Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
DUGAAN persekusi dan diskriminasi atas etnik Uighur di Provinsi Xinjiang, Tiongkok, telah berkembang menjadi isu panas dalam beberapa waktu terakhir ini. Bukan hanya di dunia internasional, persoalan terkait dengan Uighur juga telah berkembang menjadi topik hangat di dalam negeri.
Isu sentralnya ialah pemerintah Tiongkok, menurut pemberitaan yang berkembang luas, baik di media sosial maupun media arus utama dalam dan luar negeri, diduga telah menjalankan praktik persekusi, diskriminasi, dan bahkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di Xinjiang.
Dalam beberapa konteks dan dimensi, kita memandang persoalan Uighur ini merupakan isu sensitif sekaligus kompleks yang membutuhkan pendekatan cepat dan tepat dalam meresponsnya. Dari segi kemasyarakatan, isu Uighur ini harus kita catat memiliki koherensi dan proximity dengan kondisi dalam negeri kita.
Seperti mayoritas penduduk Indonesia, warga Uighur sebagian besar beragama Islam. Dapat dipahami jika kemudian ada kaitan psikologis dalam perspektif hubungan kemasyarakatan antara warga Uighur dan masyarakat Indonesia yang sama-sama mayoritasnya beragama Islam.
Akan tetapi, dalam sudut pandang kenegaraan dan pemerintahan, persoalan Xinjiang ini harus ditekankan merupakan persoalan dalam negeri Tiongkok.
Sebagai negara berdaulat yang menghormati kedaulatan bangsa dan negara lain, tentu Indonesia wajib menghormati hak dan otoritas negara lain dalam menyelesaikan persoalan dalam negerinya sendiri.
Seperti Indonesia, Tiongkok tentu memiliki cara dan gaya sendiri dalam menyelesaikan persoalan dalam negeri. Jika Indonesia ingin dihormati negara lain, saat menyelesaikan kasus separatisme yang dilakukan Organisasi Papua Merdeka di Papua, misalnya, hal yang sama juga harus dilakukan Indonesia saat negara lain menyelesaikan persoalan dalam negeri mereka.
Terkait dengan isu Uighur, pemerintah Tiongkok telah menyatakan persoalan di Xinjiang merupakan masalah separatisme dan terorisme di dalam negeri mereka.
Karena itu, kita nilai pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang menegaskan Indonesia tidak akan campur tangan atau intervensi dalam persoalan Uighur sudah tepat. Begitu pula dengan penegasan dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD yang menyatakan Indonesia akan melakukan diplomasi lunak dalam isu Uighur.
Pernyataan Moeldoko dan Mahfud tersebut sempat dipersepsikan berbeda dan dimaknai oleh sementara kalangan sebagai 'perpecahan' di kabinet. Namun, kita pandang pernyataan kedua pejabat negara itu tidak bertolak belakang, tetapi justru saling melengkapi.
Begitu pun, kita mendorong agar pemerintah melakukan diplomasi yang lebih cerdas dalam isu Uighur. Berbeda dengan pendekatan negara-negara Barat, kita sepakat untuk bersikap lebih proporsional saat merespons isu ini. Kita tentu tidak boleh campur tangan dan mengintervensi perihal gaya kebijakan dalam negeri pemerintah Tiongkok.
Akan tetapi, di lain sisi, kita juga tidak boleh menutup mata jika di Xinjiang benar-benar terjadi pelanggaran HAM berat. Kita mendorong semua negara untuk menghormati hak warganya dalam menjalankan ibadah keagamaan.
Dalam konteks inilah, kita setuju jika Indonesia ikut mendorong dilakukannya verifikasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas dugaan pelanggaran HAM berat di Xinjiang. Opsi itu jelas lebih kontekstual sekaligus lebih proporsional. Apalagi, posisi Indonesia di PBB saat ini sangat strategis, yakni sebagai anggota Dewan Keamanan dan Dewan HAM PBB.
Banyak cara untuk menyampaikan kepedulian terhadap satu isu, tidak selalu harus dengan berteriak atau megaphone diplomacy. Itulah yang disebut diplomasi cerdas.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved