Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya. Ledakan ini bukan sekadar kilatan cahaya biasa, melainkan lontaran energi raksasa yang berpotensi menghancurkan atmosfer planet di sekitarnya. Temuan ini membuka jendela baru dalam memahami cuaca antariksa di luar tata surya dan tantangan bagi kehidupan di planet lain.
Informasi ini dilansir dari laman CNN pada November lalu, berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature.
Ledakan tersebut dikenal sebagai coronal mass ejection (CME), yaitu lontaran awan besar plasma bermuatan dan medan magnet dari lapisan luar sebuah bintang. Di tata surya kita, CME berasal dari Matahari dan dapat memicu aurora di Bumi serta mengganggu satelit dan jaringan listrik.
Namun, CME yang baru terdeteksi ini jauh lebih ekstrem. Sumbernya adalah bintang katai merah bernama StKM 1-1262, yang berjarak sekitar 130 tahun cahaya dari Bumi. Bintang ini memiliki massa setengah Matahari, tetapi berotasi 20 kali lebih cepat dan memiliki medan magnet sekitar 300 kali lebih kuat. Badai bintang ini melesat dengan kecepatan sekitar 5,3 juta mil per jam (sekitar 2.400 km per detik. Kecepatan ini hanya muncul pada sekitar satu dari setiap 2.000 CME Matahari.
Ledakan ini tidak terlihat secara langsung, melainkan terdeteksi lewat semburan radio yang disebut type II radio burst. Sinyal ini muncul ketika gas panas tersapu keluar dari bintang dan membentuk gelombang kejut di ruang antariksa.
Para peneliti menemukan sinyal tersebut dengan menganalisis data lama dari teleskop radio LOFAR (Low Frequency Array), jaringan ribuan antena di Eropa, menggunakan teknik baru bernama Radio Interferometric Multiplexed Spectroscopy (RIMS).
“Kami tahu materi benar-benar telah meninggalkan medan magnet bintang. Itu artinya ini memang sebuah CME,” ujar peneliti utama Dr. Joe Callingham dari Universitas Amsterdam. (E-3)
Para astronom menemukan lontaran massa koronal kuat dari bintang katai merah 130 tahun cahaya. Temuan ini jadi terobosan penting studi cuaca luar angkasa.
Ilmuwan menemukan supernova SN 2024bch tidak mengikuti pola biasa. Energinya bukan dari benturan, melainkan dari mekanisme langka fluoresensi Bowen.
Ilmuwan mendeteksi sinyal periodik dari magnetar muda di balik ledakan sinar gamma paling terang, membuka bab baru studi bintang ekstrem alam semesta.
Baru-baru ini, Teleskop Luar Angkasa Hubble berhasil menangkap gambar sebuah bintang yang meledak menjadi supernova, baik sebelum maupun sesudah.
Para astronom menemukan fenomena langka, sebuah bintang raksasa yang meledak saat berhadapan dengan lubang hitam pendampingnya.
Temukan perbandingan usia Neptunus, Saturnus, dan Uranus. Benarkah raksasa gas terbentuk lebih dulu daripada raksasa es? Simak fakta astronomi terbaru.
Teleskop James Webb temukan jejak lubang hitam pelarian yang melesat 3.000 km/detik. Simak bagaimana fenomena kosmos ini mengubah pemahaman kita tentang galaksi.
Ilmuwan mengungkap asal-usul Titan Saturnus dari tabrakan bulan purba. Simak kaitan pembentukan Titan dengan usia cincin Saturnus dan misi Dragonfly 2026.
Teleskop SPHEREx milik NASA mendeteksi molekul organik seperti air dan karbon dioksida pada komet antarbintang 3I/ATLAS, membuka peluang riset asal-usul kehidupan.
Sempat diprediksi akan menghiasi langit malam tahun 2020, Komet C/2019 Y4 ATLAS justru hancur berkeping-keping. Kini, astronom menemukan bukti baru sisa fragmennya.
TELESKOP Luar Angkasa Hubble milik NASA kembali menghadirkan temuan penting dalam dunia astronomi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved