Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom baru saja mendefinisikan ulang batas ukuran maksimal sebuah objek untuk bisa disebut sebagai planet. Melalui pengamatan terbaru dari Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), ilmuwan menemukan raksasa gas dengan massa ekstrem ternyata terbentuk melalui proses yang sama dengan planet biasa, bukan seperti proses pembentukan bintang.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Astronomy pada 9 Februari ini berfokus pada sistem HR 8799. Sistem ini berjarak sekitar 133 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki sebuah bintang muda mirip matahari yang dikelilingi oleh empat raksasa gas masif.
Setiap planet di sistem ini memiliki massa antara lima hingga sepuluh kali lipat dari Jupiter. Ukuran yang luar biasa besar ini menempatkan mereka di "zona abu-abu" antara kategori planet dan brown dwarf (katai cokelat). Objek sub-bintang yang sering dijuluki sebagai "bintang gagal".
Selama bertahun-tahun, komunitas astronom berdebat apakah planet semasif itu bisa terbentuk melalui proses core accretion (akresi inti). Ini adalah proses lambat di mana material padat berkumpul menjadi inti padat, yang kemudian menarik gas dalam jumlah besar. Tantangannya, planet-planet di sistem HR 8799 berada di orbit yang sangat jauh dari bintang induknya, di mana material pembentuk planet biasanya sangat langka.
Untuk memecahkan misteri ini, tim peneliti menggunakan spektrograf inframerah milik JWST untuk menganalisis komposisi kimia atmosfer planet-planet tersebut. Mereka mencari molekul pembawa belerang, unsur yang biasanya berasal dari butiran padat pada cakram pembentuk planet purba.
Data spektral dari JWST berhasil mendeteksi hidrogen sulfida di atmosfer HR 8799 c, salah satu planet raksasa di sistem tersebut. Kehadiran zat ini menjadi bukti kuat bahwa planet tersebut terbentuk dengan merakit inti padat terlebih dahulu sebelum akhirnya menarik gas secara cepat. Sidik jari kimiawi ini sulit dijelaskan jika planet tersebut terbentuk melalui keruntuhan gas secara mendadak seperti proses pembentukan bintang.
Jean-Baptiste Ruffio, penulis utama studi tersebut, menyatakan temuan ini sangat tidak terduga. "Dengan deteksi belerang, kita dapat menyimpulkan planet-planet HR 8799 kemungkinan besar terbentuk dengan cara yang mirip dengan Jupiter, meskipun massanya lima hingga sepuluh kali lebih besar, yang mana ini tidak terduga," ujar Ruffio dalam sebuah pernyataan resmi.
Studi ini membuktikan proses pembentukan planet dapat beroperasi secara efisien bahkan pada massa dan jarak yang ekstrem. Jika temuan ini terkonfirmasi di sistem lain, para astronom mungkin harus mengubah cara mereka menarik garis batas antara planet raksasa dan bintang gagal. (Space/Z-2)
Sebuah gambar dari Teleskop Observatorium Selatan Eropa di Chili menampilkan bintang muda yang dikelilingi cakram gas dan debu berbentuk mata berputar.
Analisis terbaru data Voyager 2 mengungkap mengapa sabuk radiasi Uranus sangat kuat. Ternyata, ada peristiwa cuaca antariksa langka saat misi berlangsung.
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Sabuk Orion terdiri dari tiga bintang superraksasa biru yang sangat terang. Alnitak, Alnilam, dan Mintaka bersinar hingga 200.000 kali Matahari.
Gerhana matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026. Simak fase, waktu puncak, lokasi pengamatan, dan alasan Indonesia tidak bisa menyaksikannya.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved