Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
TREN diet One Meal a Day (OMAD) kian populer sebagai jalan pintas untuk menurunkan berat badan secara drastis. Namun, di balik popularitasnya, pola makan yang hanya memperbolehkan makan satu kali sehari ini menyimpan risiko kesehatan yang serius jika dilakukan tanpa pemahaman yang tepat.
Ahli Gizi IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati, mengingatkan masyarakat, terutama pemula, untuk tidak sembarangan mengikuti tren ini. Sebagai bentuk puasa intermiten ekstrem dengan durasi puasa mencapai 22–23 jam, OMAD menuntut kesiapan fisik yang prima.
"Diet OMAD sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan, khususnya oleh individu yang baru mencoba pola puasa. Sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, apalagi bagi pemula," jelas Prof Anna.
Kekhawatiran utama dari diet ini adalah potensi munculnya gangguan kesehatan akibat tubuh yang dipaksa bertahan tanpa asupan dalam waktu sangat lama.
Prof Anna memaparkan risiko tersebut meliputi kekurangan energi, defisiensi gizi, hingga hipoglikemia atau gula darah rendah.
Selain itu, membiarkan lambung kosong terlalu lama dapat memicu gangguan pencernaan bagi mereka yang memiliki riwayat lambung sensitif.
Secara spesifik, Prof. Anna menekankan bahwa OMAD idak dianjurkan bagi:
Bagi dewasa sehat yang ingin mencoba OMAD untuk mengatasi kegemukan, Prof Anna menyarankan proses adaptasi. Tubuh sebaiknya tidak langsung dipaksa berpuasa 23 jam.
"Sebelum mencoba OMAD, sebaiknya seseorang memulai dari *intermittent fasting* (IF) yang lebih ringan, misalnya puasa 12–14 jam. Hal ini bertujuan agar lambung dan tubuh terbiasa terlebih dahulu," tambahnya.
Kunci keberhasilan OMAD terletak pada apa yang dikonsumsi dalam satu kali jendela makan tersebut. Karena seluruh kebutuhan harian harus terpenuhi sekaligus, menu wajib padat gizi dan seimbang. Prof. Anna menyarankan komposisi berikut:
Ia juga mewanti-wanti agar menghindari gorengan, minuman manis, dan makanan terlalu pedas yang dapat mengiritasi lambung.
Sebagai alternatif yang lebih moderat dan aman, pola puasa 16:8 atau makan tiga kali sehari dengan camilan sehat jauh lebih direkomendasikan untuk kesehatan jangka panjang.
"Intinya, diet harus disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebutuhan individu, bukan sekadar mengikuti tren," pungkas Prof Anna. (Z-1)
Enggak perlu diet aneh-aneh, diet OMAD, ketogenik, OCD. Selama orang itu melakukan diet yang seimbang dan dilakukan jangka panjang, hasilnya jauh lebih bagus.
Peneliti Karolinska Institutet mengungkap kaitan genetik antara kadar kafein dalam darah dengan risiko diabetes tipe 2 dan penurunan lemak tubuh.
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Resolusi diet 2026 sering gagal? Simak tips hidup sehat, strategi diet realistis, dan panduan bulanan agar berat badan turun secara konsisten.
Banyak orang merasa sudah menjalani pola hidup sehat dengan makan teratur, memilih makanan bergizi, dan rutin berolahraga.
Memiliki berat badan yang terlihat normal tidak selalu berarti tubuh benar-benar sehat. Banyak orang dengan berat badan ideal justru memiliki perut buncit
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved