Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Diet OMAD: Tren Penurunan Berat Badan Ekstrem yang Perlu Diwaspadai

Basuki Eka Purnama
29/1/2026 13:49
Diet OMAD: Tren Penurunan Berat Badan Ekstrem yang Perlu Diwaspadai
Ilustrasi(Freepik)

TREN diet One Meal a Day (OMAD) kian populer sebagai jalan pintas untuk menurunkan berat badan secara drastis. Namun, di balik popularitasnya, pola makan yang hanya memperbolehkan makan satu kali sehari ini menyimpan risiko kesehatan yang serius jika dilakukan tanpa pemahaman yang tepat.

Ahli Gizi IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati, mengingatkan masyarakat, terutama pemula, untuk tidak sembarangan mengikuti tren ini. Sebagai bentuk puasa intermiten ekstrem dengan durasi puasa mencapai 22–23 jam, OMAD menuntut kesiapan fisik yang prima.

"Diet OMAD sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan, khususnya oleh individu yang baru mencoba pola puasa. Sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, apalagi bagi pemula," jelas Prof Anna.

Risiko Kesehatan di Balik Jendela Makan Sempit

Kekhawatiran utama dari diet ini adalah potensi munculnya gangguan kesehatan akibat tubuh yang dipaksa bertahan tanpa asupan dalam waktu sangat lama. 

Prof Anna memaparkan risiko tersebut meliputi kekurangan energi, defisiensi gizi, hingga hipoglikemia atau gula darah rendah. 

Selain itu, membiarkan lambung kosong terlalu lama dapat memicu gangguan pencernaan bagi mereka yang memiliki riwayat lambung sensitif.

Secara spesifik, Prof. Anna menekankan bahwa OMAD idak dianjurkan bagi:

  • Anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun (masa pertumbuhan).
  • Ibu hamil dan menyusui.
  • Lansia (berisiko dehidrasi dan penurunan massa otot).
  • Penderita penyakit kronis seperti diabetes, maag berat, dan anemia.

Panduan Aman dan Kualitas Nutrisi

Bagi dewasa sehat yang ingin mencoba OMAD untuk mengatasi kegemukan, Prof Anna menyarankan proses adaptasi. Tubuh sebaiknya tidak langsung dipaksa berpuasa 23 jam.

"Sebelum mencoba OMAD, sebaiknya seseorang memulai dari *intermittent fasting* (IF) yang lebih ringan, misalnya puasa 12–14 jam. Hal ini bertujuan agar lambung dan tubuh terbiasa terlebih dahulu," tambahnya.

Kunci keberhasilan OMAD terletak pada apa yang dikonsumsi dalam satu kali jendela makan tersebut. Karena seluruh kebutuhan harian harus terpenuhi sekaligus, menu wajib padat gizi dan seimbang. Prof. Anna menyarankan komposisi berikut:

  1. Protein Tinggi: Ikan, telur, atau daging tanpa lemak untuk menjaga massa otot.
  2. Karbohidrat Kompleks: Nasi merah, ubi, atau jagung sebagai sumber energi stabil.
  3. Serat: Sayuran wajib memenuhi minimal setengah piring.
  4. Lemak Sehat: Alpukat, minyak zaitun, atau kacang-kacangan.

Ia juga mewanti-wanti agar menghindari gorengan, minuman manis, dan makanan terlalu pedas yang dapat mengiritasi lambung. 

Sebagai alternatif yang lebih moderat dan aman, pola puasa 16:8 atau makan tiga kali sehari dengan camilan sehat jauh lebih direkomendasikan untuk kesehatan jangka panjang.

"Intinya, diet harus disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebutuhan individu, bukan sekadar mengikuti tren," pungkas Prof Anna. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya