Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pakar internasional menyerukan tindakan segera untuk menekan konsumsi ultra-processed food (UPF) di seluruh dunia setelah sebuah tinjauan global menunjukkan potensi ancaman makanan tersebut terhadap kesehatan masyarakat. Mereka menilai pola makan global terus bergeser dari makanan segar menuju produk olahan murah yang diproses secara intensif, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari obesitas hingga depresi.
Dalam laporan yang dipublikasikan di The Lancet, para peneliti menyebut pemerintah perlu “meningkatkan langkah” dengan menerapkan peringatan dan pajak lebih tinggi pada produk UPF, sekaligus mendanai akses masyarakat pada makanan bergizi. Namun sebagian ilmuwan menilai tinjauan ini belum bisa membuktikan UPF secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan, sehingga penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
UPF didefinisikan sebagai makanan yang mengandung lebih dari lima bahan yang umumnya tidak ditemukan di dapur rumah, seperti pengemulsi, pengawet, pewarna, dan pemanis. Contohnya antara lain sosis, keripik, pastry, biskuit, mi instan, minuman bersoda, es krim, dan roti supermarket. Survei menunjukkan konsumsi produk tersebut meningkat di berbagai negara, memperburuk kualitas diet yang sudah tinggi gula, lemak tidak sehat, dan rendah serat serta protein.
Tinjauan yang melibatkan 43 pakar global dan mencakup 104 studi jangka panjang itu menemukan hubungan antara konsumsi UPF dan peningkatan risiko 12 kondisi kesehatan, termasuk diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, depresi, serta kematian dini.
Penulis utama, Prof Carlos Monteiro dari University of Sao Paulo, mengatakan meningkatnya konsumsi UPF “sedang membentuk ulang pola makan dunia, menggantikan makanan segar dan olahan minimal.” Ia menambahkan, “Perubahan ini didorong oleh korporasi global besar yang meraih keuntungan besar dengan memprioritaskan produk ultra-proses, didukung pemasaran masif dan lobi politik untuk menggagalkan kebijakan kesehatan publik yang efektif.”
Rekan penulis, Dr Phillip Baker dari University of Sydney, menilai perlunya “respons kesehatan masyarakat global yang kuat, seperti upaya terkoordinasi melawan industri tembakau.”
Namun, tinjauan ini juga mengakui masih kurangnya uji klinis yang bisa menjelaskan bagaimana UPF dapat memengaruhi kesehatan. Beberapa ilmuwan berpendapat sulit memisahkan dampak UPF dari faktor gaya hidup, perilaku, dan kondisi ekonomi seseorang. Kritikus sistem klasifikasi Nova juga menilai pendekatan itu terlalu fokus pada tingkat pemrosesan, bukan pada kelengkapan nutrisi. Mereka mencontohkan roti gandum utuh, sereal sarapan, yoghurt rendah lemak, susu formula bayi, dan fish fingers yang juga tergolong UPF namun memiliki nilai gizi.
Prof Kevin McConway dari Open University mengatakan, “Studi seperti ini dapat menemukan korelasi, tetapi tidak bisa memastikan sebab-akibat,” sambil menilai masih ada “ruang untuk keraguan dan klarifikasi melalui riset lanjutan.”
Sementara itu, industri makanan melalui Food and Drink Federation menyatakan UPF tetap dapat menjadi bagian dari diet seimbang, dan bahwa perusahaan telah menurunkan kadar gula dan garam sejak 2015. Komite Penasihat Ilmu Gizi Inggris sebelumnya menyebut hubungan konsumsi UPF dan dampak kesehatan sebagai “mengkhawatirkan”, tetapi belum jelas apakah risiko itu berasal dari pemrosesan atau kandungan kalorinya yang tinggi. (BBC/Z-2)
Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, mengimbau kepada masyarakat untuk tidak sembarangan menyentuh balita untuk mencegah terjadinya penularan campak.
Poltekes Bhakti Kencana menawarkan tiga program studi strategis yang dirancang berdasarkan kebutuhan pasar kerja
KITA semua mengikuti dengan waspada perkembangan eskalasi konflik dan perang di kawasan Timur Tengah.
Kondisi kesehatan Nadiem Makarim menurun akibat reinfeksi bekas operasi. Eks Mendikbudristek ini terancam operasi lagi di tengah sidang korupsi Chromebook.
Penyumbatan jantung atau Penyakit Jantung Koroner (PJK) terjadi akibat penumpukan plak (lemak, kolesterol, dan kalsium) pada arteri koroner.
Meskipun populer dan estetik, bubble tea menyimpan risiko kesehatan serius seperti paparan timbal, gangguan pencernaan, hingga masalah kesehatan mental. Simak faktanya!
Obesitas adalah penyakit kronis kompleks. Dokter spesialis gizi ungkap faktor hormonal dan sel memori yang bikin berat badan susah turun. Simak solusinya!
Obesitas bukan sekadar berat badan berlebih, tapi penyakit kronis. Simak penjelasan dr. Vardian Mahardika mengenai risiko PCOS, Alzheimer, hingga sleep apnea.
Prevalensi obesitas di Indonesia naik menjadi 23,4%. Kemenkes imbau masyarakat cermat pilih pangan olahan dan batasi GGL. Simak panduan lengkapnya di sini.
PREVALENSI obesitas nasional pada penduduk berusia sekitar 18 tahun di Indonesia mengalami peningkatan. Angka ini naik dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved