Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Bahlil Pangkas RKAB Batu Bara, Intip Pergerakan Saham ADRO, PTBA, ITMG Hari Ini

 Gana Buana
12/2/2026 16:16
Bahlil Pangkas RKAB Batu Bara, Intip Pergerakan Saham ADRO, PTBA, ITMG Hari Ini
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk memangkas kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun 2026 memicu reaksi beraga(Dok. Antara)

KEPUTUSAN Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk memangkas kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun 2026 memicu reaksi beragam di pasar modal.

Langkah ini diambil secara strategis untuk mengubah posisi Indonesia dari sekadar pengikut harga (price taker) menjadi pengatur harga (price manager) di pasar internasional.

Meskipun kebijakan ini bertujuan mendongkrak harga batu bara global melalui pengetatan suplai, pasar saham merespons dengan sikap waspada. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap penurunan volume penjualan emiten yang tidak mampu dikompensasi sepenuhnya oleh kenaikan harga, ditambah dengan rencana kenaikan porsi Domestic Market Obligation (DMO) ke level di atas 30%.

Pergerakan Saham Batu Bara

Berdasarkan pantauan pasar hingga sesi siang, mayoritas emiten batu bara mengalami tekanan, terutama mereka yang terkena pemangkasan kuota produksi secara signifikan. Berikut adalah data pergerakan beberapa emiten utama:

KODE EMITEN NAMA PERUSAHAAN HARGA TERAKHIR (MATA UANG RUPIAH) PERUBAHAN (%) SENTIMEN UTAMA
ADRO Adaro Energy Indonesia 3.250 -0,61% Kuota 60 juta ton stabil, namun tertekan sentimen global.
ITMG Indo Tambangraya Megah 25.400 -2,12% Tertekan signifikan akibat pemangkasan kuota produksi.
PTBA Bukit Asam 2.680 +0,37% Relatif stabil karena fokus pada pasokan PLN (DMO).
BYAN Bayan Resources 18.150 -1,85% Reaksi negatif terhadap pengetatan izin produksi baru.
BUMI Bumi Resources 142 -1,39% Volatilitas tinggi pasca penetapan kuota Arutmin & KPC.

Reaksi Pasar

Ada tiga alasan utama mengapa pasar saham tidak langsung "pesta" meskipun harga batu bara Newcastle sempat melonjak ke kisaran US$115 - US$ 117 per ton:

1. Dilema Volume vs Margin

Investor melihat bahwa pemangkasan produksi hingga 24% (dari 790 juta ton di 2025 menjadi 600 juta ton di 2026) adalah angka yang sangat besar. Jika kenaikan harga internasional tidak mencapai angka persentase yang sama, maka pendapatan total (top-line) emiten dipastikan akan merosot.

2. Tekanan Kurs Rupiah

Hari ini, Mata Uang Rupiah terpantau melemah ke level Rp16.811 - Rp16.829 per dolar AS. Meskipun emiten batu bara adalah eksportir yang diuntungkan oleh penguatan dolar, pelemahan rupiah yang dibarengi dengan keluarnya modal asing (net sell) dari pasar saham domestik membuat indeks sektoral energi ikut terseret ke zona merah.

3. Ketidakpastian DMO

Wacana kenaikan DMO menjadi di atas 30% mulai tahun 2026 menjadi beban tambahan bagi emiten. Penjualan ke pasar domestik dengan harga yang dipatok (capped price) mengurangi potensi keuntungan maksimal saat harga internasional sedang merangkak naik akibat kebijakan pangkas produksi Bahlil.

Dampak pada Harga Komofitas

Secara fundamental, langkah Bahlil berhasil memberikan "shock therapy" pada pasar Newcastle. Pengurangan suplai dari Indonesia, yang menyumbang hampir 50% perdagangan batu bara termal dunia, memaksa trader di China dan India untuk menghitung ulang strategi pengadaan mereka. Namun, kenaikan harga ini masih tertahan oleh rencana Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang ingin meningkatkan produksi domestik mereka. (Media Indonesia/Ajaib Sekuritas/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya