Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Sinyal Buruk Ekonomi Lesu

22/3/2025 05:00

MENJELANG Hari Raya Idul Fitri, harapan masyarakat untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhan Lebaran mulai memudar. Di tengah lonjakan kebutuhan, konsumsi masyarakat pada Lebaran kali ini tidak seperti biasanya.

Sektor ritel, yang biasanya dipenuhi dengan keramaian menjelang Idul Fitri, kini menghadapi kenyataan pahit. Pengusaha ritel mengeluhkan penurunan transaksi barang konsumsi yang tidak setinggi edisi Lebaran sebelumnya.

Sejumlah pelaku usaha di sektor ritel mengeluhkan anjloknya daya beli. Tidak sedikit toko dan pusat perbelanjaan yang sepi pengunjung, padahal momentum Lebaran merupakan puncak konsumsi masyarakat. Banyak konsumen yang mulai menahan belanja mereka, lebih memilih untuk mengutamakan kebutuhan pokok daripada membeli barang non-esensial.

Daya beli rakyat yang kian tergerus mencerminkan ketimpangan yang semakin besar antara kondisi ekonomi makro dan kenyataan di lapangan. Bahkan, perputaran uang selama Ramadan dan Lebaran tahun ini diperkirakan tak setinggi tahun sebelumnya. Hal itu akan berimbas pada perputaran ekonomi di daerah maupun nasional.

Indikator pelemahan daya beli ini terjadi pada berbagai aspek. Pertama, jika melihat data Mandiri Spending Index (MSI), pada nilai belanja masyarakat terjadi perlambatan di satu minggu menjelang Ramadan yakni ke 236,2. Pola itu merupakan anomali karena tidak terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Merosotnya impor barang konsumsi jelang Ramadan 1446 Hijriah menjadi indikasi bahwa daya beli masyarakat tengah lesu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor barang konsumsi senilai US$1,47 miliar pada Februari 2025, turun 10,61% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar US$1,64 miliar.

Bahkan, secara tahunan, nilai impor barang konsumsi merosot lebih dalam, yakni turun 21,05% ketimbang tahun sebelumnya yang sebesar US$1,86 miliar. Penurunan impor barang konsumsi menunjukkan permintaan masyarakat akan barang konsumsi sedang rendah.

Indikator lainnya yakni hasil riset dari Kementerian Perhubungan yang menyebutkan bahwa jumlah pemudik pada Lebaran 2025 berpotensi turun menjadi 146,48 juta jiwa, setara dengan 52% dari populasi Indonesia. Jumlah itu anjlok 24% jika dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta orang, atau sekitar 71,7% dari jumlah penduduk Indonesia.

Penurunan jumlah pemudik ini jelas indikasi kuat bahwa ekonomi rakyat tidak lebih baik daripada tahun lalu. Saat ini masyarakat cenderung memilih membelanjakan uang untuk kebutuhan paling pokok, terutama pada masyarakat kelas menengah ke bawah.

Terlebih dengan banyaknya perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), membuat masyarakat banyak yang menahan belanja atau melakukan belanja tapi untuk kebutuhan primer.

Pelemahan daya beli ini juga bisa terlihat dari penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) yang anjlok pada Januari 2025. Laporan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat bahwa penerimaan PPN dalam negeri turun menjadi Rp2,58 triliun pada awal 2025 dari Rp35,6 triliun pada Januari 2024.

Namun, yang lebih memprihatinkan dari indikator-indikator tersebut ialah kurangnya respons yang komprehensif dari pemerintah terhadap permasalahan ini. Tidak ada langkah nyata yang cukup signifikan untuk mengatasi lesunya daya beli masyarakat.

Bahkan, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pada selasa (18/3), selama 6 jam tidak ada 'tangan' pemerintah yang menenangkan keadaan. Hanya Wakil Ketua DPR bersama rombongan Komisi XI DPR yang terlihat menyambangi Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi itu bisa dipersepsikan masyarakat sebagai lemahnya sense of crisis pemerintah.

Ketika pasar modal ambruk, masyarakat dan pelaku pasar terpaksa menunggu selama 6 jam tanpa adanya respons atau solusi dari pemerintah. Keputusan-keputusan penting yang seharusnya bisa memberikan kejelasan kepada masyarakat justru tidak segera hadir, menambah rasa ketidakpastian di tengah krisis.

Pemerintah seharusnya bisa lebih peka terhadap gejala-gejala ekonomi yang ada dan segera turun tangan untuk mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang. Pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan yang dapat merangsang daya beli masyarakat. Tidak ada lagi waktu untuk menunggu.

Pemerintah mesti segera mengembalikan optimisme dalam menghadapi masa depan ekonomi yang lebih baik agar semua ekspektasi rakyat yang memang tinggi bisa diwujudkan, bukan terasa kabur.

 



Berita Lainnya
  • Akhiri Biaya Politik Tinggi

    21/1/2026 05:00

    Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.

  • Cermat dan Cepat di RUU Perampasan Aset

    20/1/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Republik ini seolah berjalan di tempat, bahkan cenderung mundur.

  • Mitigasi Dampak Geopolitik Efek Trump

    19/1/2026 05:00

    PERTENGAHAN minggu ini, satu lagi kebijakan agresif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai berlaku. Mulai 21 Januari, Trump menghentikan proses visa dari 75 negara.

  • Jangan Remehkan Alarm Rupiah

    17/1/2026 05:00

    PASAR keuangan Indonesia sedang mengirimkan sinyal bahaya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat sejak pergantian tahun. 

  • Aset Dirampas, Koruptor Kandas

    16/1/2026 05:00

    SECERCAH harapan tentang akan hadirnya undang-undang tentang perampasan aset kembali datang.

  • Kembalikan Tatanan Dunia yang Rapuh

    15/1/2026 05:00

    TATANAN dunia yang selama puluhan tahun menjadi fondasi hubungan antarnegara kini berada dalam ujian terberat sejak berakhirnya Perang Dunia II.

  • Point of No Return IKN

    14/1/2026 05:00

    POINT of no return, alias maju terus meski tantangan dan risiko yang akan dihadapi sangat besar.

  • Hentikan Kriminalisasi Kritik

    13/1/2026 05:00

    KEBEBASAN berekspresi yang dilindungi oleh konstitusi menghadapi tantangan serius akhir-akhir ini.

  • Basmi Habis Benalu Pajak

    12/1/2026 05:00

    BELUM dua pekan menjalani 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah dua kali unjuk taring.

  • Syahwat Materi di Jalan Suci

    10/1/2026 05:00

    KABAR yang dinanti-nanti dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang penetapan tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024 akhirnya datang juga.

  • Satu Pengadilan Beda Kesejahteraan

    09/1/2026 05:00

    HAKIM karier dan hakim ad hoc secara esensial memiliki beban dan tanggung jawab yang sama.

  • Menjaga Muruah Pengadilan

    08/1/2026 05:00

    Meski berdalih memberikan rasa aman kepada jaksa, kehadiran tiga personel TNI itu justru membawa vibes intimidasi bagi masyarakat sipil di ruang sidang tersebut.

  • Dikepung Ancaman Krisis Global

    07/1/2026 05:00

    SERANGAN Amerika Serikat (AS) ke Venezuela bukan sekadar eskalasi konflik bilateral atau episode baru dari drama panjang Amerika Latin.

  • Menagih Bukti UU Perampasan Aset

    06/1/2026 05:00

    DI awal tahun ini, komitmen wakil rakyat dalam memperjuangkan pemberantasan korupsi sejatinya dapat diukur dengan satu hal konkret

  • Jamin Rasa Aman di Ruang Kritik

    05/1/2026 05:00

    DALAM sebuah negara yang mengeklaim dirinya demokratis, perbedaan pendapat sesungguhnya merupakan keniscayaan.

  • Jangan Lamban lagi Urus Bencana

    03/1/2026 05:00

    REKONSTRUKSI dan rehabilitasi pascabencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara kembali menempatkan negara pada ujian penting.