Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Peneliti Unair Manfaatkan Ekstrak Kulit Buah Manggis untuk Obat Antibakteri

Despian Nurhidayat
12/12/2025 07:36
Peneliti Unair Manfaatkan Ekstrak Kulit Buah Manggis untuk Obat Antibakteri
Ilustrasi kulit manggis(Dok.Freepik)

PENELITI Universitas Airlangga, Suryani Dyah Astuti dan Sari Luthfiyah, melakukan uji coba terhadap ekstrak kulit buah manggis terhadap dua jenis bakteri yaitu Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa dengan penambahan laser dioda biru sebagai faktor pemicu fotodinamik. 

Penelitian ini mengukur efektivitas antibakteri berdasarkan pengurangan jumlah koloni bakteri dengan metode Total Plate Count (TPC) dalam satuan CFU/ml setelah dilakukan perlakuan. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah manggis pada persentase konsentrasi 15% memiliki aktivitas antibakteri yang paling signifikan dalam mengurangi jumlah koloni pada kedua bakteri tersebut.

Hasil perlakuan pada penyinaran laser biru terhadap kedua bakteri menunjukkan bahwa laser biru mampu mereduksi jumlah koloni hidup pada bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. 

Hasil perlakuan penyinaran paling optimal dengan tambahan 15% ekstrak kulit buah manggis menghasilkan persentase kematian terbesar pada bakteri Pseudomonas aeruginosa senilai 86,70% dan pada bakteri Staphylococcus aureus senilai 82,41% dengan penyinaran selama 180 detik dan dosis 3,45 J/cm². 

Hasil dalam penelitian ini mengindikasikan potensi ekstrak kulit buah manggis sebagai alternatif terapi fotodinamik dalam pengendalian infeksi bakteri.

Perlu diketahui, data di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan bahwa Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen yang paling banyak menjadi penyebab infeksi dengan prevalensi 18-30%. Sedangkan di Asia, Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa memiliki prevalensi yang hampir sama banyak. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus  adalah diare. 

Menurut WHO dan UNICEF, terjadi sekitar 2 miliar kasus diare dan 1,9 juta anak balita meninggal karena diare di seluruh dunia setiap tahun. 

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pencernaan yang menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. 

Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2020, penyakit infeksi khususnya diare menjadi penyumbang kematian pada kelompok anak usia 29 hari – 11 bulan.

Sama seperti tahun sebelumnya, pada tahun 2020, diare masih menjadi masalah utama yang menyebabkan 14,5% kematian. 

Penggunaan antibiotika dalam jangka waktu yang lama menyebabkan resistensi antibiotik. Antibiotik dapat mengubah mikroba normal yang terdapat di dalam tubuh dan menyebabkan timbulnya mikroba patogen. 

Selain itu, efek samping dari penggunaan obat antibiotik menjadi salah satu penyebab sulitnya penanganan dan penyembuhan luka infeksi yang efektif. Oleh karena itu, diperlukan suatu inovasi pengembangan agen antimikroba yang lebih efektif dan efisien.

Metode alternatif lain yang dapat digunakan adalah Photodynamic Therapy (PDT), yaitu teknik pengobatan dengan memadukan fotosensitiser, cahaya, dan oksigen yang menyebabkan lisis sel akibat inaktivasi protein dan membran. 

Efek antimikroba dari nanopartikel perak dapat ditingkatkan dengan menggunakan fotosensitizer nanopartikel perak yang memiliki spektrum serap pada range biru violet. 

Nanopartikel perak dibuat melalui green sintesis dengan bahan alam ekstrak kulit buah manggis. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik