Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Usut Tuntas Dalang 22 Mei

28/5/2019 05:05

AKSI kerusuhan 21 dan 22 Mei 2019 bukanlah unjuk rasa biasa. Aksi itu justru jauh dari bentuk kebebasan berpendapat seperti yang memang dilindungi undang-undang.

Hal itu terbukti dari berbagai temuan yang terus didapatkan kepolisian. Terbaru pada Senin (27/5), polisi mengungkapkan ada perintah pembunuhan terhadap empat tokoh nasional yang dijalankan pelaku kerusuhan. Selain itu, ada perintah pembunuhan terhadap seorang pemimpin lembaga survei.

Hal itu didapatkan dari penangkapan enam orang yang saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Masing-masing memiliki peran berbeda dalam plot pembunuhan itu dan menerima uang mulai Rp25 juta hingga Rp150 juta. Bersama mereka ditemukan pula senjata ilegal.

Sebelum itu berbagai temuan mengindikasikan adanya operasi bejat terencana. Polisi setidaknya mengidentifikasi tiga kelompok perusuh berada di luar massa pengunjuk rasa damai di depan Bawaslu.

Ketiga kelompok itu terdiri atas kelompok preman bayaran, kelompok penembak jitu, dan kelompok gerakan radikal. Jumlah mereka mencengangkan, setidaknya 452 orang sudah ditangkap polisi.

Ketika ditangkap, mereka memang berpenampilan jauh dari selayaknya kelompok yang memperjuangkan aspirasi politik. Tidak hanya tubuh penuh tato, mulut mereka juga berbau alkohol.

Jejak rencana bejat yang melatari kelompok ini mudah pula diendus. CCTV di sejumlah tempat merekam kedatangan para perusuh itu secara berkelompok dan dugaan praktik bayaran.

CCTV di sekitar Stasiun Tanah Abang memperlihatkan ada pembagian amplop kepada kelompok perusuh begitu tiba. Sementara itu, di Jalan MH Thamrin, terekam ambulans menurunkan kelompok massa dan kemudian membagikan amplop.

Belum diketahui apakah ambulans itu sama dengan ambulans berlogo salah satu parpol yang sudah diamankan polisi karena kedapatan membawa batu untuk 'amunisi' kerusuhan.

Sederet fakta itu menguatkan dugaan ada kelompok yang memang ingin memanfaatkan aksi 22 Mei untuk menciptakan kekacauan. Bahkan, dugaan untuk menciptakan martir dan memicu kemarahan terhadap kepolisian juga tidak dapat disepelekan sebab terdapat pula dugaan penyelundupan senjata jenis senapan serbu M4 yang direncanakan disuplai untuk aksi tersebut.

Sungguh naif jika kita mengatakan aksi-aksi jahat itu berdiri sendiri. Adanya pembagian kelompok perusuh yang terorganisasi, berikut dengan peran dan target masing-masing, hanya bisa muncul karena ada strategi khusus.

Terlebih ketika polisi sudah berhasil menangkap dua orang yang diduga terlibat dalam penyelundupan senjata ilegal itu, yang nyatanya ialah seorang prajurit aktif dan seorang purnawirawan jenderal. Dugaan terlibatnya dua orang berlatar militer itu harus membuka mata bahwa ada dalang utama di balik mereka yang tentunya bukan hanya memiliki modal, melainkan juga pengaruh.

Dalang utama itulah yang harus dapat diungkap jelas oleh kepolisian. Mereka berutang tanggung jawab terhadap kerusuhan yang menimbulkan tidak sedikit korban dan kerugian materi itu. Tidak itu saja, mereka sesungguhnyalah pengkhianat demokrasi dan musuh keamanan negara.



Berita Lainnya
  • Evaluasi Pengiriman Prajurit TNI

    01/4/2026 05:00

    GUGURNYA tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Libanon menjadi pukulan keras bagi Indonesia.

  • Kembalikan Akal Sehat Kasus Amsal Sitepu

    31/3/2026 05:00

    RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.

  • Saat Tepat untuk Berhemat

    30/3/2026 05:00

    SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.

  • Mengawal Fajar Baru Perlindungan Anak

    28/3/2026 05:00

    MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.

  • Memetik Hasil Tata Kelola Mudik

    27/3/2026 05:00

    SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai

  • Langkah Tepat Pembatalan Belajar Daring

    26/3/2026 05:00

    DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.

  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.