Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

110 Blok Disiapkan untuk Investor, Gas Jadi Prioritas Investasi Migas

Insi Nantika Jelita
12/2/2026 17:58
110 Blok Disiapkan untuk Investor, Gas Jadi Prioritas Investasi Migas
Kuliah Umum Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI bertajuk Strategi Swasembada Energi 2026: Hilirisasi, Transisi, dan Investasi di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2).(Dok. Insi Nantika Jelita)

SATUAN Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyiapkan 110 blok migas untuk ditawarkan kepada investor dalam dua tahun ke depan. Pengembangan proyek gas akan menjadi fokus utama karena tren temuan besar beberapa tahun terakhir didominasi gas.

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus menjelaskan, jumlah blok yang disiapkan meningkat signifikan dibanding rencana awal. SKK Migas sebelumnya mengidentifikasi 65 blok, lalu meningkat menjadi 75 blok pada pertengahan tahun, hingga akhirnya mencapai 110 blok.

“Dan misi kita hari ini ada 110 blok yang ingin kita tawarkan ke para potensial investor,” ujar Rikky dalam Kuliah Umum Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI bertajuk Strategi Swasembada Energi 2026: Hilirisasi, Transisi, dan Investasi di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2).

Kontrak 20-30 Tahun, Eksplorasi Jadi Kewajiban

Rikky menuturkan, setelah pemenang lelang ditetapkan, kontrak kerja sama akan ditandatangani oleh Kepala SKK Migas dengan masa berlaku 20 hingga 30 tahun. Dalam periode tersebut, kontraktor wajib menjalankan kegiatan eksplorasi.

“Nah dalam konteks kegiatan eksplorasi dimulai, itulah tugas kami SKK Migas melaksanakan kegiatan eksplorasi,” kata Rikky.

Pada 10 tahun pertama, kontraktor diwajibkan melakukan pencarian dan pembuktian cadangan migas melalui komitmen kerja pasti. Bila ditemukan cadangan yang layak, tahap eksploitasi harus memperoleh persetujuan Menteri ESDM, sebelum lapangan masuk fase pengembangan hingga produksi.

Sejumlah proyek hulu migas kini telah memasuki tahap pembangunan fasilitas produksi. Namun, seiring berakhirnya masa kontrak dan penurunan produksi alami, terdapat dua opsi: perpanjangan kontrak oleh operator eksisting atau pengembalian wilayah kerja kepada pemerintah untuk ditawarkan kembali.

Ke depan, Rikky memperkirakan proyek-proyek besar akan didominasi temuan gas.

“Untuk kegiatan proyek-proyek besar dari mulai hari ini sampai ke depan, kita bisa melihat utamanya adalah temuan gas. Proyek-proyek gas akan lebih banyak. Ini tidak terlepas dari temuan-temuan kita di periode 5 tahun terakhir,” jelasnya.

Meski begitu, pengelolaan gas memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan minyak (liquid) yang relatif lebih fleksibel diproduksikan dan ditampung, gas membutuhkan infrastruktur khusus sehingga tidak bisa serta-merta disimpan saat sudah diproduksi.

Pembiayaan Makin Terkait Transisi Energi

Rikky juga menyoroti tantangan pembiayaan proyek migas di tengah tuntutan transisi energi. Perusahaan migas internasional kini makin sering mengaitkan pendanaan dengan aspek energi hijau, termasuk penerapan carbon capture storage (CCS) dan carbon capture utilization and storage (CCUS).

“Dan ini kita buktikan dengan persetujuan proyek Ubadari CCUS (UCC) yang digarap BP Tangguh. Yang kita sepakati dulu untuk adanya enhanced gas carbon di sini,” ujarnya.

Ia menegaskan, SKK Migas tidak bertugas memperlambat transisi energi, melainkan memastikan prosesnya berjalan aman, realistis, dan tidak mengorbankan ketahanan energi nasional.

“Dengan Astacita nomor dua dari Bapak Presiden Prabowo, tentunya ketahanan energi menjadi panglima,” kata Rikky.

Sepanjang 2025, sejumlah proyek strategis telah diresmikan Presiden, di antaranya Forel dan Kerubuk yang dioperasikan Medco dengan kapasitas sekitar 20 ribu barel minyak per hari (bopd), serta tambahan produksi di Blok Cepu sebesar 30 ribu bopd.

Untuk menjaga produksi nasional, SKK Migas juga berupaya menekan laju penurunan produksi alami (decline rate). Sebagai sumber daya tak terbarukan, produksi migas memang akan turun secara natural dari waktu ke waktu. Karena itu, SKK Migas mendorong percepatan realisasi proyek agar lapangan-lapangan migas bisa segera diproduksikan, ditopang kebijakan yang mendukung.

“Karena itu, investasi harus tetap dijaga agar menarik di tengah dinamika global dan tuntutan energi ramah lingkungan,” tegasnya.

Dari sisi potensi, Indonesia memiliki 128 cekungan migas, namun baru 20 cekungan yang telah berproduksi.

“Jika proyek di Blok Masela beroperasi, akan menjadi cekungan ke-21. Masih terdapat lebih dari 100 cekungan yang belum tergarap optimal dan memerlukan tambahan data eksplorasi,” tutup Rikky.

Kuliah umum Media Indonesia turut didukung oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), ExxonMobil, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), PetroChina International Jabung Ltd, Harbour Energy, PT Energi Mega Persada (EMP), PT Pertamina EP, dan Medcom.id. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya