Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

WHO Tinjau Efektivitas Obat Diet Viral Ozempic dan Tirzepatide untuk Obesitas

Thalatie K Yani
13/2/2026 10:32
WHO Tinjau Efektivitas Obat Diet Viral Ozempic dan Tirzepatide untuk Obesitas
Ilustrasi(Unsplash)

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) merilis hasil dari tiga tinjauan besar yang dilakukan Cochrane terkait efektivitas obat golongan GLP-1 receptor agonists untuk mengatasi obesitas. Obat-obatan populer seperti tirzepatide (Mounjaro), semaglutide (Ozempic/Wegovy), dan liraglutide (Saxenda) terbukti mampu memberikan penurunan berat badan yang signifikan.

Meski hasilnya impresif, para peneliti memberikan catatan kritis terkait keterbatasan data keamanan jangka panjang dan dominasi keterlibatan perusahaan farmasi dalam uji klinis tersebut. Tinjauan ini nantinya akan menjadi dasar bagi WHO dalam menyusun pedoman global mengenai penggunaan obat-obatan ini untuk penanganan obesitas.

Perbandingan Efektivitas Obat

Berdasarkan analisis terhadap tiga jenis obat utama, peneliti menemukan perbedaan tingkat penurunan berat badan yang dihasilkan selama periode satu hingga dua tahun:

  • Tirzepatide: Menunjukkan hasil paling kuat dengan rata-rata penurunan berat badan sekitar 16% setelah 12 hingga 18 bulan. Data menunjukkan efek ini bisa bertahan hingga 3,5 tahun.
  • Semaglutide: Menghasilkan penurunan berat badan rata-rata sekitar 11% dalam periode 24 hingga 68 minggu. Peserta uji coba memiliki peluang besar kehilangan setidaknya 5% berat badan mereka.
  • Liraglutide: Memberikan hasil yang lebih moderat, dengan rata-rata penurunan sekitar 4-5%. Namun, obat ini kini lebih terjangkau karena patennya telah berakhir.

"Obat-obatan ini memiliki potensi untuk menghasilkan penurunan berat badan yang substansial, terutama pada tahun pertama," ujar Juan Franco, peneliti dari Heinrich Heine University Düsseldorf, Jerman. "Ini adalah momen yang menggembirakan setelah puluhan tahun upaya yang gagal untuk menemukan perawatan efektif bagi orang yang hidup dengan obesitas."

Risiko Efek Samping dan Ketergantungan Industri

Meskipun efektif menurunkan angka timbangan, penelitian ini tidak menemukan perbedaan signifikan antara penggunaan obat dengan plasebo dalam hal risiko kematian atau kejadian kardiovaskular utama. Sebaliknya, efek samping gastrointestinal seperti mual justru sangat umum terjadi, bahkan menyebabkan beberapa peserta menghentikan pengobatan.

Peneliti juga menyoroti masalah transparansi. Sebagian besar studi yang ditinjau didanai oleh produsen obat, yang terlibat mulai dari desain penelitian hingga pelaporan hasil. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya konflik kepentingan.

Eva Madrid, peneliti dari Universidad de Valparaíso, Chili, menambahkan perlunya data independen yang lebih luas. "Kami membutuhkan lebih banyak data tentang efek jangka panjang, terutama pada individu dengan risiko rendah. Kenaikan berat badan kembali setelah menghentikan pengobatan dapat memengaruhi keberlanjutan manfaat yang diamati," jelasnya.

Aksesibilitas Global

Saat ini, harga tinggi masih menjadi penghalang utama akses terhadap semaglutide dan tirzepatide. WHO juga mencatat sebagian besar uji coba dilakukan di negara maju, sementara wilayah seperti Asia Tenggara dan Afrika masih minim keterwakilan. Padahal, faktor diet dan komposisi tubuh yang beragam di tiap wilayah sangat memengaruhi kinerja obat tersebut.

Laporan ini menyimpulkan bahwa diperlukan studi independen jangka panjang untuk memastikan manfaat berkelanjutan dan risiko kesehatan bagi masyarakat luas sebelum obat ini digunakan secara masif dalam kebijakan kesehatan publik. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya