Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Teka-Teki Putaran Matahari, Mengapa Ekuatornya 'Ngebut' Sementara Kutubnya Melambat?

Intan Safitri
01/2/2026 22:25
Teka-Teki Putaran Matahari, Mengapa Ekuatornya 'Ngebut' Sementara Kutubnya Melambat?
letusan di matahari.((NASA))

POSISI Matahari, jantung tata surya kita, ternyata tidak berputar secara seragam. Fenomena yang dikenal sebagai rotasi diferensial ini terus menjadi fokus utama para astrofisikawan di seluruh dunia. Data terbaru dari instrumen Helioseismic and Magnetic Imager (HMI) milik NASA mengonfirmasi bahwa bintang ini berperilaku lebih seperti cairan yang kompleks daripada bola padat yang stabil.

Anomali Kecepatan di Garis Lintang Berbeda
Secara mekanis, Bumi berotasi sebagai satu kesatuan yang solid. Namun, Matahari adalah bola plasma raksasa yang terionisasi. Di wilayah ekuator, Matahari menyelesaikan satu putaran penuh hanya dalam waktu sekitar 25 hari. Sebaliknya, di wilayah kutub, kecepatan rotasi melambat drastis hingga memakan waktu 35 hari untuk satu siklus.

Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet, menyebabkannya terpelintir dan akhirnya memicu fenomena bintik matahari (sunspots) serta semburan api matahari (solar flares) yang dapat mengganggu satelit komunikasi di Bumi.

Zona Takoklin: Garis Batas yang Menentukan
Penelitian berbasis helioseismologi—studi tentang gelombang suara yang merambat di dalam Matahari—menunjukkan bahwa rotasi tidak seragam ini hanya terjadi pada 30% bagian terluar Matahari, yang disebut zona konveksi.

Di bawah lapisan ini terdapat Takoklin, sebuah wilayah transisi tipis yang sangat krusial. Di bawah Takoklin, perilaku Matahari berubah total; bagian dalamnya berputar secara seragam layaknya benda padat. Para ilmuwan meyakini bahwa gesekan di lapisan Takoklin inilah yang menjadi "dinamo" utama penghasil medan magnet kuat Matahari.

Misteri Inti: Warisan Primordial yang Tersembunyi
Meskipun permukaan dan zona konveksi sudah terpeta dengan baik, bagian inti (core) Matahari tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan sepenuhnya. Beberapa studi dari tim riset internasional di Eropa menunjukkan indikasi bahwa inti Matahari mungkin berputar empat kali lebih cepat dibandingkan permukaannya.

Hipotesis utama menyatakan bahwa rotasi cepat ini adalah sisa-sisa momentum dari proses pembentukan Matahari 4,6 miliar tahun lalu. Karena inti terisolasi secara dinamis dari lapisan luar, ia tetap mempertahankan kecepatan aslinya sementara lapisan luar melambat akibat interaksi dengan angin surya. Jika data ini terkonfirmasi secara absolut dalam beberapa tahun ke depan, hal ini akan memaksa penulisan ulang buku teks mengenai evolusi bintang. (P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya