Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan baru saja mendapatkan gambaran paling jelas mengenai ekspansi alam semesta dan "energi gelap", kekuatan misterius yang mendorong percepatan ruang angkasa. Pencapaian luar biasa ini merupakan hasil analisis data selama enam tahun dari Dark Energy Camera (DECam) yang terpasang pada teleskop Víctor M. Blanco di Cile.
Proyek ambisius yang dikerjakan kolaborasi Dark Energy Survey (DES) ini melibatkan pengamatan selama 758 malam. Menggunakan kamera berkekuatan 570 megapiksel, tim peneliti merekam data dari 669 juta galaksi yang jaraknya mencapai miliaran tahun cahaya dari Bumi.
Keistimewaan analisis kali ini terletak pada penggabungan empat metode penelitian energi gelap secara bersamaan untuk pertama kalinya. Langkah ini berhasil melipatgandakan kekuatan batasan (constraints) terhadap efek energi gelap, sebuah lompatan besar untuk memahami kekuatan yang mendominasi alam semesta kita.
"Hasil dari DES ini memberikan pencerahan baru bagi pemahaman kita tentang alam semesta," ujar Regina Rameika, Rekan Direktur Kantor Fisika Energi Tinggi di Departemen Energi AS. Ia menekankan bahwa investasi jangka panjang dalam menggabungkan berbagai jenis analisis adalah kunci untuk memecahkan misteri kosmos terbesar.
Eksistensi energi gelap mulai terendus pada tahun 1998 ketika astronom menemukan bahwa galaksi-galaksi menjauh dari Bumi dengan kecepatan yang terus meningkat. Saat ini, ilmuwan meyakini bahwa energi gelap mencakup sekitar 68% dari total energi dan materi di alam semesta.
Menariknya, energi gelap tidak selalu mendominasi. Kekuatannya baru mulai "mengambil alih" dan mengalahkan gaya gravitasi sekitar 3 hingga 7 miliar tahun yang lalu.
Dalam studi ini, tim DES merekonstruksi distribusi materi selama 6 miliar tahun terakhir. Mereka membandingkan data tersebut dengan dua model utama:
Meskipun data sangat cocok dengan model standar, peneliti menemukan satu parameter yang ganjil. Prediksi tentang bagaimana galaksi berkumpul (clustering) berdasarkan pengukuran alam semesta awal ternyata tidak sesuai dengan apa yang terlihat saat ini. Perbedaan antara teori dan observasi justru semakin nyata.
"Melihat hasil ini adalah perasaan yang luar biasa. Ini adalah sesuatu yang hanya berani saya impikan saat DES mulai mengumpulkan data," kata Yuanyuan Zhang dari NOIRLab.
Langkah selanjutnya bagi komunitas sains adalah menggabungkan data DECam dengan observasi dari Observatorium Vera C. Rubin yang baru saja selesai dibangun. Dengan target pengamatan 20 miliar galaksi, gambaran mengenai masa lalu dan masa depan alam semesta kita diprediksi akan jauh lebih terang.
Penelitian ini telah diajukan ke jurnal Physical Review D dan kini dapat diakses melalui repositori ilmiah arXiv. (Space/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved