Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ahli Serukan Aksi Cepat Kurangi Konsumsi Makanan Ultra-Proses

Thalatie K Yani
20/11/2025 07:28
Ahli Serukan Aksi Cepat Kurangi Konsumsi Makanan Ultra-Proses
Ilustrasi(freepik)

PARA pakar internasional menyerukan tindakan segera untuk menekan konsumsi ultra-processed food (UPF) di seluruh dunia setelah sebuah tinjauan global menunjukkan potensi ancaman makanan tersebut terhadap kesehatan masyarakat. Mereka menilai pola makan global terus bergeser dari makanan segar menuju produk olahan murah yang diproses secara intensif, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari obesitas hingga depresi.

Dalam laporan yang dipublikasikan di The Lancet, para peneliti menyebut pemerintah perlu “meningkatkan langkah” dengan menerapkan peringatan dan pajak lebih tinggi pada produk UPF, sekaligus mendanai akses masyarakat pada makanan bergizi. Namun sebagian ilmuwan menilai tinjauan ini belum bisa membuktikan UPF secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan, sehingga penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

UPF didefinisikan sebagai makanan yang mengandung lebih dari lima bahan yang umumnya tidak ditemukan di dapur rumah, seperti pengemulsi, pengawet, pewarna, dan pemanis. Contohnya antara lain sosis, keripik, pastry, biskuit, mi instan, minuman bersoda, es krim, dan roti supermarket. Survei menunjukkan konsumsi produk tersebut meningkat di berbagai negara, memperburuk kualitas diet yang sudah tinggi gula, lemak tidak sehat, dan rendah serat serta protein.

Tinjauan yang melibatkan 43 pakar global dan mencakup 104 studi jangka panjang itu menemukan hubungan antara konsumsi UPF dan peningkatan risiko 12 kondisi kesehatan, termasuk diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, depresi, serta kematian dini.

Penulis utama, Prof Carlos Monteiro dari University of Sao Paulo, mengatakan meningkatnya konsumsi UPF “sedang membentuk ulang pola makan dunia, menggantikan makanan segar dan olahan minimal.” Ia menambahkan, “Perubahan ini didorong oleh korporasi global besar yang meraih keuntungan besar dengan memprioritaskan produk ultra-proses, didukung pemasaran masif dan lobi politik untuk menggagalkan kebijakan kesehatan publik yang efektif.”

Rekan penulis, Dr Phillip Baker dari University of Sydney, menilai perlunya “respons kesehatan masyarakat global yang kuat, seperti upaya terkoordinasi melawan industri tembakau.”

Namun, tinjauan ini juga mengakui masih kurangnya uji klinis yang bisa menjelaskan bagaimana UPF dapat memengaruhi kesehatan. Beberapa ilmuwan berpendapat sulit memisahkan dampak UPF dari faktor gaya hidup, perilaku, dan kondisi ekonomi seseorang. Kritikus sistem klasifikasi Nova juga menilai pendekatan itu terlalu fokus pada tingkat pemrosesan, bukan pada kelengkapan nutrisi. Mereka mencontohkan roti gandum utuh, sereal sarapan, yoghurt rendah lemak, susu formula bayi, dan fish fingers yang juga tergolong UPF namun memiliki nilai gizi.

Prof Kevin McConway dari Open University mengatakan, “Studi seperti ini dapat menemukan korelasi, tetapi tidak bisa memastikan sebab-akibat,” sambil menilai masih ada “ruang untuk keraguan dan klarifikasi melalui riset lanjutan.”

Sementara itu, industri makanan melalui Food and Drink Federation menyatakan UPF tetap dapat menjadi bagian dari diet seimbang, dan bahwa perusahaan telah menurunkan kadar gula dan garam sejak 2015. Komite Penasihat Ilmu Gizi Inggris sebelumnya menyebut hubungan konsumsi UPF dan dampak kesehatan sebagai “mengkhawatirkan”, tetapi belum jelas apakah risiko itu berasal dari pemrosesan atau kandungan kalorinya yang tinggi. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya