Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

ESDM Dorong Hilirisasi Minerba, Indonesia Bisa Kuasai Pasar Timah dan Nikel Dunia

Ihfa Firdausya
12/2/2026 17:26
ESDM Dorong Hilirisasi Minerba, Indonesia Bisa Kuasai Pasar Timah dan Nikel Dunia
ilustrasi hilirisasi.(MI)

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut Indonesia bisa berperan lebih besar dalam komoditas mineral dan batu bara (minerba) dengan hilirisasi. Dirjen Minerba ESDM Tri Winarno menyebut Indonesia memiliki beberapa komoditas andalan yang bisa dihilirkan yang ada dari Sabang sampai Merauke.

Misalnya timah, Indonesia adalah nomor 2 terbesar di dunia setelah Tiongkok dengan produksi rata-rata antara 50-70 ribu ton per tahun.

“Timah itu harga terendahnya mulai dari US$6.500 (per ton) dulu tahun sekitar 2009. Kemudian kita tahan, kita berantas terkait dengan penyelundupan timah dan lain sebagainya, maka harga sebelumnya tahun 2025 itu US$33.000, saat ini mencapai US$56.000. Peran Indonesia cukup signifikan,” ujar Tri dalam rangkaian acara Kuliah Umum dan Talkshow dalam Rangka HUT ke-56 Media Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2).

Contoh lain, katanya, di industri nikel. Fluktuasi harga komoditas tersebut disebut luar biasa. Pada 23 Desember 2025 menteri ESDM mengumumkan akan melakukan pemangkasan terhadap produksi nikel dan harganya langsung naik.

“Sampai sekarang dari US$14.800, peak-nya pernah US$18.800 tapi sekarang mungkin bisa dicek sekitar US$17.600. Kita untuk nikel menguasai sekitar 65% pasar dunia. Jadi mustinya kita bisa mengendalikan market atau pasar dunia tetapi saat ini belum sampai,” ujar Tri.

Di sisi lain, potensi komoditas minerba juga menopang penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Pada 2026 target PNPB dari minerba sebesar Rp134 triliun atau meningkat Rp10 triliun dari target 2025.

“Sebetulnya komoditas untuk nikel dan batu bara diturunkan kuota produksinya tetapi PNBP kita harapkan bisa naik. Beberapa temen menanyakan logikanya gak masuk produksi turun, PNBP-nya naik Rp10 triliun,” kata Tri.

“Ini kita harapkan ini dari kenaikan harga yang bisa kita peroleh dari komoditas tadi, di samping kita akan melakukan evaluasi terhadap perusahaan-perusahaan tambang supaya manfaat kepada masyarakat dan negara lebih besar ketimbang manfaat yang dirasakan oleh pemilik tamban,” pungkasnya.

Kuliah umum Media Indonesia turut didukung oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), ExxonMobil, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), PetroChina International Jabung Ltd, Harbour Energy, PT Energi Mega Persada (EMP), PT Pertamina EP, dan Medcom.id. (Ifa/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya