Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
NASIB komet yang diprediksi akan melintas dekat Bumi lima tahun lalu masih menjadi teka-teki besar bagi dunia astronomi. Meski sempat hancur secara dramatis saat memasuki sistem tata surya bagian dalam, beberapa astronom meyakini sebagian kecil dari komet tersebut mungkin masih mengorbit di luar sana.
Pada awal 2020, para ilmuwan menemukan pengembara es yang dikenal sebagai C/2019 Y4 ATLAS. Komet ini awalnya diprediksi akan menyuguhkan pemandangan spektakuler di langit malam saat masa lockdown pandemi Covid-19. Namun, harapan itu pupus ketika komet tersebut pecah menjadi puluhan bagian saat mendekati matahari.
Tim astronom yang dipimpin oleh Salvatore A. Cordova Quijano dari Universitas Boston mencoba melacak keberadaan puing-puing tersebut. Dalam makalah terbaru yang diterbitkan di The Astronomical Journal, mereka menduga ada bongkahan komet selebar setengah kilometer yang masih bertahan dan kini tengah bergerak kembali menuju kegelapan tata surya bagian luar.
Meski pengamatan menggunakan Lowell Discovery Telescope di Arizona dan Zwicky Transient Facility pada musim gugur 2020 tidak membuahkan hasil, para peneliti belum menyerah. Nihilnya penangkapan gambar bukan berarti komet tersebut telah lenyap sepenuhnya.
"Nasib C/2019 Y4 yang tidak pasti menimbulkan pertanyaan menarik," tulis para astronom dalam studi tersebut. "Berapa banyak komet yang dianggap hancur sebenarnya benar-benar hancur total, dan mungkinkah ada di antara mereka yang sebenarnya selamat dengan inti yang mengecil dan tidak aktif?"
Komet ATLAS pertama kali terlihat pada Desember 2019 sebagai titik cahaya redup. Keberadaannya sempat memicu kegembiraan karena tingkat kecerahannya meningkat sangat cepat. Sayangnya, pada akhir April 2020, komet tersebut pecah menjadi beberapa gugusan puing es yang disebut fragmen A dan fragmen B.
Data terakhir menunjukkan bahwa fragmen A kemungkinan besar telah berubah menjadi awan gas dan debu. Sementara itu, fragmen B, yang sebelumnya berukuran lebar sekitar 1,2 kilometer, diduga mengalami disintegrasi lebih lanjut.
"Kami tidak dapat menyimpulkan dari data yang tersedia apakah masih ada fragmen berukuran besar," tulis mereka. "Peristiwa disintegrasi yang teramati telah menghasilkan fragmen tahan lama sekecil diameter 0,3 kilometer, yang mana lebih kecil dari batas deteksi kami."
Kehancuran C/2019 Y4 memberikan kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk mempelajari bagaimana komet hancur akibat panas matahari yang intens. Studi ini sekaligus menjadi peringatan bagi para astronom di masa depan untuk lebih sigap melakukan pengamatan lanjutan segera setelah komet muncul kembali dari balik matahari.
Meskipun sudah terlambat untuk memastikan nasib akhir komet ATLAS, penelitian ini menjadi panduan penting dalam mendeteksi "komet mini" yang mungkin masih mengorbit matahari setelah inti utamanya hancur. (Space/Z-2)
Penelitian terbaru ungkap Bumi berada di 'Goldilocks Zone' kimiawi yang langka. Tanpa kadar oksigen yang tepat, DNA dan kehidupan takkan pernah ada.
Analisis terbaru data Voyager 2 mengungkap mengapa sabuk radiasi Uranus sangat kuat. Ternyata, ada peristiwa cuaca antariksa langka saat misi berlangsung.
Astronom menggunakan teleskop James Webb untuk mengungkap misteri pembentukan planet raksasa di sistem HR 8799. Temuan ini mengubah cara ilmuwan membedakan planet dan bintang gagal.
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Sabuk Orion terdiri dari tiga bintang superraksasa biru yang sangat terang. Alnitak, Alnilam, dan Mintaka bersinar hingga 200.000 kali Matahari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved