Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Mengonkretkan Pancasila

02/7/2020 05:00

PERLUKAH Pancasila diperas, dimonopoli tafsirnya, bahkan diragukan kefinalannya? Secara lisan, pasti tidak ada yang akan menjawab perlu. Akan tetapi, secara faktual, ada upayaupaya ke arah itu.

Dengan dalih memperkuat, tapi senyatanya justru menjauhkan Pancasila dari spirit dan konsensus para pendiri bangsa saat melahirkan dasar negara itu.

Ya, kita bicara tentang Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang hari ini akan dibahas bersama legislatif dengan eksekutif. Artinya, nasib RUU usulan DPR yang amat kontroversial itu akan ditentukan hari ini. Apakah akan diteruskan atau akan disetop, lalu dibatalkan

Mayoritas publik, seperti tergambar dari respons negatif masyarakat terhadap RUU HIP belakangan ini, menolak pembahasan RUU itu dilanjutkan.

Publik menolak jika Pancasila yang sebetulnya sudah abstrak ingin lebih diabstrakkan lagi melalui tafsir-tafsir yang ambigu, melalui ‘pemerasan’ sila yang serampangan, dan lain-lain.

Padahal, dengan keabstrakan Pancasila yang luhur itu, ada tugas lebih besar yang mesti dilakukan bangsa ini, yakni menghadirkan Pancasila secara nyata di tengah-tengah masyarakat.

Negeri ini sejatinya lebih membutuhkan teladan untuk membumikan Pancasila agar tak melulu dianggap tidak konkret dan mengawang- awang.

Kita pernah mengalami masa Orde Baru yang pola pembinaan Pancasilanya penuh dengan indoktrinasi dan sesuai selera penguasa. Banyak yang hafal teks Pancasila, tapi banyak pula yang tak becus mengamalkan dan mengimplementasikannya. Tidak kurang banyak juga yang malah bangga mempertontonkan perilakumenyimpang dari nilai-nilai Pancasila.

Itulah yang seharusnya menjadi landasan DPR ketika ingin membuat undang-undang tentang Pancasila. Jangan utak-utik yang prinsip karena sebetulnya Pancasila sebagai falsafah negara punya kedudukan di atas undang-undang.

Jika mau atur, aturlah hal-hal yang lebih teknis dan menggerakkan partisipasi publik terkait pembinaan, sosialisasi nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat.

Karena itu, kita ingin menyampaikan pesan kepada DPR dan pemerintah yang hari ini membahas RUU HIP, sebaiknya batalkan saja RUU itu.

Mulailah menjadi teladan dengan mau mendengar suara rakyat sebelum menentukan hal atau keputusan besar. Jangan malah menjadi ‘preman’ yang selalu memaksakan semua mau dan keinginannya.

Kalaupun tidak betul-betul dibatalkan, kembalikan RUU HIP itu ke nomenklatur awal menjadi RUU Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP).

Langkah itu sangat mungkin tidak akan memantik polemik karena isi RUU PIP lebih mengatur wewenang, tugas, dan fungsi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam pembinaan ideologi bangsa.

BPIB memang sebaiknya diatur dengan undang-undang ketimbang hanya diatur dengan peraturan presiden yang bersifat politik hukum dan diskresi presiden.

Namun, jangan lupa, libatkan juga partisipasi masyarakat sejak awal. Dengan begitu, produk undang-undang yang akan dihasilkan bukan lagi ‘kaleng-kaleng’, melainkan teruji secara publik.

Kita memang punya BPIP, tetapi bukan berarti kita harus menggantungkan semua urusan penguatan dan pembumian Pancasila kepada lembaga tersebut.

Pelibatan masyarakat sedari awal akan menjadi penanda bahwa penguatan Pancasila, secara ideologi maupun implementasi, memang harus dilakukan semua elemen bangsa.

Namun, sekali lagi, untuk memulai semua langkah positif itu, setop dulu pembahasan RUU HIP daripada kita akan kehabisan energi karena sibuk mendebatkannya.

 

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.