Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Sinyal Buruk Ekonomi Lesu

22/3/2025 05:00

MENJELANG Hari Raya Idul Fitri, harapan masyarakat untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhan Lebaran mulai memudar. Di tengah lonjakan kebutuhan, konsumsi masyarakat pada Lebaran kali ini tidak seperti biasanya.

Sektor ritel, yang biasanya dipenuhi dengan keramaian menjelang Idul Fitri, kini menghadapi kenyataan pahit. Pengusaha ritel mengeluhkan penurunan transaksi barang konsumsi yang tidak setinggi edisi Lebaran sebelumnya.

Sejumlah pelaku usaha di sektor ritel mengeluhkan anjloknya daya beli. Tidak sedikit toko dan pusat perbelanjaan yang sepi pengunjung, padahal momentum Lebaran merupakan puncak konsumsi masyarakat. Banyak konsumen yang mulai menahan belanja mereka, lebih memilih untuk mengutamakan kebutuhan pokok daripada membeli barang non-esensial.

Daya beli rakyat yang kian tergerus mencerminkan ketimpangan yang semakin besar antara kondisi ekonomi makro dan kenyataan di lapangan. Bahkan, perputaran uang selama Ramadan dan Lebaran tahun ini diperkirakan tak setinggi tahun sebelumnya. Hal itu akan berimbas pada perputaran ekonomi di daerah maupun nasional.

Indikator pelemahan daya beli ini terjadi pada berbagai aspek. Pertama, jika melihat data Mandiri Spending Index (MSI), pada nilai belanja masyarakat terjadi perlambatan di satu minggu menjelang Ramadan yakni ke 236,2. Pola itu merupakan anomali karena tidak terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Merosotnya impor barang konsumsi jelang Ramadan 1446 Hijriah menjadi indikasi bahwa daya beli masyarakat tengah lesu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor barang konsumsi senilai US$1,47 miliar pada Februari 2025, turun 10,61% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar US$1,64 miliar.

Bahkan, secara tahunan, nilai impor barang konsumsi merosot lebih dalam, yakni turun 21,05% ketimbang tahun sebelumnya yang sebesar US$1,86 miliar. Penurunan impor barang konsumsi menunjukkan permintaan masyarakat akan barang konsumsi sedang rendah.

Indikator lainnya yakni hasil riset dari Kementerian Perhubungan yang menyebutkan bahwa jumlah pemudik pada Lebaran 2025 berpotensi turun menjadi 146,48 juta jiwa, setara dengan 52% dari populasi Indonesia. Jumlah itu anjlok 24% jika dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta orang, atau sekitar 71,7% dari jumlah penduduk Indonesia.

Penurunan jumlah pemudik ini jelas indikasi kuat bahwa ekonomi rakyat tidak lebih baik daripada tahun lalu. Saat ini masyarakat cenderung memilih membelanjakan uang untuk kebutuhan paling pokok, terutama pada masyarakat kelas menengah ke bawah.

Terlebih dengan banyaknya perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), membuat masyarakat banyak yang menahan belanja atau melakukan belanja tapi untuk kebutuhan primer.

Pelemahan daya beli ini juga bisa terlihat dari penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) yang anjlok pada Januari 2025. Laporan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat bahwa penerimaan PPN dalam negeri turun menjadi Rp2,58 triliun pada awal 2025 dari Rp35,6 triliun pada Januari 2024.

Namun, yang lebih memprihatinkan dari indikator-indikator tersebut ialah kurangnya respons yang komprehensif dari pemerintah terhadap permasalahan ini. Tidak ada langkah nyata yang cukup signifikan untuk mengatasi lesunya daya beli masyarakat.

Bahkan, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pada selasa (18/3), selama 6 jam tidak ada 'tangan' pemerintah yang menenangkan keadaan. Hanya Wakil Ketua DPR bersama rombongan Komisi XI DPR yang terlihat menyambangi Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi itu bisa dipersepsikan masyarakat sebagai lemahnya sense of crisis pemerintah.

Ketika pasar modal ambruk, masyarakat dan pelaku pasar terpaksa menunggu selama 6 jam tanpa adanya respons atau solusi dari pemerintah. Keputusan-keputusan penting yang seharusnya bisa memberikan kejelasan kepada masyarakat justru tidak segera hadir, menambah rasa ketidakpastian di tengah krisis.

Pemerintah seharusnya bisa lebih peka terhadap gejala-gejala ekonomi yang ada dan segera turun tangan untuk mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang. Pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan yang dapat merangsang daya beli masyarakat. Tidak ada lagi waktu untuk menunggu.

Pemerintah mesti segera mengembalikan optimisme dalam menghadapi masa depan ekonomi yang lebih baik agar semua ekspektasi rakyat yang memang tinggi bisa diwujudkan, bukan terasa kabur.

 



Berita Lainnya
  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.

  • Makin Puas, makin Tancap Gas

    12/2/2026 05:00

    INGGINYA tingkat kepuasan masyarakat merupakan hal yang diidam-idamkan pemimpin.

  • Mewujudkan Kedaulatan Emas

    11/2/2026 05:00

    LONJAKAN harga emas dunia seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia.