Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH fakta ilmiah mengungkapkan bahwa Bumi tidak langsung memiliki udara yang bisa dihirup. Selama miliaran tahun pertama, atmosfer di Bumi hampir tanpa oksigen. Padahal, makhluk penghasil oksigen telah hidup di lautan purba.
Sianobakteri, mikroba kecil yang mampu melakukan fotosintesis, muncul lebih dari tiga miliar tahun lalu. Mereka sudah bisa menghasilkan oksigen, tetapi kadar gas itu di atmosfer tetap sangat rendah selama hampir satu miliar tahun. Bumi seperti menahan napas dalam waktu yang panjang.
Fenomena ini membingungkan para ilmuwan sejak lama. Mengapa oksigen baru meningkat jauh setelah penghasilnya berevolusi? Apa yang menunda proses tersebut?
Sekitar 2,4 miliar tahun lalu, barulah oksigen mengalami peningkatan drastis. Peristiwa itu dikenal sebagai Great Oxidation Event (GOE), titik balik besar yang membuat Bumi menjadi planet mulai layak huni. Namun, misteri keterlambatan oksigen masih menjadi pertanyaan besar dalam sejarah kehidupan.
Banyak ilmuwan mencoba mencari jawabannya. Ada yang menuding gas vulkanik sebagai penyebabnya. Sebagian lain menyebut reaksi kimia laut atau aktivitas mikroba lain sebagai faktor penghambat. Namun, penjelasan itu belum memberikan jawaban yang pasti.
Sebuah penelitian baru kini menawarkan pandangan berbeda. Dua unsur yang jarang dibahas—nikel dan urea—diduga menjadi penyebab keterlambatan tersebut. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Dilan M. Ratnayake dari Institute for Planetary Materials, Okayama University, Jepang.
Menurut Ratnayake, kadar nikel dan urea di lautan purba mungkin terlalu tinggi. Kondisi itu membatasi pertumbuhan awal sianobakteri, sehingga produksi oksigen berjalan lambat.
“Kami ingin memahami bagaimana mikroba kecil seperti sianobakteri mampu mengubah kondisi Bumi,” ujarnya.
Untuk menguji hipotesis itu, tim ilmuwan mensimulasikan kondisi Bumi purba di laboratorium. Mereka mencampurkan amonium, sianida, dan senyawa besi, lalu menambahkan sinar ultraviolet.
Percobaan ini meniru lingkungan pada masa Arkean, ketika Bumi belum memiliki lapisan ozon. Hasilnya menunjukkan bahwa urea dapat terbentuk secara alami di bawah kondisi tersebut.
Tahap berikutnya melibatkan kultur sianobakteri (Synechococcus sp. PCC 7002). Mikroba ini ditumbuhkan dalam media dengan kadar nikel dan urea yang berbeda. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar tinggi kedua zat itu menghambat pertumbuhan.
Ketika kadarnya menurun, sianobakteri berkembang pesat dan mulai menghasilkan oksigen.
Temuan ini memberi gambaran baru tentang proses terbentuknya atmosfer yang kaya akan oksigen. Penurunan kadar nikel dan urea memungkinkan sianobakteri tumbuh stabil. Dari situlah oksigen mulai meningkat dan memicu GOE.
Ratnayake menilai hubungan antara nikel dan urea sangat penting bagi evolusi awal Bumi. Menurutnya, temuan ini juga berguna untuk mencari tanda kehidupan di planet lain.
“Pemahaman ini membantu menjelaskan bagaimana oksigen bisa muncul di dunia lain,” katanya.
Penelitian yang dipublikasikan di Communications Earth & Environment ini membuka pandangan baru. Perubahan kimia kecil di lautan purba ternyata menentukan nasib kehidupan di planet ini. Misteri keterlambatan oksigen pun akhirnya mulai terungkap. (SciTech Daily/Z-1)
Sejak jutaan tahun lalu, rotasi Bumi terus mengalami perlambatan. Perlambatan ini terjadi akibat tarikan gravitasi Bulan yang menciptakan gaya pasang surut, berfungsi seperti rem alami.
Atmosfer Bumi tidak selalu kaya oksigen seperti saat ini. Sekitar 3 miliar tahun lalu, hampir tidak ada oksigen bebas di udara.
Keterlambatan penanganan penyakit pneumonia pada bayi bisa menyebabkan bayi kekurangan oksigen dalam waktu lama dan kondisi ini mempengaruhi perkembangan otaknya.
Hasil interaksi radiasi dengan es, seperti yang ditemukan di Europa atau Ganymede (bulan Jupiter), yang menghasilkan sedikit oksigen di permukaan, tetapi tidak membentuk atmosfer layak huni.
Bukti geologi menunjukkan bahwa sekitar 2,4 miliar tahun yang lalu, Bumi mulai mengalami peningkatan kadar oksigen di atmosfer.
PENELITI Universitas Airlangga, Suryani Dyah Astuti dan Sari Luthfiyah, melakukan uji coba terhadap ekstrak kulit buah manggis
Ilmuwan Aarhus University menemukan dua asam amino penentu yang membuat tanaman membuka pintu bagi bakteri pengikat nitrogen.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Susu sapi yang baru diperah sangat mudah terkontaminasi bakteri dari lingkungan, alat pemerahan, kotoran hewan, atau petugas yang memerah.
SPPG Kepri menghentikan sementara operasional dua dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karimun setelah hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi bakteri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved