Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KANKER kolorektal kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Dilansir dari American Journal of Managed Care (AJMC) dan publikasi ilmiah di jurnal Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology menyoroti tren mengkhawatirkan, yaitu kasus kanker usus besar pada orang di bawah 50 tahun terus meningkat dalam dua dekade terakhir.
Peneliti menyebut fenomena ini sebagai early-onset colorectal cancer (EOCRC). Jika dulu skrining rutin baru dianjurkan mulai usia 50 tahun, kini banyak negara sudah menurunkannya ke usia 45 tahun.
Pola Makan Western dan Makanan Ultra-Olahan
Salah satu faktor yang paling konsisten muncul dalam penelitian adalah pola makan modern, terutama diet bergaya Barat. Konsumsi tinggi makanan ultra-olahan seperti fast food, daging olahan, minuman manis, dan camilan tinggi gula disebut berkorelasi dengan peningkatan risiko kanker kolorektal usia muda.
Menurut laporan AJMC yang merangkum sejumlah studi, makanan jenis ini cenderung rendah serat namun tinggi lemak jenuh, gula tambahan, dan zat aditif. Kombinasi tersebut dapat memicu peradangan kronis di saluran pencernaan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu pertumbuhan sel abnormal di usus.
Rendah Serat, Tinggi Risiko
Serat punya peran besar dalam menjaga kesehatan kolon. Diet rendah buah, sayur, dan biji-bijian utuh dikaitkan dengan gangguan mikrobiota usus dan peningkatan risiko polip, yang bisa berkembang menjadi kanker.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan komposisi bakteri usus akibat pola makan tinggi ultra-proses dapat memproduksi senyawa yang merusak DNA sel kolon. Artinya, dampaknya bukan sekadar gangguan pencernaan biasa.
Obesitas dan Gangguan Metabolik
Pola makan tinggi kalori dan rendah nutrisi juga berkaitan erat dengan obesitas dan resistensi insulin. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menyoroti bahwa kondisi metabolik yang tidak sehat menciptakan lingkungan tubuh yang pro-inflamasi. Situasi ini mendukung perkembangan kanker, termasuk di usus besar.
Para ahli menekankan bahwa faktor genetik tetap berperan, tetapi lonjakan kasus dalam waktu relatif singkat lebih mengarah pada perubahan gaya hidup populasi. Generasi muda tumbuh dalam era makanan instan dan pola hidup sedentari, dua faktor yang dinilai mempercepat risiko.
Kesimpulannya, tren ini bukan kebetulan. Pola makan modern ikut berkontribusi dalam kenaikan kanker kolorektal usia muda. Mengurangi makanan ultra-olahan, meningkatkan asupan serat, serta menjaga berat badan sehat bukan sekadar saran, tapi langkah yang sudah terjamin.(AJMC, Nature, Food Safety News/P-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved