Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Jejak Bentuk Kehidupan Fotosintesis yang Lebih Tua 1 Miliar Tahun Ditemukan, Melebihi Rekor Sebelumnya

Muhammad Ghifari A
19/11/2025 10:07
Jejak Bentuk Kehidupan Fotosintesis yang Lebih Tua 1 Miliar Tahun Ditemukan, Melebihi Rekor Sebelumnya
Ini adalah makroalga, sejenis rumput laut yang telah menjadi fosil dan berusia hampir 1 miliar tahun. Jejak fosil dalam karya ini tidak terlihat seperti ini, tetapi fosil tersebut berguna dalam melatih algoritma komputer untuk menemukan yang lebih tua.(Dok Katie Maloney)

PARA ilmuwan mungkin telah menemukan beberapa petunjuk tertua tentang keberadaan makhluk hidup yang memproduksi oksigen di dalam bebatuan, dari contoh yang berusia sekitar 2,5 miliar tahun, dan juga jejak biologi dalam material yang usianya mencapai 3,3 miliar tahun, yang merupakan salah satu yang tertua yang pernah diketahui. 

Temuan baru terkait bukti kimia di bebatuan ini terjadi berkat penggunaan algoritma pembelajaran mesin yang mampu mengungkap apa yang disebut para peneliti sebagai "bisikan" kimia di dalam batuan tersebut.

Molekul-molekul biologis asli telah mengalami kerusakan yang signifikan, tetapi jejak pengaruhnya terhadap batuan fosil di sekelilingnya masih dapat ditemukan, meskipun batuan tersebut telah mengalami berbagai perubahan selama eon yang telah berlalu antara pembentukan dan penemuan.

"Batuan kuno menyimpan banyak teka-teki menarik yang menceritakan sejarah kehidupan di Planet Bumi, namun beberapa bagian dari narasi tersebut selalu hilang," kata Katie Maloney, salah satu penulis dan asisten profesor di Michigan State University, dalam sebuah pernyataan. 

"Menggabungkan analisis kimia dengan pembelajaran mesin telah berhasil mengungkap petunjuk biologis tentang keberadaan kehidupan purba yang sebelumnya tidak terlihat," lanjutnya.

Tim peneliti melatih algoritma pembelajaran mesin untuk mengenali tanda-tanda kimia dari fosil tersebut dan membandingkannya dengan tanda-tanda dari hewan dan tanaman modern, serta molekul organik yang berasal dari meteorit. 

Pendekatan ini membantu algoritma dalam mengidentifikasi bisikan-bisikan ini dan menentukan apakah mereka dihasilkan oleh kehidupan dengan tingkat akurasi mencapai 90 persen.

Dengan menerapkan metode ini, para peneliti dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam mendeteksi jejak molekuler pada batuan yang jauh lebih tua. 

Sebelum riset ini, batas waktu penelitian adalah 1,7 miliar tahun. Penemuan ini melipatgandakan rentang penelitian dan bisa sangat signifikan tidak hanya untuk kehidupan di Bumi, tetapi juga untuk memahami apakah Mars di masa lalu mampu mendukung kehidupan.

"Kehidupan purba meninggalkan lebih dari sekadar fosil; ia juga meninggalkan jejak kimia," ungkap Dr. Robert Hazen, ilmuwan senior di Carnegie Institution for Science dan salah satu penulis utama. "Dengan penggunaan pembelajaran mesin, kami kini dapat memahami jejak ini dengan akurat untuk pertama kalinya. "

"Teknik inovatif yang kami gunakan ini memungkinkan kita membaca catatan fosil masa lalu dengan cara yang baru," tambah Maloney. "Ini bisa memberi panduan dalam pencarian kehidupan di planet lain."

Bukti geologi menunjukkan bahwa sekitar 2,4 miliar tahun yang lalu, Bumi mulai mengalami peningkatan kadar oksigen di atmosfer. 

Penyebab yang sering dirujuk sebagai Peristiwa Oksigenasi Besar dapat ditemukan dalam organisme yang melakukan fotosintesis. Meski ada beberapa bukti keberadaan bentuk kehidupan ini sebelum Peristiwa Oksigenasi Besar (GOE), hal tersebut masih belum sepenuhnya jelas. 

Penelitian ini dapat memberikan wawasan baru tentang jenis organisme yang mungkin menjadi pemicu Peristiwa Oksigenasi Besar. (IFLScience/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya