Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
HAMPIR semua benda di luar angkasa berputar pada porosnya. Bumi membutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk satu kali putaran, sementara Venus membutuhkan 243 hari Bumi. Namun, bagaimana dengan Matahari? Ternyata, jawaban atas pertanyaan tersebut sangat bergantung pada dari mana Anda melihatnya dan bagian mana yang Anda ukur.
Sejarah pencatatan rotasi Matahari dimulai tahun 1612, ketika Galileo Galilei mengamati pergerakan bintik matahari (sunspots) melalui teleskopnya. Galileo menyimpulkan Matahari berputar satu kali setiap 28 hari.
Beberapa abad kemudian, astronom Inggris Richard Carrington melakukan pengukuran yang lebih presisi. Ia menemukan bintik matahari di wilayah lintang tertentu membutuhkan waktu 27,3 hari untuk mengelilingi Matahari sepenuhnya. Namun, angka ini memiliki sedikit kendala teknis karena diukur dari perspektif Bumi.
Karena Bumi juga bergerak mengelilingi Matahari dengan arah yang sama dengan rotasi surya, pengukuran dari Bumi (disebut laju rotasi sinodik) menjadi lebih lambat sekitar dua hari.
"Dari perspektif fisika murni, laju sideris (relatif terhadap bintang-bintang) adalah laju rotasi yang benar," jelas Nicholeen Viall, astrofisika riset di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA.
Berdasarkan laju sideris ini, Matahari sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar 25,4 hari untuk berotasi pada porosnya di wilayah yang diamati Carrington.
Salah satu fakta paling unik tentang Matahari adalah "rotasi diferensial". Karena Matahari terdiri dari gas dan plasma, bukan benda padat seperti Bumi, setiap bagiannya berputar dengan kecepatan yang berbeda-beda.
"Menarik bahwa tidak ada satu pun laju rotasi yang dapat mendeskripsikan Matahari secara utuh," ujar J. Todd Hoeksema, fisikawan surya dari Stanford University. "Setiap bagian tampaknya memiliki lajunya sendiri."
Melalui teknologi modern seperti helioseismologi (menggunakan gelombang suara di dalam Matahari) dan pengamatan pergeseran Doppler, para ilmuwan berhasil memetakan perbedaan tersebut:
Kecepatan putaran ini tidak hanya berbeda berdasarkan lintang, tetapi juga berdasarkan kedalaman. Hingga lapisan zona konveksi (sekitar sepertiga bagian dalam), rotasi masih bervariasi. Namun, jauh di dalam "zona radiatif" yang terletak di antara inti dan zona konveksi, Matahari justru berputar seperti benda padat dengan waktu konstan sekitar 26,6 hari.
Hingga saat ini, para ilmuwan masih belum bisa memastikan seberapa cepat inti Matahari berputar karena keterbatasan alat ukur. Hal ini menjadi tantangan besar bagi generasi peneliti di masa depan untuk memecahkan misteri jantung sang surya. (Live Science/Z-2)
Jelajahi penemuan Galileo Galilei yang revolusioner! Temukan kontribusinya yang mengubah ilmu pengetahuan dan membuka cakrawala baru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved