Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM duka yang mendalam karena wafatnya teman diskusi terutama di bidang sosial ekonomi, Pak Kwik Kian Gie, perasaan penulis bertambah masygul karena skuad Indonesia kalah tipis dari Vietnam dengan skor 1-0 di perhelatan U-23.
Penulis tidak habis pikir bagaimana oleh Vietnam, Indonesia harus menerima kekalahan yang tidak seharusnya terjadi, 1-0. Di mana sebenarnya letak kesalahan dunia persepakbolaan kita yang dalam event-event bergengsi selalu harus jadi pecundang alias selalu di pihak yang kalah.
Penulis rasa ada sesuatu yang tidak benar atau kurang tepat caranya dalam pembinaan dunia persepakbolaan Indonesia selama ini. Sistem yang digunakan ternyata tidak membawa kekuatan yang nyata pada kesebelasan (skuad) kita.
Melihat semua kenyataan yang ada, penulis ingin dunia persepakbolaan Indonesia berani melakukan introspeksi diri dan juga retrospeksi melihat naik dan turunnya kualitas persepakbolaan kita.
Jadi, siapa dalam hal ini yang salah? Tidak ada!
Bila saja kita hendak mencari penyebab kesalahan yang terjadi, penulis rasa ada satu hal yang kita lupakan dan tidak dilaksanakan yakni kita ‘malas’ belajar dari sejarah dunia persepakbolaan kita sendiri. Kita lupa Indonesia pernah berjaya dalam sepak bola. Pernah menjadi ‘Macan Asia’ dalam persepakbolaan. Sayangnya hal tersebut terjadi beberapa dekade yang lewat. Kalau tidak salah di tahun 50-60-an.
Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Baiklah kita adakan kilas balik sejarah.
KILAS BALIK MASA KEEMASAN PERSEPAKBOLAAN INDONESIA
Di era sebelum tahun 50-an ketika ibu kota negara hijrah ke Yogyakarta karena masuknya NICA dengan mendompleng pasukan Sekutu yang menang perang Asia Timur Raya dari Jepang, dunia persepakbolaan kita belum apa-apa, masih dalam perkembangan. Bukan hanya dunia sepak bola. Dunia olahraga kita pun masih laksana anak kecil yang baru belajar berjalan.
Namun, dalam hal ini pemerintah kita tidak sedikit pun berputus asa. Bahkan benih-benih semangat nasionalisme dan patriotisme terus-menerus dikumandangkan dan ditempakan ke dalam sekujur nasion. Bahkan, untuk membangkitkan semangat perjuangan kaum perempuan, Presiden Sukarno secara berkala mengadakan kursus politik bagi kaum perempuan yang butir-butir kuliahnya dikumpulkan menjadi satu kitab Sarinah seperti yang sekarang kita kenal.
Mengikuti bait-bait lagu kebangsaan Indonesia Raya, yaitu ‘Bangunlah jiwanya bangunlah badannya’, secara bertahap tapi pasti Presiden Sukarno terus memompakan semangat nasionalisme dan patriotisme, termasuk di dalam dunia olahraga dengan melahirkan PON (Pekan Olahraga Nasional) yang pertama di Solo.
Dari situ lahirlah kemudian PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) yang merangkak setahap demi setahap menjadi satu kesebelasan (skuad) yang andal. Tahun 1949 pihak penjajah Belanda takluk menggigit debu dengan adanya pengakuan kedaulatan RI di seluruh kekuasaannya kecuali Papua (Irian Barat).
MASA KAWAH CANDRADIMUKA PERSEPAKBOLAAN INDONESIA
Pada era tahun 50-an di mana ibu kota RI kembali ke Jakarta atas inisiatif dan instruksi Presiden Sukarno, Menteri Olahraga Maladi diinstruksikan agar sesering mungkin mengundang kesebelasan-kesebelasan luar negeri untuk bertanding di Indonesia khususnya Jakarta. Sejak itu berdatanganlah. Setiap 2-3 bulan sekali kesebelasan-kesebelasan luar negeri seperti Aryan Gymkhana dari India, Dynamo Moskow dan Spartak Moskow dari Uni Soviet, serta kesebelasan nasional Yugoslavia dan sebagainya bertanding melawan PSSI, juga Persija, Persib, bahkan PSM dan Persebaya.
Lahirlah nama legendaris seperti Wilhelm Gottfried Parengkuan, Maulwi Saelan sebagai penjaga gawang; Ramang, Kiatsek, Tan Lionghow, juga dari Persebaya ada Sidhi, dari Persib Bandung ada Witarsa, dan seterusnya.
Untuk memberi semangat kepada skuad Indonesia, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta selalu hadir dalam pertandingan tersebut di atas. Bahkan, setiap turun main, Presiden Sukarno selalu menemui para pemain Indonesia di ruang ganti pakaian untuk memberi semangat juang mereka.
Kegiatan ini terus berjalan bahkan lebih dari itu secara pribadi Presiden Soekarno minta kepada sahabatnya, Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, agar dapat mengirimkan seorang pelatih yang andal untuk mempersiapkan PSSI menghadapi Olimpiade 1957 di Melbourne, Australia.
Tanpa berlama-lama masuklah tahap pengembangan dunia persepakbolaan Indonesia ke tahap pelatih Tony Pogacnik dari Yugoslavia, utusan Presiden Josip Broz Tito! Hasilnya menakjubkan, dunia persepakbolaan Indonesia meroket menjadi skuad yang terkuat di Asia Tenggara! Buktinya, di Olimpiade Melbourne, salah satu kquad terhebat dunia Uni Soviet ditahan sama kuat 0-0 oleh PSSI!
Belajar dari sejarah adalah penting; mahapenting!
Piala ASEAN 2026 akan berlangsung di luar agenda FIFA match day, sehingga klub-klub Eropa kemungkinan besar tidak akan melepas para pemain timnas Indonesia.
PSM Makassar harus menelan pil pahit setelah dikalahkan Bali United dengan skor 0-2 dalam lanjutan pekan ke-17 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora BJ Habibie, Jumat (9/1).
Pemain berdarah Belanda tersebut menambahkan, selain gengsi, laga menghadapi Macan Kemayoran juga cukup menentukan langkah serta kepercayaan diri Persib Bandung menatap sisa kompetisi.
Kemenangan ini mengokohkan Persita Tangerang di peringkat kelima klasemen sementara Super League dengan 31 poin dari 17 pertandingan.
Tindakan Martinelli lalu memancing ketegangan dari pemain Liverpool lainnya, yang kemudian dilanjutkan dengan adu mulut dan dorong-dorongan dari pemain kedua tim.
Villarreal berada di peringkat ketiga klasemen sementara dengan 38 poin dari 17 pertandingan, sedangkan Alaves menempati posisi 13 dengan 19 poin dari 18 laga.
Misi John Herdman memutus kutukan juara sekaligus menghapus memori kelam kegagalan Shin Tae-yong di Piala ASEAN 2024.
Piala ASEAN 2026 akan berlangsung di luar agenda FIFA match day, sehingga klub-klub Eropa kemungkinan besar tidak akan melepas para pemain timnas Indonesia.
Indonesia bukan lagi tim yang takut mendominasi penguasaan bola. Dengan "The Herdman Way", Garuda kini memiliki alat tempur yang modern: kecepatan, tekanan tinggi.
nam kali melangkah ke partai puncak, enam kali pula Garuda harus puas hanya menyentuh medali perak.
Berada satu grup dengan Vietnam selalu menghadirkan tensi tinggi. Sebagai juara bertahan edisi 2024, Vietnam tetap menjadi batu sandungan utama. Namun, bagi Indonesia.
Selain Indonesia, negara lain yang menjadi tuan rumah adalah Australia, Azerbaijan, Kazakhstan, Mauritius, Selandia Baru, Puerto Riko, Rwanda, dan Uzbekistan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved