Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Seberapa Besar Planet Bisa Tumbuh? Temuan Terbaru NASA dan James Webb Ungkap Batas Baru

Abi Rama
11/2/2026 23:26
Seberapa Besar Planet Bisa Tumbuh? Temuan Terbaru NASA dan James Webb Ungkap Batas Baru
Ilustrasi luar angkasa.(Dok. Freepik)

PERNAHKAH Anda membayangkan seberapa besar sebuah planet bisa tumbuh sebelum ia berubah menjadi bintang? Pertanyaan mendasar dalam astronomi ini akhirnya mendapatkan titik terang baru pada awal 2026. Melalui pengamatan mendalam Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para ilmuwan NASA menemukan bahwa planet raksasa gas ternyata memiliki kapasitas pertumbuhan yang jauh melampaui teori-teori sebelumnya.

Laporan terbaru yang dirilis melalui jurnal Nature Astronomy pada Senin (9/2/2026) mengungkapkan hasil observasi terhadap sistem bintang HR 8799. Temuan ini menantang pemahaman kita mengenai garis pemisah antara planet raksasa dan katai cokelat (brown dwarf), objek yang sering dijuluki sebagai "bintang gagal".

Misteri Akresi Inti: Bagaimana Planet Raksasa Terbentuk?

Selama beberapa dekade, astronom memegang teori akresi inti (core accretion) sebagai standar pembentukan planet. Dalam proses ini, debu dan material padat di piringan protoplanet perlahan menggumpal membentuk inti yang masif. Setelah massa inti mencapai titik kritis, ia akan mulai menyedot gas di sekitarnya dengan sangat cepat.

Namun, muncul sebuah perdebatan besar: Apakah proses ini efektif untuk menciptakan planet dengan massa 5 hingga 10 kali lipat Jupiter, terutama di orbit yang sangat jauh dari bintang induknya? Di wilayah terluar sistem bintang, material biasanya terlalu tipis untuk mendukung pembentukan planet raksasa secara perlahan.

Karakteristik Planet Raksasa Gas (Jupiter) Planet di Sistem HR 8799
Massa Estimasi 1 Massa Jupiter 5 - 12 Massa Jupiter
Metode Pembentukan Akresi Inti Terbukti Akresi Inti (Temuan JWST)
Jarak dari Bintang Dekat (5.2 AU) Sangat Jauh (Orbit Luar)

Sidik Jari Kimia: Peran Sulfur dalam Menentukan Identitas Planet

Tim peneliti yang dipimpin oleh Jean-Baptiste Ruffio menggunakan instrumen spektrograf inframerah pada JWST untuk mencari bukti fisik mekanisme pembentukan tersebut. Mereka fokus mencari molekul hidrogen sulfida di atmosfer planet HR 8799 c.

Mengapa sulfur begitu penting? Sulfur adalah elemen yang biasanya terikat pada butiran padat di piringan protoplanet. Jika sebuah planet kaya akan sulfur, itu adalah bukti kuat bahwa planet tersebut "memakan" banyak material padat selama masa pertumbuhannya—sebuah ciri khas dari mekanisme akresi inti.

Hasilnya mengejutkan. Deteksi hidrogen sulfida di atmosfer HR 8799 c membuktikan bahwa objek masif ini terbentuk seperti planet biasa, bukan melalui keruntuhan awan gas mendadak seperti proses lahirnya bintang. Ini berarti, batasan mengenai seberapa besar planet bisa tumbuh secara bertahap kini harus dikalibrasi ulang.

Implikasi Bagi Definisi Katai Cokelat

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi klasifikasi objek langit. Selama ini, objek dengan massa di atas 13 kali Jupiter seringkali langsung dikategorikan sebagai katai cokelat karena kemampuannya melakukan fusi deuterium. Namun, jika mekanisme akresi inti bisa menghasilkan objek yang sangat masif, maka perbedaan antara planet dan bintang gagal menjadi semakin kabur.

Penelitian ini membuktikan bahwa alam semesta jauh lebih kreatif dalam membentuk dunia-dunia baru daripada yang kita duga. Dengan teknologi JWST, kita kini mulai memahami bahwa "raksasa" di luar sana mungkin memiliki sejarah kelahiran yang serupa dengan Jupiter di tata surya kita sendiri.

Hingga saat ini, beberapa eksoplanet seperti GQ Lupi b dan ROXs 42Bb tercatat memiliki massa yang sangat besar, namun klasifikasinya sering diperdebatkan antara planet atau katai cokelat. (Space/H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya