Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
Perdebatan panjang para astronom mengenai apa yang sebenarnya tersembunyi di bawah lapisan awan tebal Jupiter akhirnya menemui titik terang. Sebuah studi yang dirilis di The Planetary Science Journal mengungkapkan bahwa raksasa gas tersebut memiliki kandungan oksigen dan air yang jauh lebih melimpah daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Penelitian yang dipimpin oleh Jeehyun Yang dari University of Chicago, bekerja sama dengan Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, menggunakan simulasi komputer generasi terbaru yang menggabungkan dinamika kimia dan pergerakan gas (hidrodinamika). Hasilnya mengejutkan, Jupiter mengandung oksigen sekitar 1 hingga 1,5 kali lebih banyak dibandingkan Matahari.
Sejak wahana Galileo milik NASA terjun ke atmosfer Jupiter pada tahun 1995, para ilmuwan kebingungan karena data saat itu menunjukkan atmosfer yang sangat kering. Namun, para peneliti kini menyadari bahwa Galileo kemungkinan besar masuk ke wilayah "titik panas" yang tidak mewakili komposisi planet secara keseluruhan.
Oksigen di Jupiter tidak berbentuk gas murni, melainkan terikat dalam molekul air (H_2O). Karena suhu yang sangat dingin di lapisan luar, air tersebut membeku menjadi es dan terperangkap jauh di bawah zona yang bisa diamati secara visual.
Dengan model simulasi 2D yang baru, ilmuwan mampu melacak bagaimana karbon monoksida bertindak sebagai pelacak untuk menentukan jumlah total oksigen yang bersembunyi di kedalaman planet tersebut.
Selain masalah kandungan air, studi ini mengungkap fakta baru mengenai perilaku atmosfer Jupiter. Gerakan vertikal gas di lapisan dalam ternyata 35 hingga 40 kali lebih lambat dari asumsi sains selama ini.
"Dibutuhkan waktu berminggu-minggu, bukan jam, bagi molekul gas untuk berpindah antar lapisan atmosfer Jupiter," ungkap Jeehyun Yang dalam laporan resminya. Temuan ini mengubah cara pandang ilmuwan mengenai bagaimana panas dan badai raksasa, seperti Bintik Merah Besar, berinteraksi dengan struktur internal planet.
Temuan ini bukan sekadar angka statistik. Kelimpahan oksigen merupakan "sidik jari" yang menunjukkan di mana dan bagaimana Jupiter terbentuk miliaran tahun lalu. Kandungan oksigen yang tinggi (supersolar) memperkuat teori bahwa Jupiter lahir di wilayah yang sangat dingin di luar garis salju (frost line), di mana ia bisa menyerap material es dalam jumlah besar.
Memahami komposisi Jupiter adalah kunci untuk memahami sejarah seluruh Tata Surya, mengingat massa raksasanya sangat memengaruhi orbit planet-planet lain, termasuk Bumi.
Sumberi: Space.com, University of Chicago News, IFLScience
Panduan lengkap cara mengirim nama ke Bulan melalui misi NASA Artemis 2. Pelajari prosedur, teknologi microchip, dan batas waktu pendaftaran 2026.
Penetapan tanggal ini menyusul penundaan sebelumnya akibat kendala teknis saat sesi latihan peluncuran (wet dress rehearsal), termasuk kebocoran bahan bakar hidrogen
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari.
Temuan terbaru mengenai ukuran Jupiter ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada Senin (2/2). Jurnal ini sekaligus disebut sebagai salah satu hasil penting
Meskipun peluang tersebut sempat mencapai 3,1%, perkiraan lintasan yang lebih rinci akhirnya meniadakan kemungkinan tabrakan dengan Bumi saat ia melintas dekat pada 22 Desember 2032.
Awak Ekspedisi 74 di ISS fokus pada studi CIPHER untuk kesehatan jangka panjang astronaut serta peluncuran CubeSat karya pelajar dari lima negara.
Risiko lain yang tak kalah serius adalah gangguan jantung, seperti aritmia atau gangguan irama jantung, yang dalam kondisi tertentu bisa berujung pada henti jantung mendadak.
Sejak jutaan tahun lalu, rotasi Bumi terus mengalami perlambatan. Perlambatan ini terjadi akibat tarikan gravitasi Bulan yang menciptakan gaya pasang surut, berfungsi seperti rem alami.
Atmosfer Bumi tidak selalu kaya oksigen seperti saat ini. Sekitar 3 miliar tahun lalu, hampir tidak ada oksigen bebas di udara.
Keterlambatan penanganan penyakit pneumonia pada bayi bisa menyebabkan bayi kekurangan oksigen dalam waktu lama dan kondisi ini mempengaruhi perkembangan otaknya.
Hasil interaksi radiasi dengan es, seperti yang ditemukan di Europa atau Ganymede (bulan Jupiter), yang menghasilkan sedikit oksigen di permukaan, tetapi tidak membentuk atmosfer layak huni.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved