Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ATMOSFER Bumi tidak selalu kaya oksigen seperti saat ini. Sekitar 3 miliar tahun lalu, hampir tidak ada oksigen bebas di udara. Kadar oksigen baru mulai meningkat secara signifikan sekitar 2,5 miliar tahun lalu dalam peristiwa besar yang dikenal sebagai Great Oxygenation Event (GOE).
Mengutip laman Science Daily, salah satu faktor penting yang memicu peningkatan oksigen di Bumi adalah aktivitas gunung berapi purba berskala besar yang terjadi jauh sebelum GOE berlangsung.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa peningkatan oksigen di atmosfer tidak terjadi secara instan. Sebelum atmosfer Bumi benar-benar kaya oksigen, planet ini mengalami beberapa lonjakan oksigen sementara yang dikenal sebagai oxygen whiffs atau hembusan oksigen.
Fenomena ini bersifat tidak stabil karena oksigen muncul lalu menghilang dalam periode tertentu. Meski demikian, keberadaan oxygen whiffs menjadi indikator awal bahwa kondisi Bumi mulai berubah ke arah yang memungkinkan oksigen bertahan lebih lama di atmosfer.
Aktivitas gunung berapi purba memainkan peran krusial dalam proses perubahan atmosfer Bumi. Letusan vulkanik besar melepaskan karbon dioksida (CO₂) dalam jumlah masif ke atmosfer, yang menyebabkan peningkatan suhu global dan perubahan iklim besar-besaran.
Selain itu, material vulkanik yang masuk ke lautan membawa nutrisi penting seperti fosfat. Nutrisi ini sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme laut, terutama sianobakteri, yang mampu melakukan fotosintesis.
Dengan pasokan nutrisi yang melimpah, mikroorganisme fotosintetik di laut berkembang pesat. Melalui proses fotosintesis, organisme ini menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen sebagai produk sampingan.
Pada fase awal, oksigen yang dihasilkan belum cukup stabil untuk bertahan lama di atmosfer. Namun, proses ini secara perlahan meningkatkan kadar oksigen dan memicu lonjakan oksigen sementara atau oxygen whiffs.
Meski belum menciptakan atmosfer kaya oksigen secara permanen, para peneliti menilai fase ini sangat penting. Lonjakan oksigen tersebut menandai bahwa sistem Bumi sedang bergerak menuju kondisi yang lebih stabil dan mendukung keberadaan oksigen dalam jangka panjang.
Seiring berjalannya waktu, kombinasi antara aktivitas gunung berapi, peningkatan nutrisi laut, dan perkembangan mikroorganisme fotosintetik akhirnya memicu lonjakan besar oksigen sekitar 2,5 miliar tahun lalu.
Peningkatan kadar oksigen inilah yang membuka jalan bagi munculnya kehidupan kompleks di Bumi. Tanpa perubahan besar yang dipicu oleh aktivitas vulkanik purba, atmosfer Bumi kemungkinan tidak akan pernah mendukung kehidupan seperti yang kita kenal saat ini. (Science Daily/Z-10)
Sejak jutaan tahun lalu, rotasi Bumi terus mengalami perlambatan. Perlambatan ini terjadi akibat tarikan gravitasi Bulan yang menciptakan gaya pasang surut, berfungsi seperti rem alami.
Keterlambatan penanganan penyakit pneumonia pada bayi bisa menyebabkan bayi kekurangan oksigen dalam waktu lama dan kondisi ini mempengaruhi perkembangan otaknya.
Hasil interaksi radiasi dengan es, seperti yang ditemukan di Europa atau Ganymede (bulan Jupiter), yang menghasilkan sedikit oksigen di permukaan, tetapi tidak membentuk atmosfer layak huni.
Bukti geologi menunjukkan bahwa sekitar 2,4 miliar tahun yang lalu, Bumi mulai mengalami peningkatan kadar oksigen di atmosfer.
Selama miliaran tahun pertama, atmosfer di Bumi hampir tanpa oksigen. Padahal, makhluk penghasil oksigen telah hidup di lautan purba.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved