Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi terbaru mengungkapkan bahwa Bumi terbentuk di bawah kondisi kimiawi yang sangat tidak biasa dan penuh akan presisi, yang memungkinkan planet kita menyimpan dua elemen penting bagi kehidupan, yakni fosfor dan nitrogen.
Tanpa keseimbangan sempurna dari elemen-elemen ini, sebuah planet berbatu mungkin tampak layak huni di permukaannya, namun secara mendasar tidak akan mampu mendukung kehidupan biologis.
Menurut penelitian yang dipimpin oleh Craig Walton dari ETH Zurich, rahasia keberuntungan Bumi terletak pada jumlah oksigen yang ada saat pembentukan inti planet sekitar 4,6 miliar tahun lalu. Oksigen menentukan kemana elemen lain akan pergi.
Dalam proses pembentukan planet, kadar oksigen harus berada pada takaran yang sangat presisi agar unsur-unsur penting bagi kehidupan tidak hilang.
Jika jumlah oksigen terlalu sedikit, unsur fosfor akan berikatan dengan besi dan ikut tenggelam ke inti planet sehingga permukaan planet kekurangan bahan utama untuk membentuk DNA, membran sel, serta proses transfer energi.
Sebaliknya, apabila kadar oksigen terlalu banyak, unsur nitrogen justru akan menjadi lebih tidak stabil dan lebih mudah terlepas hingga hilang ke luar angkasa.
Bumi ternyata berada tepat di tengah-tengah rentang oksigen yang sangat sempit ini, sebuah titik manis yang disebut para peneliti sebagai Zona Goldilocks Kimiawi. Kondisi ini memastikan fosfor dan nitrogen tetap tersedia di mantel dan kerak bumi untuk memicu munculnya kehidupan di kemudian hari.
Studi ini juga memodelkan pembentukan planet lain seperti Mars. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat oksigen di Mars berada di luar zona ideal tersebut.
Meskipun Mars memiliki lebih banyak fosfor di mantelnya dibandingkan Bumi, ia justru memiliki lebih sedikit nitrogen. Ketidakseimbangan ini menciptakan tantangan besar bagi munculnya kehidupan seperti yang kita kenal.
Temuan yang diterbitkan di jurnal Nature Astronomy pada 9 Februari ini menantang fokus tradisional para ilmuwan. Selama ini, pencarian kehidupan luar angkasa hanya berfokus pada "zona layak huni" yang dilihat dari jarak planet dari bintang yang memungkinkan air untuk cair.
Namun, studi ini menunjukkan bahwa air saja tidak cukup. Sebuah planet harus memiliki kandungan kimia yang tepat sejak awal.
Karena bahan baku planet berasal dari materi yang sama dengan bintang induknya, para astronom kini disarankan untuk lebih spesifik dalam mencari kehidupan di luar sana. Strategi terbaik adalah mencari sistem tata surya dengan bintang yang memiliki komposisi kimiawi serupa dengan Matahari kita.
Sumber: Space.com
Perdebatan panjang para astronom mengenai apa yang sebenarnya tersembunyi di bawah lapisan awan tebal Jupiter akhirnya menemui titik terang.
Risiko lain yang tak kalah serius adalah gangguan jantung, seperti aritmia atau gangguan irama jantung, yang dalam kondisi tertentu bisa berujung pada henti jantung mendadak.
Sejak jutaan tahun lalu, rotasi Bumi terus mengalami perlambatan. Perlambatan ini terjadi akibat tarikan gravitasi Bulan yang menciptakan gaya pasang surut, berfungsi seperti rem alami.
Atmosfer Bumi tidak selalu kaya oksigen seperti saat ini. Sekitar 3 miliar tahun lalu, hampir tidak ada oksigen bebas di udara.
Keterlambatan penanganan penyakit pneumonia pada bayi bisa menyebabkan bayi kekurangan oksigen dalam waktu lama dan kondisi ini mempengaruhi perkembangan otaknya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved