Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
MENURUNKAN berat badan sering kali menjadi efek samping yang diharapkan oleh banyak orang saat menjalankan ibadah puasa. Namun, perlu dipahami bahwa proses ini merupakan respons fisiologis normal akibat perubahan metabolik dalam tubuh, bukan sesuatu yang harus dipaksakan secara drastis.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga lulusan Universitas Indonesia, dr. Andi Kurniawan, Sp.KO, menegaskan bahwa ada batasan penurunan berat badan yang dikategorikan wajar dan sehat.
Sebagai patokan sederhana, penurunan berat badan yang ideal berkisar antara 0,5–1 kg per minggu, atau tidak lebih dari 4 kg selama satu bulan penuh.
"Sebagai patokan sederhana yang mudah dipahami penurunan wajar adalah 0,5–1 kg per minggu, atau tidak lebih dari 4 kg total selama satu bulan Ramadhan," ujar Andi, Kamis (26/2).
Secara fisiologis, tubuh manusia memang mengalami perubahan saat berpuasa.
Dalam 12–14 jam pertama tanpa asupan, tubuh akan menghabiskan cadangan glikogen otot sekitar 100–120 gram. Setelah
cadangan tersebut habis, tubuh mulai beralih melakukan glukoneogenesis (pembuatan glukosa dari protein dan lemak) serta memecah lemak (lipolisis) untuk mencukupi kebutuhan energi.
Meski demikian, Andi memperingatkan bahwa penurunan berat badan yang drastis, yakni lebih dari dua kilogram per minggu, merupakan tanda bahaya.
Kondisi ini berisiko menyebabkan dehidrasi berat atau hilangnya massa otot (sarkopenia). Gejalanya dapat berupa pusing hebat yang menetap, kulit yang tidak elastis, hingga kelelahan ekstrem yang tidak kunjung membaik meski sudah berbuka.
Tidak semua orang memiliki respons yang sama. Individu dengan berat badan berlebih (overweight/obesitas) cenderung mengalami penurunan lebih besar dibanding mereka yang memiliki berat badan normal.
Sementara itu, bagi populasi umum, rata-rata penurunan berat badan selama 30 hari puasa berkisar antara 0,5 hingga 1,5 kg.
Khusus bagi individu aktif yang tetap berolahraga dan menjaga pola makan, penurunan hingga 2 kg dalam sebulan masih dianggap sehat selama massa otot tetap terjaga.
Namun, Andi menekankan pentingnya pengawasan ketat bagi kelompok tertentu. Lansia di atas 60 tahun berisiko mengalami kehilangan otot yang sulit dipulihkan.
Demikian pula bagi penderita diabetes yang menggunakan insulin, serta remaja yang masih dalam fase pertumbuhan.
"Penderita diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang menggunakan insulin wajib memantau berat badan dan gula darah secara ketat. Remaja yang masih dalam fase pertumbuhan juga memerlukan perhatian khusus karena defisit nutrisi dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan perkembangan kognitif," jelasnya.
Pada akhirnya, pola makan saat berbuka adalah kunci utama. "Perubahan ini tidak terjadi pada semua orang, gaya hidup Anda saat berbuka memegang peranan kunci," tutup Andi. (Ant/Z-1)
Kebiasaan melepas aki yang dulunya dianggap ampuh mencegah aki soak atau korsleting, justru berisiko menimbulkan masalah baru pada mobil modern.
Kawasan dengan aktivitas tinggi seperti Tanah Abang cenderung kembali semrawut jika pengawasan melonggar.
Sekitar 19 persen orang mengalami kenaikan berat badan saat Ramadan akibat pola makan berlebih saat berbuka.
Membuat dodol bukan sekadar urusan rasa. Ia adalah tradisi. Ada yang bergantian mengaduk agar adonan tak gosong, ada yang menyiapkan kayu bakar, ada pula yang sibuk membungkus setelah matang.
Secara fisiologis, puasa dapat membantu menyeimbangkan hormon estrogen dan progesteron serta mendukung proses ovulasi yang lebih sehat melalui penurunan resistensi insulin.
Sekitar 19 persen orang mengalami kenaikan berat badan saat Ramadan akibat pola makan berlebih saat berbuka.
Orang yang berolahraga lebih banyak membakar kalori ekstra, tetapi mereka tidak kehilangan berat badan sebanyak yang diharapkan berdasarkan jumlah kalori yang terbakar.
Diet karnivora tidak direkomendasikan karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang dan tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum.
Setiap orang memiliki respons metabolisme yang berbeda yang dapat dipengaruhi oleh hormon, kebiasaan makan, hingga kondisi kesehatan.
Diet OMAD sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan, khususnya oleh individu yang baru mencoba pola puasa. Sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, apalagi bagi pemula.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved