Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH penantian panjang, akhirnya Saturnus memiliki asteroid Trojan pertamanya! Temuan ini menandai momen penting dalam sejarah astronomi, dengan kini keempat planet raksasa di tata surya Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus telah diketahui memiliki asteroid yang berbagi orbit dengan mereka.
Asteroid jenis ini, yang dikenal sebagai asteroid Trojan, sudah lama ditemukan pada planet-planet lain, dan kini giliran Saturnus yang mendapatkan "teman" baru di orbitnya.
Menurut laporan yang dipublikasikan tim astronom yang dipimpin Paul Wiegert dari University of Western Ontario, asteroid tersebut berada 60 derajat di depan Saturnus dalam orbitnya mengelilingi Matahari.
"Saturnus adalah planet raksasa yang unik karena, meskipun ukurannya luar biasa, sebelumnya tidak diketahui memiliki asteroid Trojan," ujar Wiegert.
Penemuan ini diharapkan membuka lebih banyak misteri tentang Saturnus dan tata surya kita.
Asteroid Trojan adalah objek langit yang berbagi orbit dengan planet, bergerak dalam formasi stabil 60 derajat di depan atau di belakang planet tersebut saat mengelilingi matahari.
Fenomena ini pertama kali ditemukan pada 1906 oleh astronom Jerman Max Wolf, yang berhasil mengidentifikasi Trojan pertama di orbit Jupiter, yang ia beri nama Achilles.
Hingga kini, ribuan asteroid Trojan telah ditemukan di sekitar Jupiter, dan bahkan pesawat ruang angkasa NASA Lucy direncanakan akan mengunjungi delapan Trojan Jupiter antara 2027 hingga 2033.
Selain di Jupiter, asteroid Trojan juga ditemukan di Uranus, Neptunus, Mars, dan bahkan Bumi. Namun, Saturnus, yang merupakan planet terbesar kedua di tata surya, sebelumnya tidak memiliki asteroid Trojan yang terdeteksi hingga akhirnya penemuan ini terjadi.
Penemuan asteroid Trojan Saturnus ini dimulai pada 2019, ketika teleskop di Hawaii menangkap gambar objek misterius di orbit Saturnus.
Seorang astronom amatir dari Australia, Andrew Walker, menduga bahwa objek ini bisa menjadi asteroid Trojan jika orbitnya mengelilingi matahari sesuai dengan yang diharapkan. Kuncinya adalah memastikan pengamatan jangka panjang melalui berbagai teleskop untuk mengonfirmasi orbit asteroid tersebut.
Man-To Hui, astronom dari Universitas Sains dan Teknologi Makau di Tiongkok, kemudian menggabungkan data dari pengamatan yang dilakukan sejak 2015 hingga 2024.
Setelah pengukuran posisi yang teliti, asteroid ini akhirnya dikonfirmasi sebagai Trojan Saturnus dan diberi nama 2019 UO 14. Ukurannya sekitar 13 kilometer, sebanding dengan Deimos, bulan Mars yang lebih kecil dari dua satelitnya.
Carlos de la Fuente Marcos, seorang astronom dari Universitas Complutense Madrid, mengungkapkan meskipun para ilmuwan telah lama memperkirakan adanya Trojan di Saturnus, orbit asteroid Trojan di sekitar Saturnus diprediksi tidak stabil.
Saturnus dikelilingi planet-planet raksasa lainnya, seperti Jupiter dan Uranus, yang gravitasinya mempengaruhi kestabilan orbit asteroid tersebut.
De la Fuente Marcos menyebut gravitasi besar Jupiter adalah penyebab utama ketidakstabilan orbit Trojan Saturnus.
Gravitasi Jupiter dapat membuat orbit asteroid tersebut menjadi semakin elips, sehingga asteroid bisa terseret oleh salah satu planet raksasa, baik Jupiter maupun Uranus, dan dikeluarkan dari orbit Trojan-nya.
Para ilmuwan memperkirakan asteroid ini baru berada di orbit Trojan selama 2.000 tahun dan hanya akan bertahan sekitar 1.000 tahun lagi. Sebelum masuk ke dalam orbit Saturnus, asteroid ini mungkin merupakan centaur asteroid yang bergerak di antara orbit planet-planet raksasa.
Meski asteroid 2019 UO 14 adalah penemuan pertama Trojan Saturnus, Wiegert dan rekan-rekannya yakin bahwa masih ada lagi yang tersembunyi di luar sana.
“Saya yakin masih ada beberapa Trojan lain di orbit Saturnus, mungkin tidak banyak, tapi ini pasti bukan yang terakhir,” kata Wiegert. (science news/Z-1)
Pemetaan semacam ini dipandang sebagai terobosan signifikan karena memungkinkan para ilmuwan untuk memahami kondisi atmosfer di luar tata surya.
Samudra Europa berpotensi tidak memiliki dinamika geologis yang cukup untuk mendukung kehidupan, khususnya akibat minimnya aktivitas hidrotermal di dasar lautnya.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Para ilmuwan NASA kembali membuat terobosan besar dalam dunia astronomi.
Hambatan terbesar dalam mewujudkan perjalanan antarbintang ternyata bukan terletak pada kapal, mesin, ataupun bahan bakar.
Lima dekade setelah misi Apollo menapakkan kaki di permukaan Bulan, teka-teki terbesar tentang struktur internal satelit alami Bumi itu akhirnya berhasil dipecahkan.
2025 MN45 harus tersusun dari material yang sangat kokoh agar tidak hancur akibat gaya sentrifugal dari putarannya yang ekstrem.
Asteroid raksasa memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun lalu, namun mamalia bertahan. Simak faktor evolusi dan adaptasi yang membuat mamalia selamat dari kepunahan massal.
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Para ilmuwan NASA baru saja mengumumkan penemuan sebuah “bulan mini” baru, yaitu sebuah asteroid kecil bernama 2025 PN7 yang akan bergerak seiring dengan Bumi
NASA tengah memantau pergerakan tiga asteroid yang melintas dekat Bumi dalam rentang waktu hanya dua hari.
Peneliti menemukan jejak mikroba purba di batuan kawah asteroid Danau Lappajärvi, Finlandia. Temuan ini menunjukkan kehidupan bisa muncul kembali beberapa juta tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved