Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Aurora Makin Sering Terlihat, Ilmuwan Ungkap Dampak Puncak Aktivitas Matahari

Abi Rama
04/2/2026 13:14
Aurora Makin Sering Terlihat, Ilmuwan Ungkap Dampak Puncak Aktivitas Matahari
Ilustrasi(freepik)

FENOMENA aurora atau Northern Lights belakangan ini semakin sering terlihat, bahkan hingga wilayah yang lebih selatan dari biasanya. Para ilmuwan menjelaskan bahwa kemunculan aurora tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya aktivitas Matahari, khususnya kemunculan bintik Matahari yang menandai puncak siklus surya.

Aurora terjadi ketika partikel bermuatan dari Matahari berinteraksi dengan atmosfer dan medan magnet Bumi. Partikel-partikel ini dilepaskan melalui peristiwa yang dikenal sebagai Coronal Mass Ejections (CME), yakni lontaran besar plasma dan medan magnet dari permukaan Matahari.

Meningkatnya Aktivitas Matahari

Dilansir dari laman BBC, Elaine Mahy dari Astronomy Section La Societe Guernesiaise menjelaskan bahwa CME lebih sering terjadi ketika Matahari memasuki fase solar maximum. Pada fase ini, jumlah bintik Matahari meningkat, menandakan aktivitas Matahari yang sedang sangat tinggi.

“Ketika siklus Matahari berada di puncaknya, lebih banyak suar Matahari dan lontaran massa korona yang terjadi. Partikel-partikel inilah yang memicu aurora saat mencapai Bumi,” jelas Mahy.

Siklus Matahari sendiri berlangsung sekitar 11 tahun dan diukur berdasarkan jumlah bintik Matahari yang tampak di permukaannya. Menurut Mahy, siklus yang lebih kuat biasanya berlangsung lebih singkat, sementara siklus yang lebih lemah cenderung lebih panjang. Namun, para ilmuwan tidak selalu dapat memastikan secara tepat kapan puncak siklus benar-benar terjadi.

“Saat ini, kita masih berada dalam fase yang sangat aktif,” tambahnya.

Senada dengan itu, Senior Meteorolog Penyiaran BBC South West, David Braine, menyebutkan tahun 2025 dan 2026 diyakini menjadi puncak dari solar cycle 25. Berdasarkan analisis National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan NASA, siklus Matahari ke-25 diperkirakan memiliki karakteristik yang mirip dengan siklus sebelumnya.

Jangkauan Aurora Hingga Wilayah Selatan

Braine menjelaskan meningkatnya intensitas dan jangkauan aurora hingga wilayah selatan terjadi karena badai geomagnetik yang lebih kuat dan lebih sering saat Matahari berada di puncak aktivitasnya. Jika badai tersebut mengarah ke Bumi, maka cahaya aurora dapat terlihat lebih luas dari biasanya.

Meski tidak semua badai geomagnetik dapat terlihat dengan mata telanjang, kemajuan teknologi kamera ponsel memungkinkan aurora yang samar sekalipun tertangkap melalui pengaturan eksposur.

Para ahli juga memperkirakan setelah fase puncak ini, Matahari akan memasuki periode minimum dalam sekitar lima tahun ke depan, yang diprediksi berlangsung cukup lama. Adapun puncak aktivitas Matahari berikutnya diperkirakan baru akan terjadi sekitar tahun 2037.

Dengan masih tingginya aktivitas Matahari saat ini, peluang menyaksikan aurora dalam beberapa waktu ke depan dinilai masih terbuka, terutama di wilayah dengan langit gelap dan minim polusi cahaya. (BBC./Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya