Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
NASA tengah memantau pergerakan tiga asteroid yang melintas dekat Bumi dalam rentang waktu hanya dua hari. Fenomena ini menarik perhatian karena ukuran ketiga asteroid tersebut tidak biasa, ada yang seukuran bus hingga sebesar jembatan. Namun, seluruhnya dipastikan tidak akan menimbulkan ancaman bagi Bumi.
Asteroid pertama yang berada dalam pantauan adalah 2025 VP1, sebuah objek antariksa berdiameter sekitar 11 meter atau setara dengan ukuran bus. Menurut Center for Near Earth Object Studies (CNEOS), asteroid ini melaju lebih dari 29.400 km/jam dan diperkirakan melintas sedekat sekitar 580.000 km dari Bumi pada Selasa (18/11). Jarak ini masih lebih jauh dibandingkan orbit Bulan, sehingga tidak menimbulkan risiko tumbukan.
Pada hari yang sama, NASA juga melacak 2025 VC4, asteroid lain yang juga digambarkan memiliki ukuran yang sama dengan VP1. Objek ini diproyeksikan mencapai titik terdekat sekitar 2 juta kilometer dari Bumi. Meski terlihat dekat dalam skala astronomi, jarak tersebut tergolong aman dan tidak masuk kategori ancaman.
Selain dua asteroid berukuran bus tersebut, satu asteroid lainnya memiliki ukuran yang lebih besar. Asteroid ini ikut melintasi sekitar orbit Bumi sepanjang pekan ini. Objek bernama 3361 Orpheus (1982 HR), yang memiliki diameter mencapai 430 meter—setara dengan panjang jembatan besar. Asteroid ini dijadwalkan akan melintas pada Rabu (19/11). 3361 Orpheus bergerak dengan kecepatan sekitar 32.000 km/jam. Meski demikian, menurut para ahli, pergerakan asteroid ini tetap berada pada jarak yang aman.
Secara umum, asteroid merupakan sisa material berbatu dari pembentukan tata surya sekitar 4,6 miliar tahun lalu. Sebagian besar terkumpul di sabuk asteroid utama antara orbit Mars dan Jupiter. Namun, sebagian kecil memiliki orbit yang membawa mereka lebih dekat ke matahari dan kadang mendekati Bumi. Objek-objek inilah yang dikategorikan sebagai near-Earth objects (NEOs).
Menurut NASA, sebagian besar NEO tidak pernah melintas cukup dekat untuk menimbulkan ancaman. Hanya sebagian kecil yang masuk kategori potentially hazardous asteroids (PHAs), yakni asteroid berukuran lebih dari 140 meter yang dapat mendekat hingga sekitar 7,4 juta kilometer dari orbit Bumi.
Meski demikian, status “berpotensi berbahaya” juga bukan berarti asteroid tersebut akan menabrak Bumi dalam waktu dekat.
Paul Chodas, manajer CNEOS, menjelaskan bahwa label tersebut lebih merujuk pada kemungkinan perubahan orbit dalam rentang waktu sangat panjang.
“Penetapan label ‘berpotensi berbahaya’ hanya diartikan bahwa selama berabad-abad atau ribuan tahun ke depan, orbit asteroid tersebut dapat berubah menjadi orbit yang memiliki peluang menabrak Bumi. Kami tidak menilai kemungkinan tumbukan jangka panjang hingga ratusan tahun tersebut,” ujarnya kepada Newsweek.
Dengan lintasan tiga asteroid yang mendekat berturut-turut dalam dua hari, NASA memastikan bahwa seluruh objek tersebut tetap berada pada jalur aman.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa Bumi memang kerap dilewati oleh berbagai jenis asteroid, akan tetapi teknologi pemantauan saat ini memungkinkan identifikasi dan penilaian risiko yang akurat bagi keamanan planet. (Newsweek/Z-10)
Mineral ini hanya dapat terbentuk akibat tekanan sangat tinggi seperti yang terjadi saat asteroid menghantam Bumi, sehingga menjadi bukti kuat bahwa Silverpit terbentuk akibat tumbukan.
NASA secara resmi telah menepis segala kemungkinan mengenai potensi hantaman asteroid 2024 YR4 terhadap Bulan pada tahun 2032 mendatang.
Asteroid yang diberi kode 2026 EG1 mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada pukul 23:27 EDT (03:27 GMT, 13 Maret).
Eksperimen luar angkasa yang dilakukan oleh NASA melalui misi Double Asteroid Redirection Test (DART) menghasilkan temuan penting.
Menurut laporan NASA, asteroid tersebut pertama kali terdeteksi pada 8 Maret 2026. Meski terbilang kecil, pergerakannya tetap dipantau karena lintasannya membawa objek itu melintas
Eksperimen tersebut mendorong asteroid Dimorphos, yang merupakan bulan kecil, ke jalur yang lebih pendek dan lebih cepat mengelilingi saudaranya
Secara teori, satu hari di Bumi berlangsung selama 24 jam, yakni waktu yang dibutuhkan planet ini untuk menyelesaikan satu putaran penuh pada porosnya.
Ilmuwan telah berhasil mengidentifikasi bidang tektit pertama yang pernah ditemukan di Brasil.
Penelitian terbaru menunjukkan inti Bumi menyimpan hidrogen dalam jumlah besar, yang bisa menjelaskan terbentuknya air dari dalam planet, bukan hanya dari komet.
Ilmuwan temukan lubang gravitasi di Antartika yang semakin kuat selama jutaan tahun, memicu pergeseran air laut dan memengaruhi stabilitas es kutub.
BUMI awal 2026 krusial, CIC tinggal 2,81% usai divestasi, free float 41,31% dongkrak likuiditas. Target 330-344, stop loss 250; volume kunci. Waspadai koreksi MSCI!!
Tanpa keseimbangan sempurna dari elemen-elemen ini, sebuah planet berbatu mungkin tampak layak huni di permukaannya, namun secara mendasar tidak akan mampu mendukung kehidupan biologis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved