Jumat 11 Oktober 2019, 05:00 WIB

Jalan Pilihan Teroris

Administrator | Editorial

PERISTIWA penusukan terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, Keamanan Wiranto yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Pandeglang, Banten, membuat banyak pihak terkejut. Terlebih ketika polisi menduga bahwa kedua pelaku terkait dengan jaringan terorisme. 

Hal pertama yang mengusik ialah bagaimana seorang pejabat negara seperti itu mudahnya diserang secara fisik oleh orang di luar lingkungan tim sang pejabat. Kedua, informasi bahwa pejabat negara menjadi sasaran terorisme bukan sesuatu yang baru. Teroris selalu berusaha menjangkau pihak-pihak yang dianggap mewakili negara. 

Dengan begitu, kewaspadaan aparat otomatis meningkat ketika mengamankan kegiatan pejabat negara. Nyatanya, pengamanan mudah dibobol. Sama sekali tidak ada petugas keamanan yang menyangka bahwa dua pelaku yang berdiri cukup dekat dari posisi Wiranto bakal menyerang. 

Kita semakin terkejut saat dalam jangka waktu pendek pihak berwenang langsung mengetahui identitas pelaku utama dan afiliasinya terhadap jaringan terorisme di Bekasi. Bukan soal cepatnya pengungkapan identitas mereka, melainkan aparat keamanan selama ini sudah memantau pergerakan kelompok terorisme yang menaungi pelaku. 

Abu Rara, sebutan si pelaku, merupakan bagian dari kelompok Jamaah Ansarud Daulah (JAD) di Bekasi. Menurut Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, Syahril Alamsyah alias Abu Rara terdeteksi sebelumnya merupakan anggota JAD Kediri hingga pindah ke Bogor. Namun, deteksi itu ternyata tidak bisa membantu mencegah serangan terhadap pejabat negara.

Kepala BIN menyatakan pola serangan yang dilakukan dengan sistem sel atau orang per orang membuat aparat kesulitan mendeteksi untuk pencegahan. Budi Gunawan lantas meminta bantuan masyarakat untuk mengenali bibit-bibit terorisme di sekitar lingkungan tempat tinggal. 

Pertanyaannya, jika aparat saja tidak mampu mengenali sel terorisme saat mereka hendak menyerang di tempat terbuka, padahal pergerakannya sudah terdeteksi, bagaimana dengan orang awam? Apalagi, Wiranto baru-baru ini juga menjadi salah satu dari empat tokoh yang diancam dibunuh. Patut diduga ada kelengahan aparat yang membuka lebar pintu serangan para teroris.

Peristiwa penusukan terhadap Wiranto, kemarin, sekaligus mengingatkan kita bahwa radikalisme yang menjadi akar terorisme benar-benar nyata dan masih hadir di antara kita. Mereka akan terus-menerus menebar ketakutan melalui aksi kekerasan. Cara-cara itu lekat dengan orang-orang yang tidak segan memaksakan kehendak agar keinginan mereka terpenuhi.

Teroris menolak saluran demokrasi dan memilih jalan kekerasan karena landasan ideologi. Memaksakan kehendak dengan aksi kekerasan juga yang paling mudah dilakukan. Berbeda dengan berdemokrasi yang memerlukan kepatuhan menaati peraturan perundangan di bawah naungan konstitusi. 

Dalam berdemokrasi perlu kepiawaian meyakinkan orang lain dengan menggugah kesadaran, bukan memancing ketakutan ataupun kemarahan. Berdemokrasi tidak hanya melulu meminta hak-hak kita dihormati, tetapi juga menghargai hak orang lain. 

Teroris memilih menusuk dengan pisau untuk meraih tujuan, sedangkan pejuang demokrasi menusuk dengan gagasan.
 

Baca Juga

MI/Duta

Melawan Covid-19 dengan Nilai Pancasila

👤Administrator 🕔Senin 01 Juni 2020, 05:00 WIB
PERINGATAN hari lahir Pancasila pada hari ini berlangsung dalam suasana pandemi...
MI/DUTA

Produk Wisata di Era New Normal

👤Administrator 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 05:00 WIB
PARIWISATA merupakan salah satu sektor paling terdampak oleh pandemi...
MI/Duta

Keselamatan Siswa Jadi Pertimbangan

👤Administrator 🕔Jumat 29 Mei 2020, 05:00 WIB
PEMBUKAAN kembali sekolah perlu dipersiapkan secara...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya