Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Ratusan Proyek Migas Belum Beroperasi, Bahlil Minta Segera Dieksekusi

Insi Nantika Jelita
12/2/2026 15:33
Ratusan Proyek Migas Belum Beroperasi, Bahlil Minta Segera Dieksekusi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.(Dok. Insi Nantika Jelita)

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, sebanyak 301 hasil eksplorasi minyak dan gas (migas) telah masuk tahap rencana pengembangan atau plan of development (POD). Namun hingga kini belum beroperasi. Ia pun menekankan kepada para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) agar segera merealisasikan proyek-proyek tersebut.

Hal itu disampaikan Bahlil dalam Kuliah Umum Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia bertajuk Strategi Swasembada Energi 2026: Hilirisasi, Transisi, dan Investasi di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2).

Salah satu proyek yang disorot adalah pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela, Maluku Utara, yang dikelola Inpex. Bahlil menyinggung lamanya proyek tersebut berjalan tanpa realisasi produksi.

Ia mengungkapkan Blok Masela telah dikelola Inpex selama 26 tahun, bahkan sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam perjalanannya, proyek tersebut sempat diwarnai perdebatan panjang pada era Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya saat itu, almarhum Rizal Ramli, mengenai skema pengembangan yang akan dipilih, apakah di laut (offshore) atau di darat (onshore).

Ia menegaskan tidak ingin proses pengambilan keputusan berlarut-larut tanpa hasil nyata. "Blok Masela itu, saya masih sekolah dasar, Inpex sudah pegang itu blok. Ya kalau banyak pertimbangan sampai mati, pertimbangan terus. Saya nggak mau jadi menteri pertimbangan yang terlalu lama. Saya nggak mau jadi menteri yang mempertimbangkan itu penting, tapi harus ada hasil,” kata Bahlil.

Bahlil mengaku telah memanggil pihak Inpex untuk mempercepat realisasi proyek tersebut. Ia bahkan menyampaikan peringatan tegas.

“Saya panggil Inpex, datang sini. Kalau you enggak mau (dilanjutkan), saya akan kasih surat kau peringatan, satu, kedua, kalau tidak saya cabut (izin usaha)," tegasnya.

Ia juga menegaskan pengusaha tidak boleh mengendalikan negara, namun negara juga tidak boleh bersikap tidak adil.

“Kau (Inpex) mau bawa ke Abitrase atau apa lah terserah kau. Artinya apa? Pengusaha itu nggak boleh mengendalikan negara. Nggak boleh main-main. Tapi negara nggak boleh zolim juga. Kita harus equal treatment. Jadi pengusaha sama negara itu sama-sama butuhkan,” katanya.

Menurut Bahlil, pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Ia menyebut Inpex telah memulai proses tender pada tahun ini dan menargetkan produksi dapat berjalan lebih cepat dari rencana awal.

Ia menjelaskan, semula produksi direncanakan mulai pada 2030. Namun, ia meminta agar target tersebut dimajukan menjadi 2029. Pembangunan konstruksi sendiri telah dimulai pada 2025 sebagai bagian dari percepatan proyek tersebut.

“Bapak Ibu semua, apa yang terjadi dengan cara itu sekarang Inpex sudah mulai tender tahun ini. Dan produksinya, Insya Allah dia bikin 2030. Tapi, saya bilang, enggak di 2030, sudah pilpres, kau bikin 2029," ucap Politikus Partai Golkar itu. 

Ia menambahkan, berdasarkan laporan SKK Migas, total investasi proyek tersebut mencapai US$18 miliar dolar AS.

Selain Inpex, Bahlil juga menyinggung produksi ExxonMobil. Ia mengatakan produksi minyak pada 2024 berada di kisaran 150 ribu barel per hari. Ia pun meminta perusahaan tersebut mempercepat optimalisasi sumur yang ada.

“Saya panggil sama mereka, ayo diskusi. Barang kau masih ada kan? Tapi ini tanya Exxon ini. Kau punya sumur-sumur di sana, kau mau pakai untuk apa? Kau bikin sekarang, aku bilang,” tuturnya.

Menurut Bahlil, melalui komunikasi yang intensif dan pendekatan win-win, lifting Exxon berhasil meningkat dari 120 ribu barel per hari menjadi sekitar 140 ribu barel per hari. Ia menegaskan peningkatan tersebut dilakukan dengan optimalisasi sumur lama, bukan dari penemuan sumur baru.

“Rata-rata mereka ada 175 ribu barel. Jadi, nggak menemukan sumur baru, sumur lama. Kok ada salah satu anggota DPR dan salah satu menteri yang mengatakan bahwa bagaimana mungkin lifting naik sementara sumur besar belum ada,” katanya. (Ins)

Kuliah umum Media Indonesia turut didukung oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), ExxonMobil, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), PetroChina International Jabung Ltd, Harbour Energy, PT Energi Mega Persada (EMP), PT Pertamina EP, dan Medcom.id. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya