Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, kanker kolorektal (kanker usus besar dan rektum) sering dianggap sebagai "penyakit orangtua". Namun, tren medis terbaru menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis JAMA mengungkapkan kanker kolorektal telah melonjak menjadi penyebab utama kematian akibat kanker bagi warga Amerika Serikat di bawah usia 50 tahun pada 2023.
Data menunjukkan angka kematian akibat kanker ini pada kelompok usia di bawah 50 tahun meningkat 1,1% setiap tahun sejak 2005. Fenomena ini berbanding terbalik dengan jenis kanker utama lainnya, seperti payudara dan paru-paru, yang angka kematiannya justru cenderung menurun.
Jenna Scott, 39, adalah salah satu penyintas yang merasakan betapa mematikannya penyakit ini jika terlambat terdeteksi. Gejalanya dimulai saat ia hamil anak pertamanya. Kala itu, ia merasakan nyeri perut yang hebat, namun dokter meyakinkannya bahwa itu adalah hal normal dalam kehamilan.
Setahun setelah melahirkan, di usia 31 tahun, Scott didiagnosis menderita kanker kolon stadium 4 yang telah menyebar ke hati.
"Saya selalu sangat bugar dan sehat. Saya menjadi atlet sepanjang hidup saya... Dalam sekejap, hidup saya berubah total dan tidak terduga. Saya dalam keadaan tidak percaya karena kata 'kanker' tidak ada dalam dunia saya. Kanker berarti kematian," ungkap Scott.
Hingga kini, para ahli masih mencari penyebab pasti mengapa generasi yang lahir setelah tahun 1950-an lebih rentan terhadap penyakit ini. Dr. Ahmedin Jemal dari American Cancer Society menegaskan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk mengungkap pemicu "tsunami" kanker ini.
"Kami tidak tahu mengapa ini meningkat. Kematian akibat penyebab utama kanker lainnya pada orang dewasa muda di bawah 50 tahun sedang menurun. Hanya kematian akibat kanker kolorektal yang meningkat," ujar Dr. Jemal.
Kurangnya kesadaran untuk melakukan skrining menjadi faktor krusial. Dr. Jemal menyebutkan bahwa hanya 37% orang dewasa berusia 45-49 tahun yang rutin melakukan pemeriksaan, padahal deteksi dini melalui kolonoskopi dapat mengangkat polip sebelum berubah menjadi kanker.
Keterlambatan diagnosis sering terjadi karena gejala pada pasien muda kerap dianggap sepele, baik oleh pasien sendiri maupun penyedia layanan kesehatan. Sekitar 60% pasien di bawah 50 tahun baru terdiagnosa saat sudah mencapai stadium 3 atau 4.
Beberapa gejala yang patut diwaspadai meliputi:
Bagi Jenna Scott, yang kini harus menjalani kemoterapi seumur hidup untuk menjaga kondisinya tetap stabil, harapannya hanya satu: "Menjadi seorang nenek suatu hari nanti." Kisahnya menjadi pengingat bahwa usia muda bukanlah jaminan kekebalan terhadap kanker. (CNN/Z-2)
Kasus yang menimpa James Van Der Beek mengejutkan banyak pihak karena sang aktor dikenal sangat menjaga kebugaran tubuh.
Kepergian James Van Der Beek adalah kehilangan besar bagi dunia seni peran. Namun, warisannya akan terus hidup melalui karya-karyanya dan perjuangannya dalam meningkatkan kesadaran
Saat ini, sekitar 30% kasus kanker usus besar di tanah air diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun, sebuah angka yang jauh melampaui statistik di negara-negara maju.
Kabar wafatnya legenda golf Jepang Masashi Jumbo Ozaki pada 23 Desember 2025 mengejutkan dunia olahraga.
Studi Harvard mengungkap konsumsi makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko kanker usus pada wanita hingga 45%, terutama usia di bawah 50 tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved