Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Teka-teki Magnetik Bulan Terpecahkan, Batuan Apollo Ungkap Rahasia "Lava Titanium"

Thalatie K Yani
02/3/2026 13:00
Teka-teki Magnetik Bulan Terpecahkan, Batuan Apollo Ungkap Rahasia
Ilustrasi(Unsplash)

SELAMA puluhan tahun, para ilmuwan terjebak dalam perdebatan mengenai sejarah medan magnet Bulan. Sampel batuan yang dibawa pulang astronot Apollo menunjukkan Bulan purba memiliki medan magnet yang sangat kuat, bahkan lebih kuat dari Bumi. Namun, bukti lain justru menunjukkan kondisi sebaliknya.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience akhirnya memecahkan kontradiksi ini. Profesor Claire Nichols dari Universitas Oxford menemukan rekam jejak magnetik yang kuat tersebut bukanlah gambaran umum sejarah Bulan, melainkan hanya "ledakan" singkat yang dipicu aktivitas vulkanik yang unik.

Bias Sampel dan Peran Lava Titanium

Kunci dari misteri ini terletak pada lokasi pendaratan misi Apollo. Para astronot mendarat di dataran vulkanik gelap yang kaya akan lava tinggi titanium. Nichols mendokumentasikan batuan yang memiliki daya magnet paling kuat semuanya berasal dari aliran lava langka yang kaya akan titanium ini.

Karena sampel yang diambil terbatas pada wilayah tersebut, muncul interpretasi yang keliru bahwa Bulan memiliki medan magnet kuat dalam jangka waktu yang sangat lama. Kenyataannya, magnetisme kuat ini hanyalah lonjakan singkat yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 5.000 tahun, atau bahkan hanya dalam hitungan dekade.

Mesin Panas di Jantung Bulan

Fenomena ini berkaitan erat dengan proses di kedalaman Bulan. Pelelehan yang menciptakan lava kaya titanium juga memompa panas keluar dari inti logam Bulan yang kecil (berdiameter sekitar 400 mil). Lonjakan panas di perbatasan inti dan mantel ini memicu gejolak pada logam cair di dalam inti, yang kemudian menciptakan efek dinamo, mesin penggerak medan magnet.

Namun, karena keterbatasan energi di interior Bulan, kekuatan ini tidak bisa bertahan lama. Setelah panas tambahan habis, medan magnet Bulan segera melemah kembali.

Menatap Masa Depan Bersama Misi Artemis

Penemuan ini sekaligus menjelaskan mengapa peta orbit Bulan menunjukkan bercak-bercak magnetik yang tidak merata. Loncakan global yang singkat meninggalkan jejak di beberapa wilayah, sementara periode tenang yang panjang membuat wilayah lain hampir tidak memiliki rekaman magnetik.

Profesor Nichols menekankan pentingnya menyadari keterbatasan data dari misi-misi terdahulu.

“Sekarang tampaknya bias pengambilan sampel mencegah kita menyadari betapa singkat dan jarangnya peristiwa magnetisme kuat ini terjadi,” ujar Nichols dalam pernyataannya.

Kini, harapan tertuju pada program Artemis milik NASA. Dengan rencana pendaratan di wilayah yang jauh dari lokasi Apollo, para ilmuwan berharap dapat mengambil sampel dari dataran lava yang berbeda atau wilayah dataran tinggi. Hal ini akan membuktikan apakah lonjakan magnetisme ini terjadi secara global atau hanya terbatas pada zona pelelehan dalam tertentu.

Penelitian ini menjadi pelajaran penting bagi misi penjelajahan ruang angkasa di masa depan: pilihan lokasi pendaratan yang aman bagi astronot terkadang dapat membatasi pemahaman kita tentang sejarah geologi sebuah planet secara utuh. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya