Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Astronom Temukan Bukti Jelas Ledakan CME dari Bintang Jauh

Muhammad Ghifari A
16/11/2025 09:05
Astronom Temukan Bukti Jelas Ledakan CME dari Bintang Jauh
Ilustrasi CME meletus dari sebuah bintang.(NNASA/CXC/INAF/Argioffi, C. dkk./S. Wiessinger)

ASTRONOM menemukan bukti yang jelas mengenai ledakan gas bermuatan besar dari bintang yang sangat jauh. Temuan ini menandai suatu kemajuan dalam penelitian mengenai cuaca luar angkasa.

Ledakan ini berasal dari sebuah bintang katai merah yang terletak sekitar 130 tahun cahaya dari kita. Fenomena ini diidentifikasi sebagai lontaran massa koronal (CME), yang merupakan jenis peristiwa ledakan yang juga bisa dilihat dalam bentuk aurora dengan warna-warni indah yang terlihat di langit. Cakrawala yang penuh warna tersebut merupakan konsekuensi dari awan plasma magnetik besar yang meluncur menuju Bumi dan berinteraksi dengan partikel gas di atmosfer.

Para ilmuwan telah bertanya-tanya selama ini jika bintang lain juga memproduksi jenis ledakan serupa. Banyak eksoplanet mengorbit bintang kecil dan ganas, dan kedekatan ini membuatnya rentan terhadap letusan bintang yang bisa mengikis atmosfer mereka. Jika bintang-bintang ini sering melepaskan ledakan yang kuat, hal ini akan mengurangi kemungkinan planet-planet tersebut dapat mendukung kehidupan.

Penemuan CME di luar matahari mengakhiri keraguan bertahun-tahun mengenai keberadaan letusan serupa dari bintang lain. Sebelumnya, para peneliti hanya menemukan petunjuk, seperti perubahan tiba-tiba atau pergeseran cahaya dari bintang. Namun, sebuah tim internasional berhasil melakukan pengamatan dengan mendeteksi semburan gelombang radio selama dua menit yang beranjak jauh dari bintang tersebut.

"Sinyal radio semacam ini hanya bisa ada jika material telah sepenuhnya keluar dari pengaruh gelembung magnetik yang kuat dari bintang itu," ungkap Joe Callingham dari Institut Astronomi Radio Belanda dalam sebuah pernyataan.

Penemuan ini, yang diterbitkan di Nature pada minggu ini, menggunakan data dari dua observatorium utama di Eropa. Dua data itu Low Frequency Array, jaringan teleskop radio yang tersebar di seluruh benua dan observatorium luar angkasa XMM-Newton yang dikelola Badan Antariksa Eropa.

Dampak dari lontaran massa koronal

Ketika CME bergerak, ia menciptakan gelombang kejut yang memancarkan gelombang radio yang berpindah dari frekuensi tinggi ke frekuensi rendah seiring waktu. Tim peneliti telah mengidentifikasi pola khas dalam sinyal dari katai merah yang dikenal sebagai StKM 1-1262, yang menunjukkan  letusan itu telah terlepas dari medan magnet bintang dan memasuki ruang antarbintang.

"Letusan ini akan sangat mematikan bagi planet yang berada di sekitar bintang tersebut," jelas Callingham, penulis utama makalah tersebut.

Di Bumi, atmosfer dan medan magnet melindungi makhluk hidup dari efek berbahaya radiasi matahari selama badai. Namun, peristiwa ini dapat merusak satelit dan jaringan listrik. Contohnya, suar matahari pada Maret 1989 menyebabkan seluruh wilayah Quebec di Kanada mengalami pemadaman listrik selama dua belas jam. Suar matahari juga mengganggu sinyal radio dari Radio Free Europe.

Ledakan dari bintang katai merah ini sangat ekstrem, bahkan jika dibandingkan dengan matahari. Bahan yang terlempar keluar bergerak dengan kecepatan sekitar 5,37 juta mph, sebuah kecepatan yang hanya tercatat dalam sebagian kecil CME dari matahari. Energi sebesar itu cukup untuk melemahkan atmosfer planet yang mengorbit dekat dengan bintang tersebut, membuat permukaannya terpapar radiasi dan mengubahnya menjadi tanah tanpa lapisan, seperti yang diungkap dalam penelitian tersebut.

Sistem bintang katai merah dan kemungkinan untuk mendukung kehidupan

Katai merah seperti StKM 1-1262 lebih kecil dan lebih redup ketimbang matahari, tetapi memiliki aktivitas magnetis yang jauh lebih tinggi. Mereka merupakan mayoritas bintang di Bima Sakti dan memiliki jumlah planet yang paling banyak diketahui, dengan ukuran yang hampir sama dengan Bumi. Karena zona layak huni mereka, daerah di alam semesta dengan suhu yang ideal untuk memungkinkan adanya air cair di permukaannya, berada jauh lebih dekat dengan bintang, planet-planet ini mungkin tidak jarang terkena badai bintang.

"Cuaca luar angkasa yang ekstrem sepertinya lebih parah di sekitar bintang-bintang yang lebih kecil, rumah utama bagi eksoplanet yang mungkin dapat dihuni," ungkap Henrik Eklund, seorang peneliti dari Badan Antariksa Eropa yang berlokasi di Belanda, dalam sebuah pernyataan.

Tim ilmuwan yang memimpin program pengamatan penting dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA sedang berusaha menjawab pertanyaan. Apakah planet berbatu yang mengorbit bintang-bintang ini, yang juga dikenal sebagai katai-M, dapat mempertahankan atmosfer mereka.

Kampanye ini, yang diumumkan pertama kali oleh Mashable tahun 2024, bertujuan untuk memanfaatkan Webb dalam mencari tanda-tanda karbon dioksida, gas yang menyimpan panas, dengan menggunakan pendekatan baru untuk mempelajari atmosfer yang dinamakan teknik gerhana sekunder. Sementara itu, Teleskop Luar Angkasa Hubble akan memfokuskan perhatian pada bintang-bintang itu sendiri, menganalisis radiasi ultraviolet yang dihasilkannya.

"Jika terbukti bahwa tidak ada di antara mereka yang memiliki atmosfer, itu akan sangat mengecewakan," kata Néstor Espinoza, seorang astronom yang mengarahkan program tersebut, kepada Mashable, "tetapi juga cukup menarik. Ini akan menandakan sistem planet kita sesungguhnya sangat, sangat unik. "

Observatorium masa depan akan memperluas penelitian ini untuk mengenali lebih banyak letusan bintang serta memetakan dampak letusan tersebut terhadap lingkungan planet di seluruh galaksi. (Mashable/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya