Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH asteroid dengan berukuran bus sekolah melintas dekat Bumi pada, 3 September 2025. Asteroid ini diperkirakan tidak akan berada sedekat ini lagi dengan Bumi hingga 4 September 2125, hampir tepat satu abad mendatang.
Asteroid tersebut diberi nama 2025 QV5 dan pertama kali terdeteksi pada 24 Agustus. Ukurannya sekitar 11 meter dengan kecepatan lintasan mencapai 22.400 km/jam, menurut data NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL) Asteroid Watch.
Saat melintas kemarin, asteroid ini berada pada jarak sekitar 805.000 kilometer atau 500.000 mil jauhnya dari Bumi. Jarak tersebut kira-kira dua kali lipat jarak Bumi ke Bulan, sehingga tidak menimbulkan ancaman langsung.
2025 QV5 memiliki orbit hampir bulat dengan periode revolusi sekitar 359,4 hari, sedikit lebih pendek dari satu tahun kalender. Orbitnya membuat asteroid ini bergerak di antara jalur Bumi dan Venus, dengan pengaruh gravitasi halus dari kedua planet tersebut.
Karena karakteristik orbitnya, kemungkinan asteroid ini menabrak Bumi sangat kecil. Lagipula, dengan ukurannya yang relatif kecil, jika pun masuk atmosfer, sebagian besar materialnya akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan.
Meski tidak berbahaya, asteroid ini tetap menjadi objek menarik bagi para astronom. NASA telah menargetkannya untuk dipantau dengan teleskop radar Goldstone di Barstow, California, yang khusus digunakan untuk melacak serta memotret asteroid dekat Bumi.
Sepanjang abad ini, 2025 QV5 masih akan melakukan beberapa lintasan dekat lainnya, misalnya pada tahun 2026 dan 2027. Namun, jaraknya akan jauh lebih besar dibandingkan tahun ini. Pada 2026, jaraknya sekitar 5,3 juta kilometer (3,3 juta mil), sedangkan pada 2027 diperkirakan tiga kali lebih jauh lagi.
Lintasan terdekat berikutnya yang jaraknnya hampir mirip dengan 2025 ini diprediksi baru akan terjadi pada 4 September 2125, atau tepat satu abad, satu hari, dan dua jam setelah lintasan saat ini. Diperkirakan juga jaraknya sekitar 1,3 juta kilometer (830.000 mil) dari Bumi, berdasarkan perhitungan JPL.
Para ilmuwan mengingatkan perkiraan jarak dan waktu tersebut masih bisa berubah. Semakin banyak data baru yang terkumpul, semakin akurat pula pemodelan orbit yang bisa dibuat.
Hal ini pernah terjadi pada asteroid 2024 YR4, yang sempat dikategorikan memiliki peluang menabrak Bumi pada 2032, sebelum akhirnya kemungkinan tersebut dibantah setelah pengamatan lebih lanjut.
Selain itu, lintasan asteroid dapat berubah akibat interaksi gravitasi dengan benda langit lain. Jika 2025 QV5 berpapasan dengan asteroid atau planet kecil yang belum terdeteksi di antara orbit Bumi dan Venus dalam seratus tahun ke depan, jalur orbitnya bisa bergeser tanpa kita sadari. Dampaknya, asteroid ini bisa saja tidak muncul sesuai prediksi saat dilakukan pengamatan di masa depan. (livescience/Z-2)
International Astronomical Union (IAU) secara resmi mengabadikan nama Bayu Risanto sebagai nama sebuah asteroid.
2025 MN45 harus tersusun dari material yang sangat kokoh agar tidak hancur akibat gaya sentrifugal dari putarannya yang ekstrem.
Asteroid raksasa memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun lalu, namun mamalia bertahan. Simak faktor evolusi dan adaptasi yang membuat mamalia selamat dari kepunahan massal.
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Para ilmuwan NASA baru saja mengumumkan penemuan sebuah “bulan mini” baru, yaitu sebuah asteroid kecil bernama 2025 PN7 yang akan bergerak seiring dengan Bumi
NASA tengah memantau pergerakan tiga asteroid yang melintas dekat Bumi dalam rentang waktu hanya dua hari.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Ilmuwan berhasil menyempurnakan metode penentuan usia permukaan Bulan dengan menggabungkan data sampel Chang’e-6.
Melalui program Send Your Name to Space with Artemis II, siapa pun kini bisa mengirimkan nama mereka untuk mengorbit Bulan secara simbolis pada misi berawak pertama dalam lebih dari 50 tahun.
Panduan lengkap cara mengirim nama ke Bulan melalui misi NASA Artemis 2. Pelajari prosedur, teknologi microchip, dan batas waktu pendaftaran 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved