Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG kawan bertanya kepada saya: apakah di usia kemerdekaan yang ke-79 tahun ini, negeri ini sudah sukses membentuk peradaban? Atau, jangan-jangan angan-angan mencecap keunggulan peradaban itu kian jauh dari kenyataan Indonesia kekinian?
Saya tidak tahu persis ke mana arah pertanyaan itu hendak dituju. Atau, seriuskah dia dengan pertanyaan itu? Jangan-jangan ia hendak menyindir. Ah, sudahlah. Enggak terlalu penting apa maksud di balik pertanyaan itu. Jauh lebih penting ialah substansi pertanyaan itu.
Satu hal yang pasti, pertanyaan itu membuat saya merenung, berpikir, dan tidak buru-buru menjawab. Takut kepleset. Di tengah permenungan itu, tiba-tiba di grup pertukaran gagasan dan percakapan pesan yang saya ikuti, meluncur sebuah tulisan pendek tapi padat dari seorang pemikir dan pelahap buku-buku: Hamid Basyaib. Di grup itu, dia menulis Kapan Peradaban Bermula?.
Baca juga : Jadi Mantan Presiden, Enak?
Tentu, saya amat terbantu dalam menjawab pertanyaan seorang teman soal kemerdekaan dan capaian peradaban itu. Hamid mengutip kisah antropolog Margaret Mead yang pernah mengajar di Columbia University Amerika Serikat.
Suatu hari, Mead pernah ditanya seorang mahasiswanya apa yang ia anggap sebagai tanda pertama peradaban dalam sebuah kebudayaan. Mahasiswa itu mengharap Mead bicara tentang kail ikan, pot tanah liat, atau batu penggiling yang lazim ditemukan para peneliti sebagai tonggak peradaban.
Tapi tidak. Mead mengatakan tanda pertama peradaban dalam budaya kuno ialah tulang paha (femur) yang telah patah dan kemudian sembuh. Ia menjelaskan bahwa dalam kerajaan hewan, jika kau patah kaki, kau akan mati.
Baca juga : Sean Gelael Optimistis Raih Podium di Sao Paolo
Kau tidak bisa lari dari bahaya, tak bisa pergi ke sungai untuk minum, atau untuk berburu makanan. Kau hanya akan menjadi mangsa bagi binatang buas yang selalu mengintai. Tidak ada hewan patah kaki yang mampu bertahan hidup cukup lama hingga tulang pahanya sembuh. Ia pasti keburu dimangsa hewan ganas sebelum pulih.
Femur yang patah kemudian sembuh adalah bukti bahwa seseorang telah meluangkan waktu untuk tinggal bersama orang yang patah kaki itu. Ada orang yang telah membalut lukanya, membawa orang tersebut ke tempat yang aman, dan merawatnya hingga pulih.
“Membantu orang lain melewati kesulitan itulah saat peradaban dimulai,” kata Mead, seperti ditulis Ira Robert Byock, penulis sekaligus dokter Amerika. “Kita berada pada kondisi terbaik ketika kita membantu orang lain."
Baca juga : SDN 085 Ciumbuleuit dan SDN 043 Cimuncang Raih Podium Teratas
Jadi, tombak besi, kendi keramik, dan benda-benda yang selama ini lazim disebut sebagai penanda peradaban itu ialah artefak, atau hanya aspek fisis dari permulaan peradaban. 'Awal dan inti peradaban adalah compassion, kesediaan menolong orang lain', tulis Hamid.
Dengan merujuk itu, setidaknya ada tolok ukur sampai di mana tingkat peradaban berhasil negeri ini capai. Apakah 'kesediaan menolong yang lain' bahkan sudah meningkat menjadi 'menghasilkan sebanyak-banyaknya manfaat bagi orang lain'? Atau, sebagian kita bahkan cenderung 'abai terhadap orang lain', bahkan 'mengorbankan orang lain untuk kepentingan individu'?
Jika gejala terakhir yang terjadi, sulit rasanya untuk berkata kita sudah menuju puncak peradaban. Malah, bisa-bisa kita sedang tergelincir di papan bawah peradaban. Terlalu banyak soal menumpuk tanpa sanggup tuntas untuk diurai.
Baca juga : Semangat Juang Jadi Modal bagi Nizar Raih Podium Bali Trail Run Ultra 2024
Saya jadi teringat sejarah ketika usia kemerdekaan kita baru tiga tahun. Bung Karno, sang proklamator, sudah mengingatkan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir segalanya. Kemerdekaan justru merupakan permulaan yang membangkitkan tantangan sekaligus menuntut jawaban.
Dalam pidatonya yang diberi judul Seluruh Nusantara Berjiwa Republik pada 17 Agustus 1948, Bung Karno mengingatkan, "Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangunkan soal-soal; tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu. Hanya ketidakmerdekaanlah yang tidak memberi jalan untuk memecahkan soal-soal. Rumah kita dikepung, rumah kita hendak dihancurkan. Bersatulah! Bhinneka Tunggal Ika. Kalau mau dipersatukan, tentulah bersatu pula!"
Kemerdekaan menuntut banyak hal, yang hanya bisa dipenuhi jiwa merdeka. Namun, di sinilah letak paradoks Indonesia masa kini. Di satu sisi, ledakan kebebasan membangkitkan harapan rakyat akan kehidupan yang lebih baik, lebih adil, lebih sejahtera. Namun, kenyataannya, sebagian janji meraih kebaikan, keadilan, dan kesejahteraan itu bergerak seperti siput.
Kehidupan untuk mendatangkan manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain sebagai penanda gerbang peradaban mulai terlihat remang-remang. Maka jalan untuk memecahkan soal-soal sebagaimana amanat kemerdekaan pun makin terjal. 'Kaki kemerdekaan' kita sepertinya sarat beban sehingga kita tidak kunjung melesat. Daftar soal kian berderet, sedangkan laci solusi kian kosong.
Masih banyak janji kemerdekaan yang belum tuntas dan lunas. Sebagian janji memang sudah dilunasi. Namun, sebagian janji lainnya dirasakan jalan di tempat, bahkan mungkin putar arah dan mundur. Ada beberapa jalan yang melenceng, tapi belum kembali ke arah yang benar walau sudah berulang diteriakkan.
Semoga masih ada kemampuan menggapai puncak peradaban karena masih ada yang mau mendengar teriakan.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved