Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
ILMUWAN dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA telah mengonfirmasi sebuah pencapaian luar biasa dalam pertahanan planet. Misi Double Asteroid Redirection Test (DART), yang sengaja ditabrakkan ke asteroid Dimorphos pada September 2022, terbukti telah mengubah orbit objek tersebut secara permanen.
Karena Dimorphos terikat secara gravitasi dengan asteroid yang lebih besar bernama Didymos, tabrakan ini tidak hanya mengubah lintasan bulan kecil tersebut, tetapi juga menggeser orbit seluruh sistem biner tersebut saat mengelilingi Matahari. Fenomena ini menandai pertama kalinya dalam sejarah umat manusia sebuah objek buatan manusia mampu mengubah jalur benda langit di luar angkasa secara terukur.
Apa itu DART?
DART atau Double Asteroid Redirection Test adalah misi luar angkasa pertama yang dirancang, dibangun, dan dioperasikan oleh Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins untuk Kantor Koordinasi Pertahanan Planet NASA. Inti dari misi ini adalah pengujian teknologi "penabrak kinetik" untuk melihat apakah kita bisa membelokkan asteroid yang berpotensi berbahaya bagi Bumi.
Thomas Statler, ilmuwan utama untuk benda kecil sistem surya di Markas Besar NASA di Washington, menekankan signifikansi temuan ini, “Ini adalah perubahan kecil pada orbitnya, tetapi jika diberikan waktu yang cukup, perubahan kecil sekalipun dapat berkembang menjadi defleksi yang signifikan.”
Mekanisme di balik perubahan orbit ini melibatkan prinsip fisika yang disebut faktor peningkatan momentum. Saat pesawat ruang angkasa DART menghantam Dimorphos, tabrakan tersebut melontarkan awan besar puing-puing berbatu ke luar angkasa. Lontaran material ini memberikan dorongan eksplosif tambahan pada asteroid, mirip dengan daya dorong roket.
Penelitian menunjukkan bahwa periode orbit Dimorphos saat mengelilingi Didymos memendek sebanyak 33 menit. Dampak benturan tersebut mengeluarkan begitu banyak material sehingga turut mengubah periode orbit sistem biner tersebut saat mengelilingi Matahari sebesar 0,15 detik.
Berdasarkan analisis tim peneliti, dampak dari puing-puing yang terlempar ini sebenarnya "melipatgandakan kekuatan" dari energi transfer pesawat ruang angkasa itu sendiri. Rahil Makadia, penulis utama studi dari University of Illinois Urbana-Champaign, menjelaskan bahwa kecepatan orbit sistem biner tersebut berubah sekitar 11,7 mikron per detik.
Ia menambahkan, “Seiring berjalannya waktu, perubahan sekecil itu dalam gerakan asteroid dapat membuat perbedaan antara objek berbahaya yang menabrak atau meleset dari planet kita.”
Untuk mengukur perubahan presisi ini, para peneliti harus melacak okultasi bintang, momen ketika asteroid melintas tepat di depan sebuah bintang dan menghalangi cahayanya sejenak. Peneliti sangat mengandalkan kondisi cuaca dan perjalanan ke daerah terpencil untuk melakukan observasi ini.
Meskipun sistem asteroid Didymos dan Dimorphos tidak memberikan ancaman bagi Bumi sebelum maupun sesudah tabrakan, eksperimen ini memberikan data krusial mengenai risiko dan cara penanganannya di masa depan. Kunci utama dari keberhasilan pertahanan planet adalah deteksi dini.
Oleh karena itu, NASA saat ini sedang membangun misi Near-Earth Object (NEO) Surveyor, sebuah teleskop survei ruang angkasa generasi berikutnya yang khusus dirancang untuk menemukan objek-objek yang paling sulit dideteksi, seperti asteroid gelap dan komet yang tidak memantulkan banyak cahaya. Dengan kemampuan mendeteksi ancaman jauh sebelum mereka mendekat, manusia dapat mengirim penabrak kinetik seperti DART untuk melakukan koreksi jalur yang diperlukan. (Nadhira Izzati A/E-4)
Tabrakan DART dan asteroid Dimorphos tidak hanya menggeser orbitnya, juga berdampak kompleks.
NASA memastikan asteroid 2024 YR4 tidak akan menghantam Bulan pada 2032 setelah pengamatan terbaru Teleskop James Webb. Simak detail lintasan amannya di sini.
Teleskop James Webb (JWST) menangkap detail menakjubkan galaksi spiral NGC 5134. Lihat bagaimana debu kosmik dan bintang muda membentuk siklus kehidupan di luar angkasa.
Terobosan baru NASA Artemis! Peneliti gunakan laser 3D printing untuk menyulap debu regolith menjadi bangunan kokoh di Bulan.
Penelitian terbaru mengungkap fenomena mengejutkan di bulan-bulan es seperti Enceladus dan Miranda. Penurunan tekanan akibat lelehan es bisa memicu samudra bawah tanah mendidih.
Astronom berhasil menangkap citra "astrosfer" pertama di bintang HD 61005. Penemuan ini mengungkap rahasia masa lalu Tata Surya kita saat masih muda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved