Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
TELESKOP Luar Angkasa Hubble milik NASA kembali menghadirkan temuan penting dalam dunia astronomi. Kali ini, Hubble berhasil mengamati sebuah cakram pembentuk planet raksasa dengan struktur yang tidak biasa, mengelilingi bintang muda bernama IRAS 23077+6707. Temuan ini dinilai dapat mengubah pemahaman ilmuwan tentang bagaimana sistem keplanetan terbentuk, terutama dalam kondisi ekstrem.
Cakram tersebut berada sekitar 1.000 tahun cahaya dari Bumi dan dijuluki Dracula’s Chivito. Julukan unik ini terinspirasi dari latar belakang para penelitinya, yang berasal dari Transylvania dan Uruguay. Dilihat dari sudut tertentu, bentuk cakram ini bahkan menyerupai burger berlapis.
Ukuran cakram protoplanet ini tergolong luar biasa. Bentangnya mencapai hampir 400 miliar mil, atau sekitar 40 kali lebih lebar dibandingkan ukuran tata surya hingga ke Sabuk Kuiper. Kepadatan dan ukurannya yang masif membuat cahaya dari bintang muda di pusatnya nyaris sepenuhnya tertutup.
Para astronom menduga bintang di pusat cakram ini bisa berupa satu bintang panas bermassa besar atau sistem bintang ganda yang saling berdekatan. Besarnya skala dan kepadatan cakram membuat IRAS 23077+6707 langsung menonjol dibandingkan cakram pembentuk planet lain yang pernah diamati.
Untuk pertama kalinya, Hubble berhasil mengamati cakram ini dalam cahaya tampak dengan tingkat detail tinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa cakram tersebut jauh lebih turbulen, kacau, dan tidak beraturan dari yang diperkirakan sebelumnya.
Lapisan debu dan gas tampak menjulang tinggi ke atas dan ke bawah bidang cakram. Namun yang membuatnya semakin misterius, filamen menyerupai benang hanya muncul di satu sisi cakram, sementara sisi lainnya terlihat memiliki batas yang tajam tanpa struktur serupa.
Para peneliti menduga bentuk asimetris ini dipengaruhi oleh proses dinamis, seperti aliran masuk debu dan gas yang terjadi baru-baru ini atau interaksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Penulis utama studi ini, Kristina Monsch dari Center for Astrophysics, Harvard & Smithsonian, menyebut tingkat detail yang terlihat pada cakram ini sangat jarang ditemukan. Menurutnya, temuan ini menunjukkan bahwa wilayah pembentukan planet bisa jauh lebih aktif dan kacau dibandingkan gambaran ideal yang selama ini dipahami.
Rekan peneliti Joshua Bennett Lovell juga mengaku terkejut dengan tingkat ketidaksimetrian cakram tersebut. Ia menyebut Hubble memberikan sudut pandang langsung terhadap proses pembentukan planet yang selama ini masih sulit dipahami.
Seluruh sistem planet diketahui terbentuk dari cakram gas dan debu yang mengelilingi bintang muda. Seiring waktu, sebagian gas akan jatuh ke bintang pusat, sementara sisanya membentuk planet. Dalam kasus IRAS 23077+6707, massa cakramnya diperkirakan mencapai 10 hingga 30 kali massa Jupiter, cukup untuk melahirkan banyak planet gas raksasa.
Para ilmuwan menilai sistem ini bisa menjadi versi superbesar dari tata surya pada masa awal pembentukannya. Meski proses pembentukan planet di lingkungan semasif ini mungkin berbeda, mekanisme dasarnya diyakini tetap serupa.
Dengan ukuran ekstrem, struktur unik, dan detail pengamatan yang belum pernah dicapai sebelumnya, IRAS 23077+6707 kini dianggap sebagai laboratorium alami baru untuk mempelajari bagaimana planet terbentuk di berbagai kondisi lingkungan.
Meski masih menyisakan banyak pertanyaan, para astronom sepakat bahwa citra terbaru dari Hubble ini menjadi langkah awal penting dalam mengungkap proses panjang dan kompleks di balik kelahiran sistem keplanetan.(E-4)
Teleskop Hubble berhasil mengabadikan IRAS 23077+6707, piringan protoplanet raksasa berbentuk mirip roti lapis. Temukan keunikan "Dracula’s Chivito" di sini.
Wahana Voyager NASA mengungkap wilayah ekstrem di heliopause, batas Tata Surya dengan ruang antarbintang, dengan suhu mencapai 50.000 kelvin.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fenomena ini berpotensi memicu keruntuhan gravotermal, yaitu kondisi ketika inti halo terus memadat akibat aliran energi ke luar.
Berbeda dengan Bumi yang solid, Matahari berotasi dengan kecepatan yang bervariasi tergantung letak dan kedalamannya.
Pesawat Juno milik NASA menangkap fenomena letusan serentak di Io, bulan Jupiter. Energi yang dihasilkan mencapai 260 terawatt, mengungkap rahasia magma di bawah permukaannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved