Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Bahaya Diet Karnivora: Tren Penurunan Berat Badan yang Mengancam Ginjal dan Jantung

Basuki Eka Purnama
10/2/2026 18:17
Bahaya Diet Karnivora: Tren Penurunan Berat Badan yang Mengancam Ginjal dan Jantung
Ilustrasi(Freepik)

TREN diet karnivora yang hanya mengandalkan konsumsi pangan hewani tanpa asupan nabati tengah menjadi sorotan. Meski menjanjikan penurunan berat badan yang instan, pola makan ekstrem ini dinilai tidak aman dan tidak disarankan untuk masyarakat umum oleh pakar gizi dari IPB University.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati, menegaskan bahwa diet ini sangat berisiko jika dijalani dalam jangka panjang. 

"Diet karnivora tidak direkomendasikan karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang dan tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum," jelasnya.

Ilusi Penurunan Berat Badan

Banyak orang tergiur dengan diet ini karena efek penurunan berat badan yang cepat di fase awal. 

MI/HO--Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati

Namun, Prof. Sri Anna memperingatkan bahwa fenomena tersebut hanyalah adaptasi metabolik sementara. Penurunan berat badan tersebut lebih banyak disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen dan cairan tubuh, bukan hilangnya lemak secara sehat.

Pada fase awal, pelaku diet ini sering kali mengeluhkan gejala seperti kelelahan, konstipasi, bau mulut, hingga kram otot. 

Dalam jangka panjang, risiko yang mengintai jauh lebih serius karena tubuh mengalami defisit zat gizi esensial. 

"Hampir pasti terjadi defisit serat, vitamin C, folat, dan berbagai fitokimia," ungkap Prof. Sri Anna.

Dampak Serius pada Organ Tubuh

Ketiadaan serat dan tingginya asupan lemak jenuh pada diet karnivora dapat mengganggu metabolisme tubuh secara keseluruhan. Prof. Sri Anna menyoroti tiga area utama yang paling terdampak:

  1. Kesehatan Jantung: Konsumsi pangan hewani yang tinggi lemak jenuh dan kolesterol berpotensi meningkatkan kadar low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat, terutama bagi mereka dengan riwayat dislipidemia.
  2. Beban Kerja Ginjal: Asupan protein yang sangat tinggi memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring limbah nitrogen. Tanpa hidrasi yang cukup, hal ini meningkatkan risiko kerusakan ginjal hingga gagal ginjal.
  3. Kesehatan Saluran Cerna: Minimnya serat memicu ketidakseimbangan mikrobiota usus dan produksi asam empedu berlebih yang bersifat karsinogenik. 

"Dalam jangka panjang, ini bisa merusak mukosa usus, memicu peradangan kronis, hingga meningkatkan risiko kanker kolorektal," tambahnya.

Rekomendasi Diet yang Lebih Aman

Sebagai alternatif, masyarakat disarankan untuk beralih ke pola makan yang lebih terukur secara ilmiah, seperti Diet Mediterania atau diet tinggi protein seimbang (20%–25% energi) yang tetap mengandung karbohidrat kompleks dan serat.

Pilihan yang paling praktis dan sesuai dengan konteks lokal adalah mengikuti panduan Isi Piringku. Pola gizi seimbang ini menekankan keberagaman jenis pangan untuk saling melengkapi kebutuhan nutrisi tubuh. 

"Pola ini mudah diterapkan, sesuai budaya makan Indonesia, dan aman untuk populasi luas," pungkas Prof. Sri Anna. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya