Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH tonggak sejarah baru dalam dunia medis resmi tercipta. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah menyetujui penggunaan pil GLP-1 pertama untuk manajemen berat badan jangka panjang.
Inovasi dari Novo Nordisk ini menawarkan efektivitas yang setara dengan terapi suntikan, namun dalam bentuk tablet yang praktis diminum sekali sehari.
Berdasarkan data studi klinis global bertajuk OASIS 4, penggunaan pil ini menunjukkan hasil yang transformatif bagi pasien obesitas.
Rata-rata peserta studi berhasil menurunkan berat badan hingga 16,6% setelah penggunaan rutin selama satu tahun.
Bahkan, satu dari tiga pasien mampu mencapai penurunan berat badan lebih dari 20%, sebuah angka yang selama ini identik dengan hasil terapi suntikan mingguan.
Selain fokus pada penurunan angka di timbangan, terapi ini juga membawa kabar baik bagi kesehatan kardiovaskular.
Data menunjukkan adanya penurunan risiko serangan jantung dan stroke hingga 20% pada kelompok pasien tertentu yang memiliki riwayat penyakit jantung dan obesitas.
Hadirnya opsi oral ini diharapkan menjadi solusi bagi pasien yang membutuhkan bantuan medis namun memiliki kendala atau ketidaknyamanan terhadap jarum suntik.
CEO Novo Nordisk, Mike Doustdar, menyatakan optimismenya terhadap dampak inovasi ini bagi pasien global.
"Pil GLP-1 kini telah hadir. Dengan persetujuan untuk terapi GLP-1 oral sekali sehari dari Novo Nordisk, pasien memiliki pilihan pil yang praktis untuk mencapai penurunan berat badan yang setara dengan terapi suntikan," ujar Mike Doustdar.
"Sebagai terapi GLP-1 oral pertama bagi orang yang hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas, inovasi ini memberikan pasien opsi baru yang lebih mudah untuk memulai atau melanjutkan perjalanan penurunan berat badan," tambahnya.
Inovasi ini menjadi sangat relevan mengingat tantangan obesitas di Indonesia terus meningkat.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada orang dewasa mencapai 23,4%, sementara obesitas sentral atau perut buncit menyentuh angka 36,8%.
Kondisi ini memicu risiko penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, serta menimbulkan kerugian ekonomi yang mencapai puluhan miliar rupiah per tahun akibat hilangnya produktivitas.
Sreerekha Sreenivasan, General Manager Novo Nordisk Indonesia, menekankan bahwa obesitas harus dipandang sebagai penyakit kronis yang serius, bukan sekadar masalah penampilan.
"Di Indonesia, kita menghadapi lonjakan angka obesitas yang mengkhawatirkan. Bagi banyak orang dengan obesitas, perubahan gaya hidup saja tidaklah cukup, dan mereka berhak mendapatkan dukungan medis yang menyeluruh," ungkap Sreerekha.
Meski pil ini dijadwalkan baru akan tersedia di pasar Amerika Serikat pada awal Januari 2026, kehadirannya memberikan harapan baru bagi masa depan terapi obesitas dunia.
Saat ini, Novo Nordisk Indonesia masih berfokus pada edukasi dan optimalisasi terapi GLP-1 versi suntikan mingguan yang sudah tersedia di tanah air. (Z-1)
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial dinilai terancam setelah perubahan regulasi paten terbaru.
Lucia menjelaskan ketika terjadi bencana banyak orang yang terkena luka bisa karena seng, paku, dan sebagainya maka diberikan serum anti tetanus, untuk mencegah infeksi.
Obat dapat berasal dari bahan kimia, tumbuhan, maupun hewan, dan biasanya digunakan dengan dosis tertentu agar aman dan efektif.
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) mengadakan seminar “Peran Strategis GPFI dalam Menegaskan Prinsip 4K untuk Menunjang Kesehatan Nasional”
Molekul dalam pil tersebut bekerja dengan mampu memanipulasi metabolisme tubuh untuk menciptakan efek yang mirip dengan berolahraga intensif dan setara seperti puasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved