Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Daya Tahan Energi RI Cuma 21 Hari, Bahlil Soroti Risiko Geopolitik Dunia

 Gana Buana
12/2/2026 14:42
Daya Tahan Energi RI Cuma 21 Hari, Bahlil Soroti Risiko Geopolitik Dunia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.(Dok. Insi Nantika Jelita)

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan daya cadangan ketahanan energi Indonesia hanya mampu bertahan selama 21 hari. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diwaspadai di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu. Ia pun menekankan pentingnya mewujudkan swasembada energi agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor.

Hal tersebut disampaikan Bahlil dalam Kuliah Umum Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia bertajuk Strategi Swasembada Energi 2026: Hilirisasi, Transisi, dan Investasi di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2).

"Kita ini punya daya cadangan ketahanan energi kita cuma 21 hari," ucapnya.

Menurut Bahlil, ancaman terhadap pasokan energi tidak harus melalui serangan bersenjata. Cukup dengan menghalau kapal-kapal impor masuk ke Indonesia, maka dalam hitungan kurang dari tiga pekan, ketahanan energi nasional bisa lumpuh.

"Jadi kalau ada perang, enggak usah ada senjata masuk. Cukup halau itu dengan kapal-kapal impor tidak masuk ke republik selama 20 hari, wayam na'unnal ma'un. Ini kenyataan. Nah apakah kita harus pasrah dengan itu?" tuturnya. 

Ia menyoroti berbagai konflik yang masih berlangsung, mulai dari perang Rusia-Ukraina, konflik di Timur Tengah antara Palestina dan Israel yang meluas ke negara lain, hingga ketegangan di Iran dan Amerika Latin seperti Venezuela. Selain itu, perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang belum berakhir juga memunculkan polarisasi kekuatan global, bahkan membentuk kutub baru antara Rusia, Tiongkok, dan sejumlah negara lain.

Di tengah ketidakpastian global tersebut, Bahlil menyebut Indonesia patut bersyukur karena pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV 2025 mencapai 5,31% dengan inflasi terjaga di bawah 3%. Menurutnya, capaian itu menjadi salah satu yang terbaik di antara negara G20, bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi China.

"Hal ini menunjukkan fondasi ekonomi makro Indonesia relatif kuat," sebutnya. 

Meski demikian, ia mengingatkan rangkaian tekanan geopolitik telah berlangsung sejak 2016–2017, dimulai dari perang dagang China dan Amerika Serikat, disusul pandemi Covid-19, hingga konflik geopolitik di berbagai kawasan. Situasi tersebut membuat proyeksi ekonomi global sangat dinamis dan sulit diprediksi.

"Sampai dengan hari ini, saya belum menemukan pakar ekonomi dunia yang bisa meramal tentang bagaimana ekonomi kita. Makanya setiap tiga bulan, enam bulan selalu dapat koreksi. Jadi ini dinamis sekali. Bahkan mungkin kita keluar daripada pakem-pakem yang dulunya sudah diajarkan di kampus," katanya.

Karena itu, Bahlil menegaskan perlunya langkah konkret untuk mengantisipasi hal tersebut. Pemerintah, kata dia, telah melakukan pemetaan terhadap kondisi sumur minyak nasional. Dari sekitar hampir 40.000 sumur yang dikelola Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) seperti Exxon dan lainnya. Di luar sumur masyarakat, hanya sekitar 17.000 sumur yang aktif berproduksi. Selebihnya merupakan idle well atau sumur menganggur.

Politikus Golkar itu juga menyebut sebagian besar sumur tersebut merupakan sumur tua yang sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka.

Bahlil pun mengajak seluruh pihak melihat kondisi energi nasional dengan mempertimbangkan dinamika global. Ia menilai ekonomi global, geopolitik, dan geoekonomi hingga kini masih dalam kondisi tidak stabil.

"Tidak akan ada sebuah negara yang pertumbuhan ekonominya akan baik tanpa ada stabilitas politik dan stabilitas keamanan," katanya. (Ins)

Kuliah umum Media Indonesia turut didukung oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), ExxonMobil, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), PetroChina International Jabung Ltd, Harbour Energy, PT Energi Mega Persada (EMP), PT Pertamina EP, dan Medcom.id.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya