya tugas pemerintah. Setiap warga hendaknya ikut berpartisipasi. Patut diapresiasi atas peran serta masyarakat mematuhi protokol kesehatan.

Dari 423 kabupaten/kota, sebanyak 115 atau 27,19% memiliki tingkat kepatuhan memakai masker yang tinggi, yaitu di kisaran 91% sampai 100%. Sementara itu, 17,97% atau 76 kabupaten/kota masih memiliki tingkat yang rendah atau di bawah 60%.

Kolaborasi semua pihak mulai membawa hasil, pergerakan covid-19 melandai. Dalam satu bulan terakhir ini, persentase kasus aktif, persentase kesembuhan, dan persentase kematian menunjukkan perkembangan yang membaik. Per 18 Maret, tingkat kasus aktif di Indonesia ialah 9,12%, lebih baik dari rata-rata dunia yang berada di 17,23% meski untuk tingkat kematian 2,71%, sedikit lebih tinggi dari rata-rata dunia yang berada di 2,21%.

Tidak ada kata lelah memerangi covid-19. Dalam konteks itu, kita bisa memahani keputusan pemerintah untuk memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat berbasis skala mikro (PPKM Mikro). Perpanjangan mulai 23 Maret sampai dengan 5 April 2021 di 15 provinsi.

Eloknya, melawan pandemi covid-19 menggunakan taktik perang rakyat semesta. Seluruh strategi digunakan dengan melibatkan semua rakyat secara aktif tanpa terkecuali.

Baca Juga

MI/Duta

Ibadah Sehat selama Ramadan

👤Administrator 🕔Senin 12 April 2021, 05:00 WIB
RAMADAN tahun ini masih dalam suasana pandemi...
MI/Duta

Perlu Dicegah Curi Start Mudik

👤Administrator 🕔Sabtu 10 April 2021, 05:00 WIB
PEMERINTAH telah melarang aktivitas mudik Lebaran 2021 pada 6-17 Mei...
MI/DUTA

Meneguhkan Solidaritas Bangsa

👤Administrator 🕔Jumat 09 April 2021, 05:00 WIB
Solidaritas kemanusiaan itu tanpa batas dan tanpa sekat. Semangat so­li­daritas itu menggerakkan nurani untuk membantu mencari...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Salah Kaprah Salurkan Energi

Kenakalan remaja pada masa lalu hingga masa kini masih ada, bahkan semakin meninggi. Itu terjadi karena remaja sering kali mementingkan solidaritas grup.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya