Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA DPR di negeri ini diberi predikat sebagai ‘orang-orang terhormat’. Disebut orang terhormat karena intelektualitas, perilaku, moralitas, dan tutur katanya memang di atas rata-rata rakyat yang diwakilinya.
Karena itu, jika ada wakil rakyat yang tutur katanya seperti preman di pasar, rakyat pasti kecewa. Meski salah satu tugas anggota DPR ialah bicara, jangan pula mengumbar omongan semaunya. Ada aturan, ada tata krama.
Tutur kata dan tata krama itulah yang disoroti dalam rapat dengar pendapat Komisi VII DPR dengan holding BUMN tambang atau MIND ID. Holding itu menaungi lima perusahaan industri tambang milik negara, yaitu PT ANTAM Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Inalum (persero), dan PT Timah Tbk. Rapat digelar di Gedung DPR, Senayan, Selasa (30/6).
Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Mohammad Nasir, mengusir Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Orias Petrus Moedak. Sambil menggebrak meja dan melontarkan kalimat ‘kurang ajar’, Nasir menyuruh Orias keluar dari ruang rapat.
Entah apa yang menyulut Nasir berbicara kasar dan mengancam akan menyurati Menteri BUMN Erick Thohir untuk mencopot Orias. Pasalnya, dari rekaman video rapat itu, tidak ada yang mengganjal dari jawaban dan pernyataan Orias. Nasir bertanya soal jaminan utang Inalum, dijawab Orias bahwa utang dengan penerbitan obligasi tanpa agunan.
Nasir sepertinya tidak terima atas jawaban Orias bahwa utang dengan penerbitan obligasi memang tanpa agunan. Suasana di ruang rapat makin memanas ketika Nasir meminta data lengkap mengenai global bond yang telah diterbitkan. Ia bahkan meminta Orias untuk meninggalkan ruangan sebab tidak membawa data yang diminta.
Orias pun langsung menanggapi pernyataan Nasir tersebut. “Kalau Bapak suruh keluar, izin pimpinan, saya keluar,” kata Orias. Saat mendengar jawaban tersebut, Nasir langsung membentak Orias sembari menggebrak meja. “Bapak bagus keluar karena enggak ada gunanya Bapak rapat di sini,” kata Nasir dengan nada tinggi.
Harus tegas dikatakan bahwa perdebatan panas di ruang rapat itu akibat buruknya pengetahuan soal obligasi dan seluk-beluk pasar modal. Dipikir bahwa berutang di pasar modal itu pasti pakai jaminan sehingga berisiko jaminannya nanti disita.
Eloknya, fraksi yang merupakan perpanjangan tangan partai politik itu menempatkan orang yang tepat untuk setiap komisi sehingga tidak salah kaprah. Sudah salah kaprah, ngotot lagi sambil mempertontonkan arogansi.
Usai marah-marah dan usir mitra kerja, di ujung rapat justru anggota dewan bicara soal tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR). Anggota DPR minta agar BUMN berkoordinasi dengan Sekretariat Komisi VII untuk bisa CSR itu disalurkan ke daerah pemilihan anggota komisi tersebut.
Bukan kali ini saja anggota Komisi VII DPR minta dilibatkan dalam penyaluran CSR. Dalam rapat dengar pendapat dengan PT Pertamina (persero) pada Januari lalu, Nasir secara terbuka meminta CSR setelah sebelumnya marah-marah dan meminta sekretaris perusahaan itu dicopot dengan alasan parah kinerjanya.
Sama sekali tidak ada dasar hukumnya anggota DPR mengemis-ngemis untuk dilibatkan dalam penyaluran CSR. BUMN diharapkan mengabaikan permintaan CSR dan tidak tunduk kepada pesanan politik seperti itu.
Marah-marah berujung permintaan CSR tidak lebih dari sebuah sandiwara memalukan. Jika benar seperti itu, anggota DPR terhormat telah menggadaikan kewenangan konstitusional
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved