Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP tahun usai mudik, banyak perantau yang mengajak saudara, teman, atau kerabat ke Jakarta.
Sebagian pemudik kerap membawa keluarganya ke Jakarta usai merayakan lebaran di kampung. Tujuan mereka membawa saudara itu karena ingin mengadu nasib dan memperbaiki ekonomi keluarga di kampung.
Salah satu pemudik Jakarta yang ingin pulang kampung ke Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Yaumal Asri Adi Hutasuhut mengaku kerap diminta membawa keluarganya saat hendak balik ke Jakarta saat mudik lebaran. Namun, permintaan itu tidak bisa diterima langsung olehnya.
Baca juga : Taman Margasatwa Ragunan Tutup saat Lebaran Hari Pertama
“Saya dari dulu kalau mau bawa saudara ke Jakarta itu hati-hati. Memastikan dulu latar belakang pendidikannya dia apa, terus juga pastikan juga kalau belum dapat pekerjaan mau tinggal di mana, butuh uang berapa,” kata Yaumal, Minggu (7/4).
Banyak keluarga pemudik kerap tidak membawa bekal saat ikut keluarganya merantau ke Jakarta. Pikir mereka, sampai dulu dan menginap sementara di rumah saudara, baru mencari pekerjaan di Ibu Kota.
Yaumal mengaku pemikiran itu yang paling ditakutkannya saat diminta membawa saudara merantau ke Jakarta. Sebab, biaya hidup di Ibu Kota tidak murah.
Baca juga : Masih Arus Mudik dan Balik, Car Free Day Ditiadakan pada 23 dan 30 April
“Semua itu saya minta untuk dipersiapkan, saya menolak mereka tiba-tiba datang tangan kosong tanpa persiapan. Bukan menyarankan untuk tiba-tiba datang,” ujar Yaumal.
Yaumal kerap menolak dengan halus atas permintaan keluarganya yang ingin ikut ke Jakarta untuk mengadu nasib dengan cara nekat. Penolakan kerap dilakukan dengan saran.
Dia biasanya menyarankan keluarganya untuk menyebar lamaran pekerjaan sebelum merantau ke Jakarta. Jika sudah diterima, Yaumal baru mengizinkan keluarganya berangkat ke Ibu Kota.
Baca juga : Awal Ramadan, 4.766 Penumpang Diberangkatkan dari Terminal Pulo Gebang
“Bahkan kalau dibilang sebelum ke Jakarta lebih baik sudah sebar CV, apalagi sekarang teknologi sudah mulai maju, ada platform pencari kerja daring,” ucap Yaumal.
Dia juga kerap memberikan pemahaman kepada keluarganya bahwa tidak semua orang yang bekerja di Jakarta sukses. Termasuk juga, tidak langsung bisa bekerja usai tiba di Ibu Kota.
“Kadang kan dipikir orang ‘nih sukses nih di Jakarta, ya sudah bawa lah saudara kamu’, gimana ya orang kampung. Nah mereka enggak tahu kalau ada yang namanya proses, ya harus sabar nunggu kerjaan, enggak bisa datang ke Jakarta langsung dapat kerja,” kata Yaumal.
Baca juga : DKI Bayar Rp207 Miliar untuk Formula E, DPRD: Jangan Maksa
Pemudik lainnya, Syakirun Ni’am juga mengaku akan menolak jika ada keluarga di kampungnya yang ingin ikut ke Jakarta untuk mengadu nasib. Alasannya karena dia tidak memiliki relasi untuk membawa keluarganya bekerja di sebuah perusahaan.
“Enggak membawa (keluarga), soalnya enggak punya jaringan masuk-masukin orang ke perusahaan,” ujar Ni’am.
Ni’am juga akan melarang keluarganya yang ingin ikut ke Jakarta jika tidak memiliki tujuan yang jelas. Penolakan itu biasanya dibarengi dengan cerita realita hidup di Ibu Kota.
Baca juga : Kisruh Bansos DKI, Menko PMK: Data Tidak Akurat
“Beri penjelasan yang rasional, bahwa hidup di Jakarta butuh biaya yang tidak sedikit. Di Jakarta sering menemukan orang kerja nganggur (tidak bekerja) atau gaji tak layak, masa saya bawa orang dari kampung yang belum jelas,” kata Ni’am.
Jakarta merupakan daerah yang menawarkan banyak pekerjaan. Yaumal sendiri mengaku merantau ke Ibu Kota, karena peluang bekerja untuk latar belakang pendidikannya lebih besar di Jakarta.
“Lulusan saya di kampung tidak akan ada lapangan pekerjaannya untuk jurusan saya, ada sih tapi ya tipis,” kata Yaumal.
Baca juga : Sebut Anies Angkat Tangan soal Bansos, Srimul Dituding Politis
Yaumal ada di kubu setuju dan tidak dengan fenomena pemudik membawa keluarga ke Jakarta untuk mengadu nasib. Dia mengamini kebiasaan itu membuat Ibu Kota semakin padat penduduk. Tapi, di sisi lain, dia menilai lapangan pekerjaan di kampung dengan Jakarta tidak sebanding.
“Sebenarnya kan kenapa sih orang-orang berlomba ke Jakarta seperti saya sendiri. Ya saya ke Jakarta karena lapangan pekerjaan yang tidak merata,” ujar Yaumal.
Yaumal mengaku tidak akan merantau jika pemerintah bisa benar-benar membuat lapangan kerja di Indonesia merata. Pemikiran itu yang diyakininya membuat banyak keluarga di kampung ingin ikut pemudik ke Ibu Kota untuk mengadu nasib.
Baca juga : Pemprov DKI Usulkan 2 Juta KK Penerima Bansos Tahap 2 ke Kemensos
“Jadi, antara setuju dan tidak, persoalannya itu kan pemerataan lapangan kerja, kalau misalnya lapangan pekerjaannya merata saya dan kawan-kawan saya yang dari kampung tidak akan ke Jakarta, kita akan stay di kampung,” ucap Yaumal.
Ni’am juga sejatinya tidak melarang ada keluarganya yang mau mengikuti langkahnya merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Menurutnya, pilihan itu hak semua orang dan tidak bisa diganggu.
Tapi, dia meminta perpindahan dari kampung ke Jakarta tidak dilakukan dengan nekat. Sebab, lanjutnya, bisa menyusahkan diri sendiri.
“Setuju (dengan konsep bawa keluarga ke Jakarta usai mudik) kalau lowongan kerja dan kesempatannya sudah jelas,” tutur Ni’am. (Z-3)
Ia menekankan, kebijakan tersebut tidak menjadi kendala bagi Pemprov DKI. Menurutnya, Jakarta telah memiliki kesiapan birokrasi.
Ia mengakui, persoalan sampah sempat terjadi menjelang Lebaran, dipicu gangguan di zona pengolahan di TPST Bantargebang.
Ia menegaskan jika tidak diawasi dengan baik peredaran obat ini berisiko memicu resistensi anti mikroba yang berdampak luas bagi kesehatan masyarakat.
Cegah longsor susulan, Pemkot Jakarta Barat pasang tanggul kayu dolken.
PRABOWO Prabowo Subianto mengecek permukiman warga di bantaran rel kereta api kawasan Senen, Jakarta, Kamis (26/3). Kunjugan tersebut diunggah di Instagram resmi presiden.
PRESIDEN Prabowo Subianto dijadwalkan menerima kunjungan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di Jakarta, Jumat (27/3) Sore. Kedua pemimpin negara itu akan membahas termasuk geopolitik
Berdasarkan data Posko Angkutan Lebaran periode 22 Maret hingga 25 Maret 2026 pukul 14.00 WIB (H hingga H+3), jumlah penumpang yang kembali ke Jawa baru mencapai 36,4% dari total pemudik.
Presiden Prabowo hubungi Mahmoud Abbas dan pemimpin dunia Islam saat Idul Fitri. Langkah ini jadi sinyal kuat diplomasi Indonesia di panggung global.
Idul Fitri juga menghadirkan dinamika lain yang tidak kalah besar: ia menjadi salah satu peristiwa ekonomi terbesar dalam siklus tahunan Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto manfaatkan momen Idul Fitri untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan sejumlah negara muslim.
Kemendukbangga/BKKBN pun berupaya untuk menguatkan keluarga di Idulfitri 1447 Hijriah dengan menggelar 69 posko mudik
GUBERNUR Sulawesi Tengah Anwar Hafid menekankan pentingnya menjadikan Idulfitri sebagai momentum memperkuat persatuan, keikhlasan, dan solidaritas sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved