Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM penelitian NASA mengenai hubungan antara medan magnet Bumi dan kadar oksigen selama 540 juta tahun, muncul kembali pertanyaan besar yang selalu menjadi fokus sains, tentang "Apakah oksigen juga ada di luar planet kita?".
Sejauh ini, Bumi dikenal sebagai satu-satunya tempat di tata surya maupun galaksi kita yang memiliki oksigen dalam jumlah besar dan stabil untuk mendukung kehidupan kompleks.
Oksigen di Bumi bukan hadir tanpa sebab. Gas ini diproduksi terutama oleh organisme fotosintetik seperti tumbuhan, alga, dan bakteri purba.
Proses biologis ini berjalan bersamaan dengan dinamika geologis di dalam Bumi, seperti pergerakan lempeng tektonik dan perubahan medan magnet yang secara tidak langsung membantu menjaga kestabilan atmosfer. Inilah yang menjadikan Bumi unik dan sangat layak huni.
Oksigen sebenarnya ada di luar Bumi, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Para ilmuwan menemukan bahwa oksigen memang dapat ditemukan di beberapa tempat di luar Bumi, tetapi biasanya tidak dalam bentuk bebas (O₂) yang bisa dihirup makhluk hidup.
Sebaliknya, oksigen di luar Bumi lebih sering muncul sebagai bentuk terikat, seperti oksigen dalam air (H₂O) atau batuan beroksidasi.
Hasil interaksi radiasi dengan es, seperti yang ditemukan di Europa atau Ganymede (bulan Jupiter), yang menghasilkan sedikit oksigen di permukaan, tetapi tidak membentuk atmosfer layak huni.
Penemuan oksigen terikat ini menunjukkan bahwa unsur tersebut sebenarnya umum di alam semesta. Namun, ketersediaannya dalam bentuk bebas yang stabil bahkan mampu menopang kehidupan kompleks, hingga kini hanya ditemukan di Bumi.
Karena oksigen bebas sangat reaktif. Gas ini dengan cepat akan mengikat unsur lain, terutama jika dalam kondisi:
Bumi adalah pengecualian karena memiliki kombinasi unik antara kehidupan fotosintetik yang menghasilkan oksigen, medan magnet yang melindungi atmosfer, dan kondisi geologis yang mendukung kestabilan gas tersebut.
Sumber: NASA
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Ilmuwan berhasil menyempurnakan metode penentuan usia permukaan Bulan dengan menggabungkan data sampel Chang’e-6.
Melalui program Send Your Name to Space with Artemis II, siapa pun kini bisa mengirimkan nama mereka untuk mengorbit Bulan secara simbolis pada misi berawak pertama dalam lebih dari 50 tahun.
Panduan lengkap cara mengirim nama ke Bulan melalui misi NASA Artemis 2. Pelajari prosedur, teknologi microchip, dan batas waktu pendaftaran 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved