Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
MAHKAMAH Konstitusi (MK) menolak permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada). MK menilai para pemohon tidak mampu membuktikan adanya kerugian konstitusional yang nyata akibat berlakunya norma yang diuji.
Dalam Putusan Nomor 266/PUU-XXIII/2025, Hakim Konstitusi Saldi Isra menyatakan para pemohon, baik dalam kapasitas sebagai warga negara yang memiliki hak memilih dan dipilih maupun sebagai anggota DPRD Provinsi Papua, tidak menguraikan secara jelas kerugian konstitusional yang dialami.
“Para pemohon tidak secara jelas dan rinci menguraikan kerugian sesungguhnya yang dialami dalam kaitannya sebagai warga negara yang memiliki hak untuk dipilih dan memilih akibat berlakunya norma yang dimohonkan pengujian,” ujar Saldi dalam sidang pengucapan putusan di Gedung MK, Senin (2/2).
Saldi menjelaskan, para pemohon tetap dapat menyalurkan hak pilihnya tanpa hambatan, serta telah mengetahui sejak awal bahwa dalam Pilkada, gubernur dan wakil gubernur dipilih sebagai satu pasangan calon.
“Pemohon telah mengetahui bahwa gubernur dan wakil gubernur adalah pasangan calon, di mana wakil gubernur menggantikan gubernur apabila terjadi halangan tetap,” katanya.
Mahkamah juga menilai, dalam kapasitas pemohon sebagai anggota DPRD Provinsi Papua, saluran konstitusional untuk menyampaikan aspirasi dan kepentingan hukum tetap tersedia secara institusional.
“Pemohon dapat menyampaikan aspirasi terkait kepentingan hukumnya melalui DPRD provinsi maupun melalui partai politik secara berjenjang,” kata Saldi.
Karena itu, MK tidak menemukan adanya hubungan sebab akibat antara dalil kerugian konstitusional yang diajukan dengan berlakunya norma Pasal 173 UU Pilkada yang dimohonkan pengujian.
Sebelumnya, anggota DPRD Provinsi Papua periode 2024-2029, Yeyen, mengajukan permohonan pengujian terhadap Pasal 173 ayat (1) hingga ayat (7) UU Pilkada.
Pemohon menilai ketentuan tersebut merugikan hak konstitusionalnya karena tidak memberi kesempatan bagi DPRD untuk memilih pengganti kepala daerah yang berhenti karena meninggal dunia, mengundurkan diri, atau diberhentikan.
“Pemohon juga menempatkan ada potensi untuk mencalonkan diri sebagai pengganti kepala daerah,” ujar kuasa hukum Pemohon, Hendri Syahrial, dalam sidang perbaikan permohonan.
Pemohon berpendapat penggantian otomatis oleh wakil kepala daerah sebagaimana diatur Pasal 173 ayat (1) UU Pilkada tidak sejalan dengan prinsip demokrasi dan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945. (Dev/P-3)
WAKIL Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menegaskan bahwa DPR RI bersama Pemerintah telah sepakat tidak melakukan revisi UU Pilkada
Kodifikasi ini bertujuan menyatukan beberapa undang-undang yang selama ini terpisah menjadi satu payung hukum yang utuh.
Jika tidak terdapat pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari 30%, maka dilakukan pemilihan putaran kedua.
Ketentuan tersebut diubah tanpa adanya parameter yang jelas sehingga merupakan bentuk ketidakpastian hukum yang adil dan juga bentuk kemunduran demokrasi.
REVISI Undang-Undang Pemilu dan Pilkada dinilai sebagai satu-satunya jalan untuk mengakhiri polemik terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai pemisahan pemilu nasional dan lokal.
LARANGAN merokok dan menggunakan ponsel saat berkendara diminta diperjelas dalam Undang-Undang Lalu Lintas. Pemohon menilai aturan yang ada saat ini masih terlalu umum.
SEORANG advokat menggugat UU Ormas ke Mahkamah Konstitusi (MK) karena menilai aturan yang seharusnya hanya berlaku untuk ormas justru diterapkan juga pada yayasan.
UU ASN terkait pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) karena dinilai menimbulkan ketidakpastian status kerja.
Pemohon adalah WNI yang dituduh melakukan intervensi terhadap pejabat di badan pendapatan daerah
MK tidak terima gugatan Roy Suryo Cs terkait pasal pencemaran nama baik di UU ITE & KUHP. Hakim menilai permohonan kabur dan tidak sinkron. Simak ulasannya
Kuasa hukum Prof Laksanto Utomo, mengatakan keterangan para pihak terkait diharapkan dapat membantu MK melihat lebih konkret bagaimana program MBG dijalankan dan manfaat bagi masyarakat
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved